Sukses Antarkan ITN Malang Menjadi Kampus Unggul

Mendiang Prof. Dr. Ir. Kustamar, MT

NewMalangPos, MALANG-Baru dua tahun menjabat sebagai rektor, Prof. Dr. Ir. Kustamar, MT telah berhasil memberikan perubahan yang nyata bagi ITN Malang. Prestasi cemerlangnya yang terakhir membawa ITN Malang sebagai Perguruan Tinggi Swasta Terbaik kategori institute di Jawa Timur. Dari prestasi tersebut ITN Malang meraih anugerah kampus unggulan.

Masih banyak lagi prestasi yang dicapai oleh Kustamar. Ia juga berhasil meningkatkan nilai akreditasi kampus, baik tingkat prodi maupun institusi. Termasuk juga prestasi-prestasi dosen dan mahasiswa yang tidak lepas dari binaan dan motivasinya sebagai rektor. Baik berupa hasil riset, luaran, buku dan kejuaraan di berbagai kompetisi.

Kustamar, dikenal sebagai sosok yang kalem. Tidak banyak bicara. Menjawab pertanyaan wartawan pun to the point, tidak berbelit-belit. Memang seperti itulah karakter suami dari Ari Mukti ini. Di balik sikapnya yang pendiam, ia adalah pemikir ulung. Tidak sedikit ide-ide kreatif dan pemikiran strategis yang dicetuskannya. Tidak lain untuk kemajuan ITN Malang dan masyarakat pada umumnya.       

Kini, sosok hebat itu sudah tiada. Senin (8/2) kemarin, berpulang ke hadirat Ilahi Robbi. Tepatnya pukul 03.00 WIB. Kustamar wafat dengan sakit yang dideritanya cukup lama. Karena kepergiannya, banyak kalangan yang merasa kehilangan, terutama Civitas Akademika ITN Malang. 

Seperti yang dirasakana oleh Ketua P2PUTN Malang Ir. Kartiko Ardi Widodo, MT. Dengan suara terisak menahan tangis, Kartiko menyampaikan rasa duka yang mendalam. “Salah satu putera terbaik bangsa dan putera terbaik ITN Malang sudah wafat. Kita semua merasa kehilangan atas kepergian Prof Kustamar,” ujarnya.

Kartiko mengungkapkan, pengabdian Kustamar begitu luar biasa. Di masa tugasnya sebagai rektor, banyak yang telah dicapai oleh ITN Malang. 

“Beliau memang tipikal orang yang pendiam. Diamnya itu bukan tidak tau. Tapi berpikir keras untuk memajukan ITN Malang. Terimakasih atas pengabdian almarhum selama ini,” ungkapnya.

Prof. Dr. Ir. Kustamar, MT lahir di Blitar tahun 1964. Ia menempuh jenjang Pendidikan S-1 di ITN Malang, S-2 di Universitas Gajah Mada dan S-3 di Universitas Brawijaya. Almarhum wafat di usia 57 tahun. Dengan meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak.

Wali Kota Malang Drs. Sutiaji juga menyampaikan rasa dukanya atas kepergian Rektor ITN Malang Prof. Dr. Ir. Kustamar, MT. Ia turut kehilangan sosok yang sangat inspiratif dari kalangan akademisi. Sutiaji mengenal Kustamar sebagai sosok yang luar biasa. Tidak banyak bicara tapi pekerja keras. “Beliau sosok yang tidak banyak ngomong, tapi kerja kerja dan kerja,” ucapnya.

Sutiaji melepas jenazah sang rektor di kediaman almarhum, Jalan Simpang Adi Sucipto RT 10 RW 5 Kelurahan Pandanwani. Raut wajah Sutiaji terlihat begitu sedih, tampak merasakan kehilangan yang begitu medalam.

“Beliau saintis yang telah memberikan banyak kontribusi. Kami banyak terbantu karya nyata beliau untuk membangun Kota Malang. Termasuk dengan ide dan pemikiran strategis melalui kajian dan diskusi ilmiah,” terangnya.

Di sisi lain, sebagai rector, Kustamar telah menjadi mediator yang bagus untuk membangun kerjasama pentahelix. Dengan kebijakannya itu, tidak jarang kerjasama dibangun antara ITN Malang dan pemerintah Kota Malang. Baik dalam bidang riset atau pengabdian masyarakat. 

Dalam sambutannya, Sutiaji menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Malang saat ini merasakan dua duka. Pertama duka kehilangan sosok hebat yang komitmennya kuat serta konsisten dalam membangun SDM yang unggul. Kedua, rasa duka sebagai bagian dari keluarga besar PDAM Kota Malang.

“Allah telah merencanakan yang lebih baik untuk beliau. Semoga almarhum dapat menuai dan menikmati apa yang sudah ditanam selama ini. Berupa ilmu, amal dan pengabdian yang tulus. Kami atas nama pemerintahan Kota Malang, menyampaikan rasa duka yang mendalam,” ungkapnya.

Tepat pukul 10.35 WIB, kemarin, jenazah Kustamar diberangkatkan ke TPU Ammassur – Jambangan. Sebelum berangkat, Sutiaji meminta para hadirin untuk bersama-sama menjadi saksi bahwa almarhum sosok yang baik.  “Kita semua menjadi saksi di hadapan Allah,” tutupnya. (imm/jon)