Kaji Dapur Poncokusumo Dosen ITN Lulus Disertasi

new malang pos
Dosen Teknik Arsitektur ITN Malang Debby Budi Susanti, ST., MT mempresentasikan hasil penelitiannya secara virtual kepada para penguji di Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya. (NMP-IMAM)

NewMalangPos, MALANG-Dosen Teknik Arsitektur ITN Malang Debby Budi Susanti, ST., MT., menyelesaikan ujian terbuka disertasinya. Dalam penelitiannya ia mengangkat konsepsi konfigurasi ruang dapur di tempat hunian masyarakat Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Debby, merupakan mahasiswa S-3 Program Doktor Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya. Ia dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan.

Tim pengujinya adalah Prof. Ir. Respati Wikantiyoso, MSA., Ph.D. Penguji I Dr. Ir. Sri Utami, MT dan penguji II Dr. Wara Indira Rukmi, ST., MT.  Selaku promotor yaitu Prof. Ir. Antariksa, M.Eng., Ph.D, ko-promotor Dr. Lisa Dwi Wulandari, ST.MT., dan Ir. Jenny Ernawati, MSP., Ph.D. 

Saat ujian terbuka disertasi, Debby Budi Susanti menjelaskan tujuan penelitiannya untuk mengetahui pola konfigurasi ruang hunian yang ada di masyarakat Kecamatan Poncokusumo, fokusnya pada ruang dapur. Debby tertarik meneliti ruang dapur. Terlebih di masyarakat poncokusumo, yang menurutnya memiliki keunikan tersendiri.

Disana dapur tidak hanya sebagai tempat masak. Tetapi juga sebagai ruang tamu atau ruang keluarga. “Saya melihat kunikan rumah di masyarakat Desa Poncokusumo, dapurnya juga digunakan sebagai ruang tamu. Bagi saya itu sesuatu yang unik. Karena selama ini ruang dapur selalu diletekkan di belakang sebagai ruang yang kotor dan dikesampingkan,” ungkapnya.

Keunikan itulah yang menjadi salah satu yang melatarbelakangi penelitian Debby. Konfigurasi ruang hunian sesuai dengan adat dan budaya masyarakat. Selanjutnya dari konfigurasi itu diketahui pengaruhnya terhadap dinamika konsepsi ruang dapur dalam rumah.

Kajian teori yang dari penelitianya, Debby menggunakan teori Maslow dengan empat komponen. Yaitu kebutuhan fisik, kebutuhan keamanan, kebutuhan kepemilikan dan kebutuhan aktualisasi diri.  Setiap kebutuhan itu diterjemahkan dengan teori Habraken. Kemudian data tersebut dibaca dengan teori Rapoport sebagai analisa ruang dapur. Antara lain sebagai pola sirkulasi, elemen pendukung dan aktivitas pengguna.

Debby menjelaskan berdasarkan pengaruh fungsinya, konsepsi ruang dapur terdiri dari empat macam kriteria. Yaitu sebagai ruang mengolah bahan makanan, sebagai ruang makan, ruang komunal dan area untuk menghangatkan badan.

“Kriteria dapur sebagai ruang komunal  sudah dipraktikkan oleh warga Poncokusumo, mereka punya kebiasaan berkumpul di ruang dapur. Karena pengaruh dari budaya leluhur,” terangnya.

Ditinjau dari konsepsi ruang dapur dalam konfigurasi ruang hunian, fungsi dapur yang diterapkan warga Poncokusumo termasuk pada high level meaning. Yang artinya, ruang dapur menjadi pusat atau ruang utama dari aktifitas. Tidak sekadar dimaknai sebagai ruang servis.

“Sebuah ruang akan mempunyai makna yang lebih tinggi ketika pengguna bangunan memberikan fungsi lebih dan memposisikannya sebagai ruang utama pada sebuah rumah,” tandasnya. (imm/jon)