Pandemi, Ramadan dan Ekonomi Berbagi

8
idea
Yunan Syaifullah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang

RAMADAN, NewMalangPos – sudah hadir kedua kalinya di tengah Pandemi Covid-19. Meski Ramadan dijalani di tengah keprihatinan dan risiko yang masih mengancam, suasana Ramadan dipastikan tidak berkurang. Ada dan tidaknya, Pandemi Covid-19. Suasana dan sudut pandang tentang Ramadan yang tidak pernah aus dan selalu hadir acapkali Ramadan tiba adalah bagaimana cara memaknai ramadan, yang selalu terpelihara dari usia anak bahkan hingga dewasa sekalipun.

Ramadan adalah momentum baru. Momentum Ramadan berhubungan erat dengan berbagai urusan perihal dirinya. Mulai dari perihal yang sifatnya duniawi hingga spiritualitas.  Ramadan adalah locus perubahan. Baik, perubahan dari sisi kuantitatif yang diikuti dengan peningkatan kualitatif. Transformasi kuantitatif dan kualitatif menjadi arena dalam memancarkan spirit evaluatif dan reflektif ditautkan menjadi satu bagian penting pada sejumlah aksi pikiran dan jiwanya.

Ramadan menjadi locus perjalanan spirtualitas bagi setiap diri muslim untuk lebih mengenal dirinya sendiri dan lingkungan dengan rangkaian ritualitas ramadan yang dijalani melalui tindakan untuk selalu bisa mengendalikan diri dari segala amarah dan nafsu.

Tugas yang diemban oleh seorang muslim dalam ramadan ini adalah mempertemukan keseimbangan antara internalitas dan eksternalitas, antara agama (keyakinan) dengan masalah psikologi dan sosial.

Karena itu, takkala Ramadan diposisikan sebagai locus perubahan, Ramadan senantiasa melahirkan fenomena menarik dari waktu ke waktu yang patut untuk dicermati semua kalangan. Setiap ramadan tiba hingga akhir, senantiasa ditangkap kesan kekhidmatan terjadi hampir di semua ruang publik dimanapun.

Konsentrasi aktivitas warga, khususnya yang muslim dalam bulan ramadan tidak hanya menempati ruang-ruang privat. Seperti tempat ibadah mulai dari masjid, musala, langgar dan dibukanya sebagian ruang di perkantoran untuk kepentingan ibadah menjadi makin semarak dengan kegiatan ibadah dan kegiatan pendukung.

Akan tetapi, ruang publik lainnya seperti pasar, mall, bahkan jalan-jalan strategis pun direbut dan ditempati untuk memfasilitasi kegiatan sosial ekonomi warga selama bulan ramadan. Kegiatan seperti itu, bisa mudah dijumpai dimanapun dan makin bertambah bentuk dan jenis kegiatannya termasuk pelaku yang terlibat di dalamnya. Kesan utama adalah bahwa masyarakat dalam bulan ramadan ini konsentrasi utamanya: ibadah. Benarkah demikian?

Ilustrasi itu dapat ditelusuri sejumlah fakta yang melatari. Pertama, ramadan kali ini datang dan tepat saat suasana prihatin masih terasa berupa pandemi Covid-19 dan masa ujian akhir di jenjang sekolah atas hingga dasar. Selain itu, tidak lama lagi masuk masa liburan sekolah dan masuknya tahun ajaran baru yang akan berjalan.

Kondisi hal itu mendorong daya beli masyarakat terkonsentrasi pada belanja konsumsi pendidikan dan konsumsi sekunder lainnya. Akibatnya, daya beli yang meningkat mempengaruhi pergerakan harga-harga barang untuk kepentingan edukasi dan kebutuhan sekunder beranjak naik. Akibatnya, harga-harga barang mengalami kenaikan dan membuat inflasi pun naik.

Bulan ramadan hingga lebaran mendatang, secara nasional, diprediksi harga-harga barang pangan sudah mengalami lonjakan harga. Puasa edisi lalu, rata-rata inflasi selama bulan ramadan dan lebaran terjadi kenaikan 0,44 persen. Bila prediksi level nasional itu terjadi, secara tidak langsung imbasnya akan dirasakan di tingkat lokal.

Himpitan kondisi ekonomi warga secara beruntun harus teralami, dari kebutuhan saat tahun ajaran baru dan kini saat ramadan. Menelusuri perilaku warga pada saat bulan ramadan menjadi menarik untuk dikemukakan. Akankah himpitan yang terjadi itu bisa membentuk karakter ekonomi warga dan spiritualitas warga yang layak untuk dipelajari bersama? Warga bila dipersonifikasikan sebagai individu, dalam perspektif ekonomi klasik adalah individu rasional.

