UTBK Berkomitmen Perketat Protokol Kesehatan

Kegalauan dan kemelut penyelenggaraan bakal menggelar Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) melalui skema Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) tahun 2020, intensitas pro kontra penyelenggaraannya di Kota Malang cukup menghangat dan kini sudah terjawab. Kontradiksi penyelenggaraan UTBK ini wajar saja kalau terjadi nervous atau kecemasan pada kalangan calon mahasiswa baru, karena mereka belum ada suatu kepastian mengikuti UTBK di Kota Malang yang masih zona merah.

Selain adanya potensi kerumunan massa dari calon mahasiswa baru, hal yang tidak boleh dianggap enteng adalah keberadaan pedagang kaki lima (PKL) pada saat pelaksanaan UTBK. Pada pelaksanaan tahun sebelumnya, PKL akan memasuki area universitas pada saat pelaksanaan UTBK, belum lagi para supporter yang mengantarkan tes ke kampus. Namun demikian, Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Negeri Malang (UM) akhirnya menggelar UTBK dengan suatu keharusan menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 secara ketat. 

 Apa kondisi yang diberlakukan pemerintah daerah ini sebagai upaya proses menuju sterilisasi wilayah yang aman dari datangnya wabah atau justru menimbulkan potensi wabah baru karena hadirnya pendatang dari berbagai macam daerah di Indonesia? 

Seperti kita ketahui, memasuki tahun ajaran baru senantiasa menimbulkan situasi yang meresahkan, terutama di kalangan siswa yang baru lulus SMA/MA/SMK. Hal itu ditandai dengan masuknya lulusan tersebut ke jenjang pendidikan lebih tinggi yakni memburu Perguruan Tinggi Negeri favorit. Namun sekarang ini, justru yang menjadi permasalahan terletak pada pelaksanaan ujiannya, apa mungkin bisa didatangi kota penyelenggara UTBK yang dituju untuk mengikuti tes.

Jika tidak bisa mengikuti tes karena aturan protokol kesehatan dimana di daerahnya yang masih memberlakukan melarang ke luar kota, sehingga hal ini menjadi problem solving. Namun demikian, panitia UTBK memberikan kelonggaran untuk yang terkendala kasus Covid-19 dengan penyelenggaraan relokasi di daerahnya. Apakah realita ini suatu solusi strategis untuk menengarahi para peserta yang gagal mengikuti UTBK karena alasan Covid-19 justru menjadi suatu peluang?

Munculnya wabah virus Corona ini semakin mengurai ketidakpastian  pemerintah dalam mengambil kebijakan sektor pendidikan,  yakni dalam penerapan kurikulum, penyelenggaraan pendidikan, model ujian nasional yang senantiasa berubah hingga dihapuskannya ujian nasional? Dari kurikulum yang pertama (Kurikulum 1968) hingga yang Kurikulum 2013, di sini tampak ada degenerasi dalam hal tujuan utama visi pendidikan.

Praksis (praktik dan refleksi) pendidikan semakin tidak berorientasi pada pendidikan anak yang membebaskan, tetapi lebih pada impuls kepentingan sepihak. Hal ini semakin dirasakan kalangan masyarakat yang secara sistemik tidak bisa menerima pola pendidikan yang tidak menentu. Orang tua sudah membiayai pendidikan anaknya, namun Covid-19 yang menggerus masa belajar-mengajar sehingga terjadi lockdown yang berdampak sekolah diliburkan dan sekolah ataupun kuliah menggunakan sistem daring.  

Komitmen Protokol Kesehatan

Komitmen untuk menggelar Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) – Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) di Kota Malang yang ditengarahi masuknya para peserta UTBK dari luar Kota Malang harus menjadi perhatian dan harus ada solusi penanganannya. Sementara itu situasi yang mengkhawatirkan ini dapat menimbulkan klaster Covid-19 baru, kondisi inilah yang mengharuskan gugus tugas di masing-masing universitas untuk tetap waspada.

Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Kota Malang Jawa Timur, yang menggelar UTBK – SBMPTN wajib memperketat penerapan protokol kesehatan, hal ini untuk menekan penyebaran virus Corona (Covid-19). Peserta UTBK dari wilayah luar Malang Raya patut menjadi perhatian karena memiliki risiko terkait penyebaran Covid-19.

Dengan bergulirnya UTBK di Kota Malang seperti menambah kepecayaan bagi kampus UB dan UM untuk komitmen menyelenggarakan UTBK secara bersih, sehat, nyaman, dan aman dengan mengikuti protokol kesehatan. Tidak ada lagi yang perlu dicemaskan pada penyelenggaraan UTBK karena intensitasnya jaminan keamanan yang menjadi keraguan akan ditepis oleh perlakuan Tim Protokoler Satgas Covid-19 di masing-masing perguruan tinggi negeri sebagai penyelenggara. Hal itu rasional dan obyektif, tetapi hal itu berdampak harus mengeluarkan “kocek” lagi untuk mem-backup dana penanganan Covid-19 yang akan dibuat membiayai protokol kesehatan pada kampus penyelenggara.

Berkaitan dengan protokol kesehatan, aturan yang diberlakukan universitas penyelenggra UTBK terhadap peserta untuk mengikuti ujian, dengan ketentuan yaitu: Pertama, hanya peserta yang sehat (bebas dari Covid-19) yang diperkenankan mengikuti UTBK. Kedua, peserta dianjurkan untuk melakukan isolasi mandiri sejak saat ini atau mulai 14 hari sebelum pelaksanaan UTBK. Ketiga, sebelum berangkat, peserta diharuskan dalam kondisi bersih (dengan mandi dan cuci rambut) serta menjaga kebersihan. Keempat, menyiapkan berbagai dokumen yang diperlukan agar dapat sampai pada tujuan dan melaksanakan ujian. Misalnya surat tanda pengenal, fotokopi ijazah atau surat keterangan lulus, dan kartu peserta ujian.

Kelima, pada hari pelaksanaan ujian, peserta tidak diperkenankan mampir ke tempat lain selain ke tempat UTBK. Keenam, pengantar menurunkan peserta di “drop zone” dan tidak diperkenankan menunggu peserta di dalam kampus dan peserta yang membawa kendaraan sendiri juga disediakan lahan parkir. Ketujuh, tidak berinteraksi dengan peserta lain. Kedelapan,  mengikuti protokol kesehatan mulai dari pengukuran suhu, cuci tangan, pakai masker dan faceshield, serta sarung tangan.

Hal ini menjadi penting untuk berkomitmen terhadap pengetatan protokol kesehatan sebagai suatu langkah untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan UTBK di Kota Malang agar terselenggara dengan baik sesuai yang diharapkan. Semangat Tim Satgas Cocvid-19 di kampus dianggap sebagai garda depan yang bersifat emergency tanggap kesehatan untuk menepis kegalauan penyelenggaraan UTBK yang dianggap dilematis.  

Oleh karena itu, dalam menghadapi wabah virus Corona yang belum reda ini, semangat stakeholders di kampus harus dibumikan untuk mendapatkan kepercayaan dari pemerintah dan publik bahwa “UTBK berhasil sukses diselenggarakan di kota yang berzona merah” dengan baik, lancar, dan aman.(*)