Bantu Petani Poncokusomo Jualan Lewat Website

new malang pos
SEMANGAT: Ketua tim pengabdian masyarakat Dr. Nasikhudin, S.Pd, M.Sc (kanan), dibantu dari kelompok mahasiswa Akhmad Al Ittikhad, Nadiya Ayu Astarini dan Ishmah Luthfiyah saat mengemas sayuran. Sebagai anggota dari tim abdimas ini yakni Prof. Dr. Markus Diantoro, M.Si dan Dra. Chusnana Insjaf Y, My.Si.

Pengabdian Dosen Universitas Negeri Malang

NEW MALANG POS, MALANG-Petani di Desa Karangnongko Kecamatan Poncokusumo kini sudah tidak lagi bergantung pada tengkulak untuk memasarkan hasil taninya. Mereka kini bisa menggunakan aplikasi digital atau online untuk menjual sayuran kepada konsumen. Sehingga keuntungan yang diperoleh bisa lebih dari biasanya.

Karena sebelumnya banyak petani yang mengandalkan tengkulak untuk memasarkan hasil panen mereka. Tentu saja dengan harga yang rendah. Karena tengkulak akan menjual kembali ke pasar makro, kemudian pasar mikro hingga sampai pada pelanggan.

Inilah yang  menjadi permasalahan petani di Desa Karangnongko selama ini seringkali merugi karena harga sayur yang terlalu murah.

Penjualan sayur berbasis digital merupakan hasil inisiasi dan terobosan dosen dan mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM). Melalui program pengabdian pada masyarakat, tim dosen dan mahasiswa melaksanakan sosialisasi kepada Kelompok Tani Karangsari Satu.

Sosialisasi dilaksanakan di rumah Hendra selaku ketua kelompok tani, pada (6/9) lalu. Dihadiri dengan penuh antusias oleh sekitar 40 lebih petani beserta pengurus Kelompok Tani Karangsari Satu. Kegiatan ini didukung oleh LP2M Universitas Negeri Malang.

Ketua Kelompok Tani Karangsari Satu Hendra mengatakan, materi yang disampaikan dalam sosialisasi tersebut berkaitan dengan pemasaran sayur melalui website dan media sosial. “Karena permasalahan utama dari petani ialah pemasaran hasil panen,” katanya.

Rantai distribusi yang panjang dari petani hingga sampai ke konsumen menyebabkan harga jual sayur petani rendah. Bahkan sebagian petani sulit kembali modal awal, karena harga jual sayur tidak sebanding dengan modal awal pembibitan, perawatan hingga pemanenan.

“Harga panen petani kadang hancur-hancuran. Kami sebagai petani sulit menjualkan hasil panen jika tengkulak tidak datang. Kadang disimpan untuk dikonsumsi sendiri atau bahkan ada yang terpaksa dibuang karena sudah rusak,” katanya.

Sebagian petani sampai tidak balik modal atau bahkan sampai ada yang minus. Karena harus dikurangi dengan biaya sewa sawah. Mirisnya lagi untuk menutupi biaya sewa sawah juga belum mencukupi. “Jadi kami seringkali terbebani dengan kerugian ini,” ujar Hendra. 

Kerugian para petani disebabkan karena rantai pasar yang terlalu panjang dan penanaman tidak sesuai dengan kebutuhan pasar.

Selain itu, edukasi yang kurang terhadap penanaman petani juga mempengaruhi. Dibuktikan dari komoditas yang ditanam dari sebagian besar petani masih menanam jenis sayur yang sama.

Hal itu yang membuat produksi tanam melebihi batas kebutuhan sehingga tidak jarang petani membuang hasil panen ketika produksi tidak bisa dipasarkan.

Ketua Tim Pengabdian pada Masyarakat Dr. Nasikhudin, S.Pd, M.Sc mengatakan, program bimbingan bertujuan untuk membantu para petani untuk meningkatkan penjualan yakni melalui website online. “Kami juga berupaya mengangkat nilai jual produk petani dengan proses quality control (QC) disertai pengemasan yang menarik,” katanya.

Petani juga akan diberi edukasi mengenai sistem penjualan langsung ke market dengan cara memotong rantai distribusi. Tujuannya agar nilai jual petani lebih stabil dan customer mendapatkan sayur yang lebih segar.

Nasikhudin menjelaskan, website online bertujuan untuk mendapatkan pasar yang lebih luas dan efisien. Petani akan dihubungi oleh admin jika ada pesanan dari website, kemudian petani hanya perlu mengirimkan ke gudang untuk proses QC dan pengemasan.

“Selanjutkan sayur akan langsung dikirim ke customer sehingga petani tidak lagi kesulitan mencari tengkulak untuk memasarkan sayur mereka,” terangnya.

Program pengabdian pada masyarakat kali ini, beranggotakan tiga dosen dan dua mahasisiwa. Antara lain, Dr. Nasikhudin, S.Pd, M.Sc sebagai ketua, Prof. Dr. Markus Diantoro, M.Si dan Dra. Chusnana Insjaf Y, M.Si sebagai anggota. Dua mahasiswa yang bergabung yakni Akhmad Al Ittikhad dan Sefia Kharen Gilar Tiana. “Harapannya dengan adanya pengabdian ini, petani menjadi terbantu dalam memasarkan dan juga dapat meningkatkan nilai jual hasil tani mereka,” ujar Nasikhudin. (imm/adv)