Pemuda dan Spirit Hatta

NEWMALANGPOS – Sejarah kemerdekaan Republik Indonesia tidak terlepas dari peranan pemuda saat itu. Mereka hadir membawa obor perubahan untuk kelangsungan kehidupan masyarakat yang sudah lama dijajah oleh kolonialisme Belanda dan Jepang.

Meskipun banyak kekerasan yang dilakukan oleh penjajah, hal tersebut tidak sedikitpun mengurangi rasa kepedulian mereka kepada tanah air ini.

Pada konteks saat ini, kita semua terkhusus pemuda harus merenungi kembali apa yang sudah kita lakukan dan kita berikan kepada Negara. Karena hal tersebut akan menjadi tolak ukur apakah kita selaku pemuda sudah mengalami kemunduran atau malah mengalami kemajuan dalam mewujudkan kedaulatan Negara dan masyarakat.

Baca Juga :  Integritas Pembelajaran Jarak Jauh

Pemuda sekarang biasanya disebut sebagai generasi milenials dengan kebiasaan yang tidak bisa terlepas dari dunia media sosial. Berdasarkan data Indonesia milenial report (2019) 70,4 persen anak muda milenial melihat akses informasi terkini melalui media sosial. Baik itu ekonomi dan politik dan anak muda milenial lebih dominan menggunakan Instagram, Facebook serta Twitter.

Media sosial bagi kalangan anak muda sudah menjadi coping stress (pelepas diri dari stres). Ketika anak muda sudah merasakan tidak nyaman, maka media sosial menjadi opsi utama untuk mencurahkan permasalahannya dalam bentuk membuat cerita maupun meme yang menggambarkan suasana hatinya.

Baca Juga :  Peduli Lindungi

Tingginya penggunaan media sosial di kalangan generasi milenial menyebabkan mudahnya perubahan perilaku pada anak muda sekarang. Salah satunya ialah simpang siurnya beragam informasi dan cara memanfaatkan media sosial dengan serampangan akan menyebabkan berbagai macam dampak negative. Seperti hoaks dan gampang terpengaruh oleh berita yang tidak membangun bangsa.

Di sisi lain patut kiranya menduga, generasi ini lebih cenderung cuek dan apatis untuk menyikapi berbagai persoalan kebangsaan. Sehingga mereka lebih memilih mementingkan karir personal, nonton drama korea, shoping di mall ketimbang berdiskusi di warung kopi sambil membicarakan nasib rakyat dan apa kiranya yang harus di benahi pada republik ini.

Baca Juga :  Solidaritas Lintas Generasi Untuk Bumi

Faktor tersebut diakibatkan oleh media social. Sampai hal tersebut mengalahkan kebutuhan pokok seperti kebutuhan pangan dan belajar. Padahal kalau kita merenungi dengan serius, pemuda menjadi pilar utama dalam rangka mewujudkan kemakmuran dan kita bisa merefleksikan kembali Soekarno muda dan Hatta dalam memperjuangkan kemerdekaan serta mempertaruhkan nyawanya kala itu. Maka kita semua selaku pemuda tidak boleh cuek.

Pilihan Pembaca