Peran Santri Tanpa Batas, Siaga Jiwa Raga Lawan Penjajah Hingga Atasi Pandemi

Ketua PWNU Jawa Timur KH Marzuki Mustamar

NEW MALANG POS – Peranan santri dan pondok pesantren (ponpes) demi Bangsa Indonesia tak pernah diragukan. Keberadaanya membawa kemaslahatan umat muslim dan bangsa hingga kini.

Hari Santri yang diperingati Jumat (22/10) hari ini tepat dijadikan momen makin meningkatkan peran serta santri dan ponpes.
Hal tersebut disampaikan Ketua PWNU Jawa Timur KH Marzuki Mustamar.

Ia menerangkan selain saat ini gencar berkontribusi dalam memerangi pandemic Covid-19, semangat santri tidak lepas hanya di masa ini. Pesantren sejak lama memberikan banyak kontribusi bagi bangsa. Belajar dari sejarah, santri dan ulama dalam pesantren berperan luar biasa sejak memperjuangkan kemerdekaan, hingga mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia.

“Peran santri dan kiai diteladani mulai saat membebaskan negeri dari penjajah. Saat kaum abangan yang disebut paling nasionalis belum begitu mengerti berjihad, kiai dan pesantren dari dulu sudah terus berjuang bagaimana bisa melepaskan diri dari penjajah,” ungkap mantan Ketua PCNU Kota Malang ini kepada New Malang Pos, Kamis (21/10).

Kiai Marzuki menyerukan agar mengingat sejarah dan meneladani sikap dan perjuangan para ulama dan pesantren yang ada. “Kalau di Jawa ada gerakan Sultan Agung ulama dengan para santrinya, Diponegoro, ulama dan para santrinya, pasukan Hizbullah didirikan Hasyim Asy’ari yang juga ulama dan para santrinya, Pasukan Sabilillah yang dikomandoi Kiai Masjkur di Singosari. Begitu juga di Blitar Soeprijadi Komandan PETA yang hilang,” terangnya.

Baca Juga :  One Anniversary, NusaDaily.com Songsong Tantangan dengan Karya

Soeprijadi atau dikenal dengan nama Sodancoh Soeprijadi yang mengomandani pasukan Pembela Tanah Air (PETA). Belum lagi, sambung Marzuki, menelisik peran pondok pesantren di Malang yakni Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) Malang atau lebih dikenal sebagai Pondok Pesantren Gading Malang. Pesantren yang telah berdiri sejak abad 17 itu berada di Jalan Gading Pesantren Kota Malang. Saat ini telah diasuh pengasuh generasi keempat, yakni putra-putri KH. Muhammad Yahya.

“Sejak dulu sudah menjadi semacam markas di dalem KH M. Yahya untuk merencanakan strategi perjuangan. Termasuk bapak saya yang biasanya tugasnya bawa mortir di Blitar. Rata-rata gerakan para kiai,” jelas pengasuh Pondok Pesantren Sabiilul Rosyad, Gasek, Malang itu.

Baca Juga :  Rabu, Tiga Mega Proyek Diresmikan Sutiaji

Namun ia cukup menyayangkan bahwa tidak banyak perjalanan pesantren yang menjadi pembahasan utama dalam sejarah. Menurutnya dalam 30 tahunan orde baru hingga beberapa tahun setelahnya, peran ulama dan santri dalam upaya melepas bangsa dari penjajahan hampir tidak ada dalam lembar sejarah.

“Jarang sekali dalam sejarah perjuangan 10 November misalnya, padahal ada peran ulama dan pesantren di sana,” tambahnya. Meski begitu ia saat ini bersyukur lantaran pemerintah mulai mengangkat kepada khalayak dan memberikan respon positif tentang peran ulama dan santri.

“Ditandai dengan peringatan keluarnya Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari selaku Rois Akbar yang mana mewajibkan santri turut andil berjuang mengusir penjajah. Hari Santri 22 Oktober diperingati tepat keluarnya resolusi jihad itu menghargai peran ulama dan santri dalam memerdekakan,” papar Marzuki.

Disinggung mengenai kondisi saat ini di tengah pandemi, bagi Marzuki, peran santri tetap terus dilakukan. Baik berkontribusi dalam upaya penanganan Covid-19 dan perjuangan lain. Baginya, seperti diketahui pesantren terus aktif menjadi pendorong menyukseskan vaksinasi hingga memberikan bantuan-bantuan. Di antaranya imbauan yang diberikan NU melalui ulama, hingga para kiai yang terus mengampanyekan perlawanan pandemi, vaksinasi di pondok pesantren. Pun dengan tokoh agama yang menjadi contoh divaksin untuk pertama kali. Namun Kiai Marzuki menekankan santri tidak hanya sebatas kontribusi dalam masa sulit.

Baca Juga :  Panggilan Kemanusiaan di PMI

“Santri berperan bukan saat masalah pandemi atau tidak. Dari dulu dalam hal membela negara, dakwah dan membantu sesama hukumnya wajib terus dilakukan santri,” tegasnya.

Meski ia mengaku saat ini perhatian pemerintah kepada pondok pesantren diperlukan. Perhattian yang diberikan belum terlalu sebanding dengan sekolah negeri yang juga sama-sama mencetak lulusan dari lembaga pendidikan.

“Memang perhatian negara masih perlu dipertanyakan, lulusan pesantren juga ribuan, tetapi diperhatikan juga yang dibantukan negara. Tidak juga bermaksud mengeluh karena pesantren mampu mandiri. Namun kalau dibiarkan mungkin kurang baik untuk kehidupan berbangsa dan bernegara,” tukasnya. (tyo/van)

artikel Pilihan