Pengabdian Pada Masyarakat Dosen FT UM; Ciptakan Running Text Berbasis IoT di Wisata Bedengan

NEW MALANG POS, MALANG-Dalam pengembangan sektor pariwisata, pemberdayaan masyarakat atau komunitas lokal menjadi paradigma yang sangat penting. Keterlibatan masyarakat sekitar terhadap pengembangan sumber daya wisata sangat perlu dilakukan. Karena peran serta komunitas dan masyarakat menjadi penentu majunya sektor wisata di suatu tempat.

Misalnya ikut serta menjaga kelestarian alam, keamanan dan tatanan budaya. Tanpa peran tersebut bisa dikatakan mustahil sebuah destinasi wisata dapat bertahan atau berkembang.

Untuk mempermudah tugas dan peran tersebut perlu adanya sentuhan teknologi. Seperti media informasi tentang kondisi terkini lingkungan wisata. Baik itu kondisi air, kualitas udara dan lain sebagainya.

SINERGI: Tim dosen pengabdian pada masyarakat bersama mitra di kawasan Desa Wisata Bedengan.

Untuk menjaga kelestarian alam, maka dibutuhkan alat yang dapat memonitor kondisi lingkungan seperti kualitas udara di kawasan wisata.

Hal tersebut menjadi landasan kegiatan pengabdian masyarakat oleh Tim Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang (UM). Dengan dukungan penuh dari LP2M UM, tim dosen melakukan penelitian. Mereka memantau kualitas udara di kawasan Wisata Bumi Perkemahan Bedengan.

Tim pengabdian terdiri dari lima dosen.  Q. Alief S., S.T., M.T sebagai ketua tim bersama dengan anggota tim, yakni Aji Prasetya W, Ph.D., Langlang G., S.ST., M.T., Soraya N. M., S.T., M.Sc, dan Harits Ar Rosyid, Ph.D.

Q. Alief S., S.T., M.T menjelaskan, timnya mendesain sistem monitoring lingkungan untuk menganalisa kualitas udara lingkungan secara realtime. Sistem monitoring diimplementasikan berupa running text yang dapat memantau kualitas suhu, kelembaban dan asap udara.

Alat tersebut didesain dengan teknologi kini sehingga lebih mudah mengoperasikan. Yakni dengan  mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT). “Dengan sistem terintegrasi IoT kita dapat mengoperasikan dari jarak jauh menggunakan smartphone,” terangnya.

Selain menampilkan data secara realtime, alat dapat difungsikan sebagai media pengumuman berupa teks atau gambar berwarna. Dengan demikian informasi dengan desain running text ini dapat terlihat jelas terutama di malam hari.

Alief menerangkan, pengabdian yang dilakukan timnya menggunakan model ADDIE yakni Analysis, Design, Develop, Implement and Evaluate. Pada tahap analisis, tim telah menganalisa studi literatur dan studi kondisi lapangan.

Sedangkan Design dan Develop adalah perancangan dan pembangunan tidak hanya di sistem elektrik serta hardwarenya, tetapi juga di bagian software alat. Dengan demikian bisa menampilkan pengumuman.

“Dan di running text itu juga petugas bisa menampilkan suhu, kelembaban dan asap udara. Sehingga dapat memantau kondisi lingkungan sesuai harapan,” tambahnya.

Adapun tahap implementation dilakukan  dengan pengujian langsung di kawasan Wisata Bumi Perkemahan Bedengan. Pengujian akan dilakukan berulang minimal selama dua bulan untuk memastikan alat dapat bekerja dengan baik.

Alief menambahkan, di tahap evaluation dilakukan saat mengevaluasi sistem secara keseluruhan. Tim melakukan perbaikan sekiranya ada permasalahan.

Alat tersebut telah diserahkan pada akhir Bulan November 2020. Tim pengabdian juga telah melakukan sosialisasi produk guna meningkatkan kualitas manajemen dan layanan wisata di lokasi Desa Mitra Bedengan.

“Sosialisasi ini dilakukan supaya pengelola dengan mudah dapat merawat alat sistem monitoring lingkungan ini,” terangnya.

Ia berharap dengan bantuan alat tersebut udara yang sejuk dengan pemandangan alam yang indah sebagai aset Wisata Bedengan dapat terjaga.

Informasi mengenai suhu, kelembaban dan asap udara yang tampil di alat dapat menjadi salah satu  indikator adanya polusi udara yang diakibatkan oleh kebakaran atau yang lain.

“Sehingga alat ini juga bisa menjadi pengontrol warga desa untuk bisa mengawasi keadaan di daerah wisata,” pungkasnya. (imm/adv/jon)