Perbaiki Data Orang Miskin, Risma Bakal Jemput Bola ke Papua

new malang pos
Mensos Risma mengungkapkan perbaikan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) di Papua terkendala oleh akses jaringan internet. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).

Jakarta, NewMalangPos – Menteri Sosial Tri Rismaharini mengaku bakal jemput bola terkait perbaikan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) penerima bantuan sosial (bansos). Pasalnya, menurutnya, masih ada sejumlah daerah yang mengharuskan pembenahan data dilakukan secara luring (offline).

Risma menjelaskan, daerah-daerah yang perlu dikunjungi untuk perbaikan DTKS salah satunya Papua. Risma mengatakan setidaknya ada tujuh kabupaten di Papua yang berada di pegunungan yang akan ia kunjungi.

Menurut Risma, perbaikan DTKS sejumlah kabupaten di Papua itu terkendala akses jaringan internet. Oleh sebab itu, ia mengaku bakal membawa tim dari Jakarta ke Papua demi perbaikan DTKS.

Baca Juga :  Update Corona 28 November: Tambah 5.418, Total Kasus Positif Corona 527.999

“Kami harus jemput bola, termasuk di Papua itu ada 7 kabupaten yang sama sekali belum melakukan updating. Kami akan kesana,” kata Risma di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, seperti dilansir CNN Indonesia, Minggu (21/3).

Mantan Wali Kota Surabaya itu menargetkan perbaikan DTKS rampung akhir bulan ini. Sebab, ia sebelumnya menyampaikan bahwa April mendatang data baru DTKS sudah tersedia.

Menurut Risma, selain Papua, sampai saat ini perbaikan DTKS di beberapa daerah sudah mencapai 70 persen.

Lebih lanjut, menurutnya, perbaikan DTKS juga perlu diiringi oleh evaluasi, agar bisa menambah kuota daerah yang menerima bantuan sosial.

Baca Juga :  Panglima TNI Kerahkan 1.053 Prajurit ke Banjir Kalsel

“Jadi ada evaluasi itu kenapa kemudian kami bisa menambah kuota daerah, yang pertama ada beberapa data yang memang miss, kami kemudian harus perbaiki,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, menurut Risma pihaknya juga masih menemukan data DTKS penerima bantuan sosial yang belum diperbarui. Salah satunya mengenai data penerima yang sudah meninggal.

Menurutnya, saat ini pihaknya sudah memperbarui data tersebut, dan menemukan bahwa sekitar 320 ribu penerima bansos telah meninggal dunia.

“Kalau ternyata sudah tidak ada ahli warisnya lagi ya bisa diganti yang 320 ribu sekian. Jadi kami kumpulkan ada 600 ribu sekian yang meninggal, tapi kemudian kami update tinggal 320 ribu sekian karena ahli waris sudah enggak ada,” lanjut Risma.
(dmi/sfr/cnni/nmp)