PBL Virtual SMP Negeri 1 Singosari, Tambah Wawasan Dan Pengalaman Baru Siswa

PEMATERI: Kanti Yusefa, M.Pd selaku guru IPS Sinesa menjelaskan tentang perbedaan pasar tradisional dan modern saat kegiatan PBL secara virtual

NewMalangPos, MALANG – Rabu (10/3) lalu, siswa-siswi SMP Negeri 1 Singosari belajar dalam jaringan (daring) dengan model yang tidak seperti biasanya. Guru menyajikan sebuah Pembelajaran Berbasis Lingkungan (PBL). Terlihat sangat menarik dan siswa mengikuti dengan antusias.

Mereka diajak secara virtual untuk mengunjungi beberapa tempat bernilai edukasi. Seperti situs-situs sejarah, perekonomian hingga yang bernilai unsur sains. Di virtual PBL ini para siswa juga mempelajari fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar.

Seperti yang diikuti siswa kelas VIII. Mereka belajar tentang ekolokasi hewan lumba-lumba dan kelelawar yang diterapkan di teknologi sonar kapal selam. Dibimbing langsung oleh Andry Septiono, S.Pd selaku guru IPA Sinesa.

Para siswa mengikuti pembelajaran dengan antusias. Beberapa pertanyaan disampaikan berupa rekaman video. Diantaranya bertanya tentang perbedaan ekolokasi gelombang yang dipancarkan oleh kelelawar dan lumba-lumba.

Dalam hal ini, Andry menjelaskan lumba-lumba memancarkan gelombang dengan rentangan yang lebih rendah dari kelelawar. Berkisar antara 20 sampai 20.000 Hz. Kategorinya masih audiosonic. Sedangkan kelelawar di atas 20 KHz. Dengan kategori gelombang ultrasonic. “Kegunaannya sama untuk dua hewan ini. Gelombang yang dipancarkan akan memantul setelah benturan dengan objek. Sehingga lumba-lumba atau kelelawar bisa mengetahui objek apa saja yang ada di depannya,” jelas Andry.

Baca Juga :  Registrasi SNMPTN 2021 Dibuka Mulai 4 Januari

Selanjutnya Andry menjelaskan, metode gelombang yang digunakan oleh lumba-lumba dan kelelawar diterapkan oleh manusia untuk pemanfaatan teknologi. Salah satunya kapal selam. Sistem kerja kapal selam menggunakan pemancar gelombang dengan frekuensi yang tinggi. Gelombang yang dipancarkan menghasilkan peta digital dari sinyal elektrik. “Dari metode ini kita bisa tahu bahwa pemanfaatan gelombang begitu besar yang dipelajari manusia dari dua hewan ini,” terangnya.

Selasa (9/3) sehari sebelumnya, siswa-siswi kelas VII Sinesa (Singosari Negeri Satu) sebutan lain SMP Negeri 1 Singosari juga mengikuti PBL. Hanya saja objek materi yang dipelajari berbeda. Mereka belajar banyak tentang Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Dipandu langsung oleh A. Fachri Radjab, S.Si, M.Si selaku Kepala Pusat Meteorologi Publik. Ada satu area di BMKG yang cukup menarik. Namanya taman alat. Disitu siswa melihat ada beberapa instrumen alat yang digunakan oleh BMKG untuk mendapatkan data.

Baca Juga :  Visiting Profesor Dukung Program Percepatan Guru Besar

Fachri menunjukkan satu pers satu alat itu. Ia juga menjelaskan sistem kerja alat. Hasil data dari semua alat itu diolah dan dirumuskan. Sehingga mendapat sebuah kesimpulan untuk prakiraan cuaca.

Materi tentang BMKG ini diperkuat oleh Rudi Purnomo, M.Pd., yang juga guru IPA SMPN 1 Singosari. Ia memberikan jawaban dari beberapa pertanyaan siswa. Salah satunya menanyakan tentang parameter yang digunakan untuk meramal kondisi cuaca. “Ramalan cuaca mengacu pada data-data yang didapat dari suhu udara, kelembaban udara, kecepatan angin curah hujan dan penyinaran matahari,” terang Rudi.

Ia juga menjelaskan secara detail setiap istilah yang digunakan BMKG yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan alam maupun sains dan teknologi. Seperti penguapan air, tekanan udara, suhu dan lain sebagainya. Termasuk tentang dinamika cuaca, anomali suhu laut dan kelabilan atmosfer, yang menjadikan kondisi cuaca kadang menjadi tidak menentu.

Dari sini siswa Sinesa mendapat pengetahuan yang banyak. Baik dari sisi keilmuan saintifik, juga pengetahuan tentang kerja dan tugas BMKG. “Kita menjadi tahu bahwa peran BMKG setiap saat sangat penting untuk masyarakat. Akses informasi yang mereka berikan menjadi modal penting, khususnya bagi penerbangan atau pelayaran,” jelasnya.

Baca Juga :  SD Islam Sabilillah Malang, Terus Berinovasi Media Belajar Makin Variatif

PBL tidak hanya berisi materi IPA. Tetapi juga ada materi sejarah, ekonomi dan materi yang berkaitan dengan lingkungan. Seperti pemilahan dan pengolahan sampah. Siswa juga dijelaskan tentang tempat-tempat bersejarah seperti candi prambanan dan Borobudur. Setiap materi itu dibimbing dengan guru yang berbeda sesuai dengan mapelnya.

Ketua PBL Lasimun, S.Pd menjelaskan PBL merupakan agenda akademik untuk memperkuat pemahaman siswa pada materi pelajaran. Mereka diajak ke tempat bernilai edukasi untuk menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman baru. Seperti ke tempat budidaya hewan ternak, pertanian, industri dan sebagainya. “Biasanya anak-anak kami ajak berkunjung langsung ke lokasi. Karena saat ini masih pandemi maka kami konsep secara virtual, tanpa mengurangi nilai pembelajarannya,” terang Lasimun. (imm/sir)