Pendekatan Tafsir Tematik untuk Anak Milenial

12

NewMalangPos – Arus globalisasi menunjukkan tanda pesatnya perkembangan teknologi. Orang tua menjadi was-was terhadap perkembangan anaknya. Khawatir anaknya terseret dalam degradasi moral. Maka orang tua harus benar dalam menentukan kebijakan pendidikan dalam keluarga.

Agar anak dapat hidup dengan baik sesuai fitrahnya, yaitu harus sesuai tuntunan Islam, dimana Alquran dan sunnah telah memberikan pencerahan dan perhatian yang sangat besar dalam pendidikan anak. Untuk mencapai tujuan ini, diperlukan bimbingan yang benar dan tepat serta teladan yang baik dari orang tua untuk anak-anaknya.

Orang tua mempunyai tanggung jawab besar terhadap pendidikan anak, baik pendidikan moral, agama, fisik, kognitif dan sosial emosionalnya. Orang tua di sini adalah ayah dan ibu di rumah dan di sekolah. Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah tanggung jawab yang besar dalam pendidikan dan pembentukan anak.

Dalam mendidik anak, orang tua harus selalu uptade agar fungsi edukatif dalam keluarga optimal seperti, menambah metode dalam menyempurnakan pendidikan anak.

Generasi milenial yang merupakan pengguna terbanyak internet secara umum kurang bijak dalam menggunakannya. Saat ini tampak telah terjadi kecenderungan pengguana internet yang sering mengesampingkan nilai–nilai moral dan etika dalam berkomunikasi informasi di media sosial.

Akan hal itu, pendidikan merupakan usaha yang dilakukan oleh orang tua untuk mendewasakan anaknya, mentransformasikan pengetahuan, keterampilan, dan nilai agar kehidupan berubah ke arah yang lebih baik. Dalam hal ini Alquran juga menjadi sumber inspiratif dalam mendidik dan memberikan gambaran yang jelas terhadap aspek-aspek pendidikan terhadap anak khususnya remaja milenial.

Alquran yang diklaim sebagai pedoman umat Islam, yang di dalamnya terdapat semua solusi segala aspek kehidupan umat manusia. Aspek seperti kognitif, afektif, dan psikomotorik juga dibahas dalam Alqur’an. Metode penafsiran pun haruslah kritis secara sosial agar Islam mampu diterima di semua kalangan di berbagai belahan dunia.

Problematika yang muncul di era zaman milenial dapat diselesaikan melalui pendekatan penafsiran Alquran menggunakan metode tematik yang dikenal sebagai tafsir tematik. Tafsir tematik sendiri adalah metode penafsiran Alquran yang dikaitkan dengan suatu tema tertentu.

Penafsiran Alquran menggunakan metode tafsir tematik sangat meluas di era informasi dan globalisasi karena memiliki peran penting dalam menyelesaikan problem yang dihadapi masyarakat milenial. Selain itu tafsir tematik juga disusun secara praktis dan sistematis dengan mengikuti kronologi perkembangan zaman dan tetap terjaga ke shohihannya.

Model tematik yang digunakan oleh Tafsir Alquran Tematik ini adalah model tematik modern yaitu tafsir yang memuat berbagai tema aktual kekinian. Untuk mengetahui lebih dalam metode dan karakteristik tafsir Alquran tematik ini, maka akan dijelaskan salah satu contoh penafsirannya, yang dalam tulisan ini akan dipaparkan contoh mengenai tema “Hijrah dalam perspektif Al-Qur’an.”

Pada era milenial sekarang ini fenomena hijrah menjadi sebuah trend dalam kehidupan masyarakat tanah air, terutama di perkotaan. Belakangan ini marak sekali ditemukan kampanye-kampanye atau komunitas gerakan hijrah di media sosial, baik mengenai meme hijrah atau akun di media sosial. Yang mana pengguna terbesarnya adalah anak muda kelas menengah perkotaan.

Orang yang berhijrah sejatinya adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang. Pemaknaan kata hijrah pada masa Nabi Muhammad Saw dengan hijrah pada zaman sekarang sangat berbeda, jika hijrah pada masa Nabi Saw diidentik dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menyelamatkan diri dan agama. Karena gangguan kafir quraisy terhadap umat Islam semakin menjadi-jadi, sampai-sampai ada yang dibunuh, dan disiksa, sementara umat Islam masih sangat lemah.

Dalam Alquran hijrah juga dijelaskan dengan artian sebagai berikut di dalam surat An-Nisa’ ayat 100. “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS an-Nisa’ ayat: 100).

Dalam firman di atas menjadi dalil bahwa hijrah yang disebutkan adalah hijrah dalam menjaga agama, namun seluruh hijrah yang bermotivasi tercakup di dalamnya. Sebagaimana berhijrah untuk menuntut ilmu, menjadi pribadi yang lebih baik, meninggalkan kemaksiatan, dan meninggalkan hal-hal yang lebih banyak mudaratnya.   Untuk mendapatkan penjelasan tentang makna hijrah maka harus kembali kepada Alquran dan sunnah karena semua umat Islam mengetahui bahwa sumber utama dan pertama ajaran agama Islam adalah Alquran, baru kemudian diikuti dengan Al-Hadits sebagai sumber penting kedua agama Islam. 

Makna hijrah dari sudut pandang tafsir tematik lebih kepada perubahan sikap di era zaman milenial. Bagi mereka untuk berhijrah, Alquran haruslah dijadikan sumber rujukan dari segala sumber rujukan kebutuhan manusia. Oleh karena itu hendaknya Alquran tersebut selalu dipelajari, digali dan diaktualisasikan, makna-makna yang terkandung di dalamnya. Sehingga dapat menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari karena dengan berhijrah dapat mengubah perilaku atau sifat-sifat kita yang kurang baik menjadi lebih baik.

Berpijak dari fakta dan permasalahan di atas, keberadaan pendidikan teknologi informasi yang berwawasan Qur’ani seyogyanya dapat diintegrasikan dalam bingkai AlQuran oleh generasi milenial sebagai langkah solutif untuk menjaga stabilitas sosial yang berwawasan Alquran. Bahkan eksisnya diyakini akan berdampak positif terhadap kemajuan generasi penerus bangsa.

Tafsir di Indonesia semakin berkembang dan semakin kreatif. Dengan adanya tafsir ini, maka dapat dijadikan acuan dalam menyeleseikan persoalan-persoalan kekinian yang sedang dihadapi remaja milenial. Tafsir tematik ini dapat menjadi tonggak semangat dalam terus melakukan penafsiran Alqur’an secara kontekstual dan tetap menjaga keshohihan dari arti Alquran sendiri. Anak sebagai investasi masa depan sangat dekat hubungannya dengan kemajuan bangsa.(*)