Penuh Tantangan, Kuncinya Kebersamaan dan Saling Terbuka

NEW MALANG POS, MALANG-Sejak Mei 2020 lalu, SMAN Taruna Nala memiliki kepala sekolah baru. Tentu saja siapa pun yang ditunjuk memimpin sekolah ini bukan sosok sembarangan. Setidaknya memiliki segudang pengalaman dan lama malang-melintang di dunia pendidikan.

Adalah Hari Wahjono, S.Pd., M.Pd. Pria kelahiran Surabaya, 16 September 1967 ini pengalamannya sudah tidak diragukan lagi. Kepada New Malang Pos, Hari sapaan akrabnya menuturkan beberapa pengalamannya sebelum di SMAN Taruna Nala.

Selama lima tahun Hari Wahjono rela menempuh perjalanan jauh antara Kota Malang dan Tosari Kabupaten Pasuruan. Setiap hari ia harus menempuh jarak 70 kilometer. Karena sejak tahun 2014 hingga April 2019 ia menjabat sebagai Kepala SMAN 1 Tosari.

Sementara rumah tempat tinggalnya di kawasan Tasikmadu, Kota Malang. Ia juga enggan punya rumah di Tosari. Pertimbangannya adalah pendidikan putra putrinya.

“Orientasi saya adalah pendidikan anak-anak. Saya ingin menyekolahkan mereka di Kota Malang, sebagai Kota Pendidikan,” katanya.

Medan ke Tosari pun tidak biasa karena bisa dibilang naik turun bukit. Tak heran jika Hari Wahjono harus menggunakan kuda besi berupa motor trail untuk perjalanannya yang menantang. “Saya menikmati saja. Ini bentuk tanggung jawab saya sebagai abdi negara,” ungkapnya.

Sebelumnya, pria ramah ini menjadi guru di SMAN 1 Kejayan Kabupaten Pasuruan. Di sekolah tersebut ia mengabdi selama 14 tahun dimulai pada tahun 2000. Namun jauh sebelum itu, Hari sudah menjadi guru salah satu sekolah di Timor Leste.

Yakni saat pertama diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil pada tahun 1989. Saat itu usianya 21 tahun. Sebelum akhirnya Timor Timur memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang kini bernama Timor Leste. Di sana Hari juga tidak sebentar. Selama 14 tahun ia mengabdi untuk pendidikan anak bangsa.

Hingga pada April 2019, suami dari Evi Nurliana ini dipercaya Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur menjadi Kepala SMAN 6 Malang. Tentu saja kepercayaan tersebut menjadi kejutan yang menggembirakan.

Baginya, mendapat tugas di Malang adalah jawaban dari doa yang selalu ia panjatkan. Terutama doa saat menjalankan ibadah umrah.

“Bagi saya ini adalah anugerah. Kami selalu berdoa untuk bisa mendapat tempat tugas yang dekat dengan keluarga,” tandasnya.

Dan ternyata, menjadi Kepala SMAN 6 Malang tidak lama. Belum genap satu tahun saja, Hari Wahjono dilantik menjadi Kepala SMAN Taruna Nala Jawa Timur, tepatnya pada Mei 2020. Di sekolah ini ia bersinergi dengan TNI Angkatan Laut.

“Tidak ada bayangan sama sekali harus jadi kepala SMAN Taruna. Tapi kami pasrahkan saja pada Yang Kuasa. Ini jalan saya sebagai abdi negara. Harus siap ditempatkan dimanapun dan menjalankan tugas dengan penuh amanah,” tutur ayah dari dua putri dan satu putra ini.

Sifatnya yang begitu humanis dan low profile membuatnya tertantang untuk dapat bekerjasama dengan TNI yang dikenal tegas dan disiplin. Ia harus cepat beradaptasi, bekerja cepat namun penuh perhitungan.

Perubahan dan program strategis dilakukan agar SMAN Taruna Nala semakin hebat. “Kuncinya adalah kerja sama tim. Pertama menata internal manajemen agar bisa kerja sama dengan kompak dan bersinergi,” tegasnya.

Menurut mahasiswa S3 Manajemen Universitas Negeri Malang (UM) ini, kunci sukses sebuah organisasi atau manajemen adalah kebersamaan dan saling terbuka. Maka sikap yang tepat dari seorang pemimpin adalah demokratis.

“Sosialisasi antar rekan kerja itu penting dan saya sendiri tidak suka diktator dan semena-mena. Harus dirembuk bersama,” terangnya.

Hari menambahkan, menjadi kepala SMAN Taruna Nala tidak mudah. Penuh dengan tantangan. Apalagi harus memadukan antara manajemen sekolah dengan manajemen asrama.

Membina siswa dari pagi hingga petang. Bahkan di malam hari pun ada opening class bagi siswa yang masih merasa kesulitan dalam pembelajaran.

“Kuncinya di kerjasama tim yang solid karena butuh pemikiran dan kerja yang ekstra,” tandasnya.

Kerja keras dan tugas yang banyak kadangkala membuat seseorang tertekan. Di saat itu butuh refreshing. Demikian juga dengan Hari.

Untuk menghilangkan stress karena banyaknya pekerjaan, ia mengajak rekan guru untuk saling silaturrahmi dengan acara tambahan makan bersama.

Sesekali Hari juga menghibur diri dengan olah raga badminton dan pergi mancing. Di akhir pekan ada Me Time bersama keluarga. “Dengan begitu beban kita lebih ringan,” tambahnya. 

Target Hari ke depan menjadikan SMAN Taruna Nala lebih hebat dan semakin dikenal oleh masyarakat. Utamanya warga Malang Raya. Dan yang tak kalah penting kata dia, kesejahteraan guru. “Kita hidup harus bermanfaat untuk orang lain dengan tetap berserah diri pada Allah,” pungkasnya. (imm/sir/jon)