Setiap warga kini memang sedang dihadapkan masalah dan pilihan yang tidak nyaman dengan kondisi yang terjadi. Akan tetapi, pilihan dan keputusan setiap warga untuk bisa keluar dari masalah dipastikan dituntun oleh rasionalitas yang dimiliki.

Peristiwa seperti ini menjelaskan bahwa setiap individu ketika akan menentukan keputusan ekonomi akan melalui empat tahapan, yakni: pertama, adanya preferensi. Artinya setiap individu memiliki keinginan untuk membeli atau menjual sesuatu dalam pasar transaksi.

Kedua, adanya keyakinan. Maknanya bahwa setiap preferensi diambil (dimiliki) setelah individu mendapatkan informasi mengenai alternatif-alternatif barang dan jasa yang ingin ditransaksikan. Ketiga, adanya sumber daya. Bahwa setiap keyakinan harus dipertimbangkan adanya kesempatan dan keterbatasan. Terakhir, adanya tindakan yang merupakan akumulasi dari rangkaian proses yang lainnya.

Gambaran itu menjelaskan bahwa tindakan ekonomi warga akan terjadi apabila seseorang akan melalui tahapan-tahapan itu untuk memperteguh adanya rasionalitas ekonominya. Tidak ada sedikitpun lokasi tersisa yang mampu membatalkan kegiatan ekonomi warga.

Dapat dipahami bahwa kegiatan ekonomi warga yang seluruh orientasi kegiatannya ditransaksikan untuk kepentingan mendapatkan keuntungan. Karena itu, asumsi-asumsi dalam ekonomi klasik dipercaya dapat menjelaskan semua kegiatan ekonomi warga selalu memiliki pertimbangan kemanfaatan (keuntungan) yang diberlakukan secara universal.

Dalam kata lain, motif cinta, empati, kedermawanan, solidaritas, kasih sayang, emosi, persahabatan, dan kesetiakawanan tidak hadir dalam setiap kegiatan ekonomi.

Manusia ditempatkan sebagai makhluk rasional yang berorientasi kepada motif ekonomi (keuntungan), maka seluruh atribut sosial yang berada di sekitar individu menjadi tidak bermakna. Pada titik ini, dianggap semua makhluk akan memiliki perilaku seperti itu, apapun agama, budaya, maupun keyakinannya. Perilaku di luar itu hanyalah anomali, yang bukan merupakan pola yang terstruktur sehingga keberadaan-nya dipandang tidak lagi penting. Karena itu, dalam urusan ekonomi individu adalah makhluk asosial.

Dalam bulan ramadan, perilaku warga kian tampak bahwa dalam perilaku sosial ekonomi keseharian tidak dapat lepas dari pengaruh nilai budaya, agama, tradisi, dan aspek lain yang melekat dalam setiap individu. Sehingga saat ramadan, aktivitas untuk lebih menyayangi lingkungan sekitar dengan didasari motif cinta kasih, empati, kedermawanan, solidaritas, kasih sayang, emosi, persahabatan, dan kesetiakawanan kian bertambah. Kegiatan sejenis itu dimuarakan untuk kepentingan ibadah.

Kedermawanan (charity) bukanlah sekadar membagi rezeki ekonomi kepada pihak lain, melainkan sikap jiwanya yang menganggap bahwa hidup individu bukan semata soal pemenuhan motif ekonomi. Perilaku seperti itu muncul bukan atas nama rasionalitas, melainkan bersumber dari keyakinan dan budaya yang ada.

Peristiwa ramadan bisa digunakan sebagai percontohan yang baik dan menarik untuk menggambarkan pribadi-pribadi seseorang (muslim) ketika berhadapan dengan kepentingan spiritualitasnya dan ekonomi. Setiap manusia selalu diingatkan dan diminta untuk bisa menahan diri pada berbagai nafsu yang sifatnya duniawi karena sesungguhnya seluruh kepemilikan di dunia ini bersifat sementara.

Inilah yang menyebabkan manusia pada bulan ramadan lebih banyak mengeluarkan charity ketimbang bulan-bulan lainnya. Dalam bulan ini, praktik ekonomi untuk berbagi bergulir dan berlipat kegiatannya. Kendati kegiatan ekonomi berbagi itu pasti tidak akan memberikan keuntungan materi. Sifat kedermawanan ini sebetulnya cuma memberi pesan utama bahwa manusia bukanlah binatang ekonomi. Bulan ramadan menjadi momentum baru bahwa ekonomi berbagi merupakan bagian penting dalam aktivitas ekonomi warga.(*)