ITN Malang Siap Terapkan Hybrid Learning

new malang pos
Wakil Rektor I Bidang Akademik ITN Malang, Dr. F Yudi Limpraptono ST., MT

NewMalangPos, MALANG-Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang berencana menerapkan sistem pembelajaran hybrid learning (pembelajaran campuran) pada pertengahan semester genap 2020/2021 mendatang. Melalui rapat pimpinan ITN Malang keputusan tersebut diambil karena dianggap stategis untuk diterapkan pada kondisi pandemi seperti saat ini.

Keputusan ini juga mengacu Surat Edaran Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menyebutkan bahwa pembelajaran dapat diselenggarakan secara campuran – tatap muka dan dalam jaringan (hybrid learning). Dengan tetap memprioritaskan kesehatan dan keselamatan civitas akademika serta masyarakat sekitarnya.

Dikatakan Wakil Rektor I Bidang Akademik Dr. F Yudi Limpraptono ST., MT, pimpinan memutuskan bahwa proses pembelajaran semester genap dari minggu pertama sampai minggu ke delapan dilakukan secara daring. Kemudian dilanjut minggu ke sembilan sampai minggu ke 14 pembelajaran akan dilakukan secara luring (tatap muka).

“Setengah semester pertama minggu pertama sampai ke delapan pembelajaran masih tetap daring. Setengah semester berikutnya minggu ke sembilan sampai 14 akan kami putuskan sambil melihat situasi. Kalau situasi memungkinkan, maka minggu ke sembilan sampai akhir semester pembelajaran dan praktikum bisa dilakukan secara luring,” terang Yudi, siang kemarin.

Ia menjelaskan hybrid learning merupakan pembelajaran yang mengkombinasikan sistem daring dan luring. Sistem ini nantinya bisa ikut memperbaiki pembelajaran daring dua semester yang lalu. Kelebihan hybrid learning lainnya karena ada tatap muka. Maka jauh lebih unggul dari pada murni pembelajaran daring.

“Tatap muka diperlukan juga, karena ada materi perkuliahan yang efektif kalau dijelaskan dengan tatap muka dari pada full daring. Lagi pula tidak semua dosen mampu menyuguhkan materi secara daring dengan begitu baik dan sebaiknya juga mahasiswa. Kadang mahasiswa juga kesulitan (menangkap materi) kalau tidak dihadirkan di kelas,” imbuhnya.

Namun, kata dia, hybrid learning tidak akan diterapkan di semua mata kuliah. Hanya mata kuliah tertentu saja seperti mata kuliah keahlian, praktikum dan sebagainya. Atau kegiatan yang tidak memungkinkan untuk dilakukan secara daring. Seperti penelitian, tugas akhir atau skripsi, yang membutuhkan fasilitas laboratorium atau bengkel.

“Terutama pada mata kuliah keahlian dan praktikum. Seperti mata kuliah matematika dan sebagainya memang efektif dijelaskan dengan tatap muka. Kebanyakan nanti (hybrid learning) untuk mata kuliah di tingkat akhir. Itupun dengan mata kuliah dan dosen yang sudah siap,” katanya.

Adapun bagi mahasiswa yang akan mengikuti kuliah tatap muka, perlu mempersiapkan surat keterangan sehat, surat pernyataan izin dari orang tua, serta mematuhi protokol Kesehatan Covid-19. “Kalau orang tuanya keberatan, maka bisa tetap melanjutkan pembelajaran secara daring,” kata Yudi. (imm/jon)