SMK Widyagama Malang Miliki 26 Produk Kreatif dan Startup Bisnis

new malang pos
Siswa-siswi SMK Widyagama Malang, dalam sebuah kegiatan pameran produk kreatif

NewMalangPos, MALANG – SMK Widyagama Malang punya 26 produk kreatif dan startup bisnis. Hasil inovasi dan kreativitas para siswa. Bahkan bulan lalu, produk-produk itu dilaunching oleh Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur wilayah Kota Malang dan Kota Batu.

Itu membuktikan bahwa SMK Widyagama serius untuk maju dengan program unggulannya, kewirausahaan. Slogan sekolah ini, satu siswa satu usaha dan berjalan sudah satu tahun terakhir.

Kepala SMK Widyagama Malang Drs. Mawan Suliyadi, M.Pd mengatakan, untuk program kewirausahaan dan startup bisnis ini SMK Widyagama mendapat bantuan dana dari Dirjen P-SMK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebesar Rp 50 juta.

Program Kewirausahaan SMK Widyagama ini dijalankan dalam satu wadah bernama Badan Layanan Usaha Sekolah (BLUS). Siswa mendapat sepuluh persen dari keuntungan yang didapat. Sebagai penghargaan sekaligus motivasi agar mereka semangat menjalankan usahanya.

“Jadi selama satu tahun terakhir anak-anak kami sudah punya penghasilan sendiri dari unit usaha yang mereka jalankan,” katanya.

Mawan menjelaskan sekolah punya strategi agar program kewirausahaan siswa berjalan dengan baik. Salah satunya, orang tua wali siswa diwajibkan untuk belanja pada anaknya atau teman-teman dari anaknya.

Segala kebutuhan pokok, berupaya sembako, pulsa, token listrik, servis motor dan lain sebagainya, bisa dilayani. Tidak banyak nominal yang harus dibelanjakan. Minimal 350 ribu rupiah selama satu semester.

Dalam transaksi jual beli, siswa wajib menyediakan kwitansi sebagai bukti pembayaran. Kwitansi yang terkumpul dari hasil belanja tersebut menjadi syarat untuk mengambil raport.

Dengan melibatkan orang tua atau keluarga, sirkulasi keuangan bisnis yang dijalankan siswa terus berputar. Guru terus memonitor dan mendampingi, termasuk dalam membuat laporan keuangan. “Jangan melihat berapa nominal yang kami wajibkan. Jumlah itu tidak seberapa. Untuk token listrik saja mungkin hanya cukup tiga bulan. Yang lebih dipentingkan, pengalaman dan pendidikan untuk anak” sambungnya.

Mawan menambahkan, bahwa keuntungan usaha yang dijalankan dalam BLUS tidak lain untuk siswa sendiri. Mereka digaji dari pendapatan usaha itu. Oleh karenanya, dari pada berbelanja di mini market akan lebih bermanfaat kalau dibelanjakan di anak sendiri.

Karena semua kebutuhan bisa terlayani oleh siswa secara kolaboratif. Dan regulasi ini menjadi terobosan usaha yang sangat luar biasa. Sebagai ajang latihan pendidikan bagi siswa. “Karena ini untuk kepentingan anak-anak, keuntungannya bukan semata-mata untuk sekolah,” sambungnya.

Bagi orang tua dan siswa dengan jumlah nominal belanja terbanyak dalam satu semester, akan mendapat penghargaan dari sekolah. “Jadi sekali lagi kembali ke siswa. Kami hanya mengelola tidak mengambil keuntungan,” tegasnya. (imm/jon)