PENGALAMAN HIDUP BERAT, MELAHIRKAN MANUSIA HEBAT

Puguh Wiji Pamungkas - Founder dan Owner RSU Wajak Husada

MALANG, NewMalangPos – Dalam sebuah bukunya The Story Of Success, Malcolm Gladwell menyampaikan hasil risetnya bahwa mereka yang sering muncul di televisi dan media massa, menjadi ilmuwan terkenal, seniman berpengaruh, ekonom terkemuka, para CEO yang berprestasi cemerlang, bahkan para peraih Nobel, mereka ternyata bukanlah orang-orang ber IQ tinggi.

          Rata-rata mereka dulunya adalah orang yang melewati masa sekolah dan kehidupannya dengan tidak mudah, penuh dengan situasi yang berat, rumit dan sulit dan banyak tantangan. Hidup mereka sangat familiar dengan kesalahan, kegagalan, kesulitan, terjepit, kerja keras, perjuangan dan survival.

          Siapa yang tidak mengenal Mozart, pria kelahiran 1756 yang terkenal sebagai seorang komponis ini. Mozart dianggap sebagai salah satu dari komponis musik klasik yang terpenting dan paling terkenal dalam sejarah. Pria yang lahir dan besar di Austria ini pada umur 5 tahun, ketika anak sebayanya masih bermain pasir dan rumah-rumahan, Mozart sudah menciptakan komposisi pertamanya. Itu cuma beberapa larik pendek yang dimainkan dengan piano. Tiga tahun kemudian, kala usia Mozart menginjak 8, simfoni pertamanya selesai ditulis.

          Namun tidak banyak orang tahu di balik kesuksesan dan kecemerlangan Mozart ternyata ada ekosistem dan budaya kerja yang disiplin dan tinggi. Bahkan dikisahkan dalam buku creative habbit, pada usia 28 tahun Mozart mengalami cedera di tangannya karena dia telah menghabiskan hampir seluruh waktu dan hidupnya untuk berlatih.

Baca Juga :  Forpimda Gandeng Perguruan Tinggi Bentuk Satgas Trauma Healing

          Dalam sebuah suratnya Mozart menuliskan pesan kepada temannya, “Orang-orang yang berfikir sempit menilai keahlian saya datang dengan mudah seperti turun dari langit atau bawaan lahir. Saya yakinkan anda wahai teman, bahwa tidak ada orang yang mengabadikan begitu banyak waktu dan latihan begitu keras dalam membuat komposisi seperti saya. Tidak ada master terkenal yang musiknya belum saya pelajari berkali-kali dengan penuh kesunguhan.”

          Fokus Mozart sangat kuat, ia memaksa dirinya berada dalam tempaan latihan untuk menghasilkan karya-karya penting. Bahwa kegeniusan Mozart, keagungan dan kehormatan yang dimiliki oleh Mozart adalah hasil dari Disiplin dan Etos kerja yang sempurna dalam dirinya.

          Dialah Ricard Branson, taipan asal Inggris yang memiliki lebih dari 400 perusahaan di bawah bendera Virgin Group, yang beberapa bulan lalu dia mempublish perjalanannya ke luar angkasa dan sekaligus menawarkan sebuah paket wisata ke luar angkasa ini adalah salah satu contoh nyata bahwa betapa semua situasi yang sulit, rumit dan imposible itu bisa menjadi kesuksesan jika dibarengi dengan kegigihan dan ethos pantang menyerah.

          Branson kecil dilahirkan dengan penyakit disleksia. Dia putus sekolah karena penyakit ini, dia putus sekolah karena tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik disebabkan penyakit disleksia. Tepatnya di usia 16 tahun, atas motivasi dan dorongan yang kuat ia mengawali bisnis pertamanya dengan menerbitkan sebuah majalah bernama student.

Baca Juga :  Graffiti Flyover Kedungkandang Jadi Kado HUT ke -107 Kota Malang

          Di sinilah awal dari kesuksesan Branson, pria yang menurut data Forbes memiliki kekayaan 5,2 Milliar dolar di bawah bendera Virgin Group ini menjadi seorang Taipan di Inggris karena harapan yang digantungkannya sejak saat dia divonis memiliki penyakit disleksia dan tidak bisa bersekolah secara normal.

          Ada beberapa cara agar diri kita memiliki kompetensi yang memadai dan siap bertarung dikerasnya zaman, agar kita bisa menjadi seperti kisah sukses Mozart dan Ricard Branson  di atas, agar pengalam hidup yang cukup berat itu mampu menjadikan kita sebagai manusia hebat dan berprestasi di kemudian hari.

          Pertama, Biasakan untuk terus mengekspose diri dengan tantangan-tantangan baru, pelajari pola di tantangan yang baru itu dan jadikan insight yang berarti. Kedua, Mintalah masukan dan kritik dari orang-orang kritis, jangan alergi dengan kritik, jangan resisten dengan masukan-masukan.

          Hilangkan bayang-bayang kompetensi dan bayang-bayang senioritas dalam diri kita. Belum tentu orang yang lebih junior dari kita ilmunya lebih sedikit, begitu juga belum tentu kompetensi yang kita miliki adalah segalanya. Bisa jadi banyak di luar kita orang yang lebih kompeten dalam ilmu yang lain.

Baca Juga :  Malang Jejeg Optimis Ikut Pilkada, Administrasi Sandi dan Ladub Beres

          Ketiga, Biasakan melakukan hal-hal sulit yang tidak mau dikerjakan orang lain. Misalnya dengan meminta target tinggi, angka-angka target yang memaksa, agar diri kita familiar dengan tindakan-tindakan yang menantang dan bersahabat dengan situasi-situasi frustrasi untuk mencapai targetan-targetan itu. Keempat, Datangilah orang-orang yang sukses dan bergurulah padanya.

          Ada sebuah ungkapan bahwa, “pengalaman hidup yang berat akan melahirkan manusia yang hebat.” Pandemi dan krisis yang terjadi saat ini adalah sebuah momentum bagi kita semua untuk menempa diri se keras-kerasnya. Memeras diri sekuat-kuatnya dan memaksa diri seoptimal mungkin, agar kita bisa berhasil dan lulus dari ujian krisis yang tidak berujung saat ini.

          Setiap orang yang hidup pada situasi krisis dan wabah saat ini sejatinya adalah manusia pilihan yang jika kita bisa berhasil melewatinya, maka kita akan mampu memiliki pengalaman hidup yang berkualitas.

          Kita akan menjadi manusia yang terlahir dari ujian tertinggi dalam kehidupan, dan kita akan menjadi manusia sukses sebagaimana riset Malcolm Gladwell, bahwa manusia sukses itu terlahir dari situasi yang sulit, kondisi yang berat, keadaan yang rumit dan ethos perilaku yang pantang menyerah dengan keadaan yang ada.(*)

Pilihan Pembaca