Pendidikan Nasional, Intelektual, dan Generasi Milenial

Mohamad Sinal - Dosen sekaligus Kepala Humas Polinema, VP Academic & Frofesionalism IMA Chapter Malang, Wakil Ketua ADN Wilayah Jatim

Penulis sangat bangga dan bersyukur di masa pandemi, hari pendidikan nasional masih tetap diperingati. Dimana-mana viral ucapan “Selamat Hari Pendidikan Nasional.” Bahkan, dalam siniar (podcast) hardiknas, Kepala Negara mengingatkan Nadiem Makarim; “Agar sistem pendidikan Indonesia haruslah memerdekakan manusia, serta membangun jiwa dan raga bangsa.”

Penulis sangat mengapresiasi terhadap tema “Serentak Bergerak, Wujudkan Merdeka Belajar.” Meski kalimat tersebut tampak sederhana tetapi sangat dalam maknanya. Dalam pespektif nalar akademik, salah satu tindakan yang terpuji adalah “belajar.” Agama (Islam) juga telah mewajibkan manusia untuk belajar.

Sejarah peradaban manusia telah membuktikan bahwa belajar memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan seseorang. Pribahasa “Hanya keledai dungu yang jatuh pada lubang yang sama”, di dalamnya mengandung pesan dan amanah tentang belajar. Secara tersirat terkandung makna bahwa seseorang dapat jatuh pada lubang yang sama, apabila dia tidak belajar pada pengalaman yang menimpanya.

Baca Juga :  Nenek 76 Tahun Meninggal Mendadak di Halte Gramedia

Hardiknas adalah momentum yang baik bagi “kaum intelektual” dan “generasi milenial.” Nalar dan amanah bagi keduanya tentu berbeda. Bagi kaum intelektual, serentak bergerak sesuai dengan paradigma sains merupakan suatu kewajiban.
Thomas Khun mengingatkan bahwa kebenaran sains akan ditemukan berkali-kali (berganti-ganti) bentuk ilmiahnya walaupun pada satu obyek yang sama. Konsep tersebut membuka cakrawala kita bahwa kebenaran sains bersifat dinamis (tidak stagnan). Oleh sebab itu, sikap dinamis kaum intelektual adalah hal yang penting.

Namun, terdapat hal lain yang tidak dapat diabaikan di dalam dunia pendidikan, yaitu kehadiran generasi milenial. Pada titik ini, keberadaan mereka juga tidak kalah penting. Mereka merupakan sosok generasi yang dapat menjadi tokoh pada masa yang akan datang (Syubanu al yaum rijalu al ghaddi), termasuk tokoh di dunia pendidikan.

Baca Juga :  69 ASN Pemkot Batu Bolos Hari Pertama Kerja

Dua fenomena di atas menjadi bagian tak terpisahkan dalam dunia pendidikan nasional. Generasi milenial merupakan generasi yang terbentuk setelah generasi tradisionalis, generasi baby boomers, dan generasi X. Mereka sangat mempercayai teknologi, yang dianggap mampu menciptakan ruang kerja dimana dan kapan saja sesuai dengan keinginan mereka. Selain itu, mereka merupakan generasi yang tidak terlalu menyukai dunia dan ruang pekerjaan konvensional.

Adapun peran intelektual, sangat diperlukan untuk memberi solusi kepada generasi milenial sebagai generasi penerus bangsa. Para intelektual hendaknya lebih intens memberikan proses pencerahan kepada mereka. Tujuannya agar mereka tidak “tuna budaya”, “tuna nilai-nilai warisan adat-istiadat”, dan sebagainya dalam mengembangkan kreasi dan inovasi yang ada.

Baca Juga :  Kesempatan Pemain Akademi Arema

Korea Selatan telah mencontohkan bahwa manakala generasi milenial dapat bersinergi dengan lingkungan yang ada, karya fenomenal akan dapat tercipta. Revolusi budaya lewat “K-Pop” yang mengangkat isu-isu warisan budaya yang diperkenalkan lewat media oleh generasi milenial Korea Selatan adalah bukti kebenaran pernyataan tersebut. Kehadiran negara dan lembaga pendidikan dipandang sangat perlu untuk memfasilitasi kegiatan tersebut.(*)

* Oleh: Mohamad Sinal
Dosen sekaligus Kepala Humas Polinema, VP Academic & Frofesionalism IMA Chapter Malang, Wakil Ketua ADN Wilayah Jatim