Optimis, Siswa Antusias Sambut PTM

Siswa SMPK Frateran Celaket 21 riang gembira menyambut hari pertama PTM Terbatas

SMPK Frateran Celaket 21

MALANG, NewMalangPos – Siswa-siswi SMPK Frateran Celaket 21 menyambut pembelajaran tatap muka dengan sangat antusias. Sudah satu tahun lebih mereka menunggu kesempatan ini. Waktu yang cukup lama untuk sabar menunggu sebelum akhirnya mereka berjumpa langsung dengan guru dan teman-temannya.

Apalagi sekolah di Jalan Jaksa Agung Suprapto ini, terbilang akhir menerapkan PTM dibandingkan sekolah lain yang sudah mulai tatap muka dua pekan lalu. Tentu hal itu karena berbagai petimbangan yang bijaksana dari guru di sekolah. Tidak tergesa-gesa, melihat perkembangan kondisi dan menghargai gagasan serta pandangan orang tua siswa.

Setelah melalui pertimbangan itu, akhirnya pekan ini SMPK Frateran Celaket 21 memutuskan PTM Terbatas. Fr. M. Yohanes Laga Playing BHK. S.Fil. M.Pd selaku kepala sekolah mengatakan ini masih uji coba. Protokol kesehatan benar-benar diterapkan dengan sangat ketat.

Siswa datang disambut guru. Setiap mereka diarahkan untuk mengukur suhu dengan tiga thermogun yang siap di depan pintu sekolah. Ada beberapa wastafel berjejer untuk mereka cuci tangan sebelum masuk kelas. “Kami uji coba tatap muka dengan sangat hati-hati. Karena lokasi sekolah kami pas di pinggir jalan raya,” ujar Frater Yohanes, kepada New Malang Pos.

Baca Juga :  Tingkatkan Mutu SDM Bumdes Tegalweru

Sesuai aturan yang tertera dalam Surat Keputusan Bersama Empat Menteri dan Surat Edaran Walikota Malang, jumlah siswa dalam satu rombongan belajar dibatasi. Hanya 50 persen dari jumlah biasanya. Jarak antar bangku diatur lebih dari satu meter. Dan masker wajib digunakan dengan rapat.

Setelah semua dianggap cukup sebagai persiapan, maka PTM pun dimulai. Para siswa yang sudah “tidak sabar” menunggu akhirnya lega. Bahkan di hari pertama mereka sudah menunjukkan semangat yang tinggi. Pukul 06.00 WIB, sudah banyak yang datang. Padahal jadwal masuk masih pukul 07.00 WIB. “Ini adalah hari yang sudah mereka tunggu sejak lama. Wajar kalau mereka datang cepat-cepat ke sekolah,” ucap Frater Yohanes.

Bagi kelas VII, Senin (3/5) lalu adalah hari pertama mereka ke sekolah. Bagi mereka semuanya adalah hal baru. Sekolah, kelas, guru, dan teman-temannya. Bahkan seragam mereka pun baru.

Untuk itu mereka butuh adaptasi. Meskipun terbilang sudah hampir setahun belajar secara daring, tetap butuh menyesuaikan diri dengan pola baru. Karenanya, di hari pertama guru tidak langsung memberikan materi pelajaran.

Baca Juga :  Lagi, UMM Jadi Tuan Rumah Kontes Kapal Cepat Nasional

Para siswa diajak untuk refreshing. Dengan bernyanyi dan yel-yel. Sesekali ada diskusi ringan tentang kesan-kesan mereka di hari pertama masuk sekolah. “Di hari pertama kami masih memberikan motivasi, untuk penyegaran bagi anak-anak. Agar semangat mereka tumbuh kembali setelah satu tahun belajar secara online,” terangnya.

Sementara itu, beberapa siswa tampak senang dengan belajar tatap muka untuk pertama kalinya. Terutama bagi mereka kelas VII. Mereka mendapat kesan yang menyenangkan. “Yang jelas senang, ini pertama kalinya saya bertemu guru dan teman-teman,” ujar Audrey, salah satu siswa.

Hal sama juga diutarakan siswa-siswi lainnya. Mereka diberikan kesempatan untuk menuliskan beberapa kalimat untuk memotivasi diri agar semangat belajar. “Supaya semangat kita harus bangun pagi, mandi dan siap menerima pelajaran,” ujar Indri, siswa lainnya.

Ketua Satgas Covid-19 SMPK Frateran Celaket 21 Dra. Rosalia Yuswati Andamari menjelaskan, untuk mengkondisikan jumlah siswa agar tidak banyak pihaknya menentukan jadwal per level kelas. Jika hari pertama kelas VII maka selanjutnya kelas VIII. Demikian selanjutnya secara bergilir. “Nanti kita akan evaluasi bagaimana perkembangan PTM yang kita laksanakan,” katanya.

Baca Juga :  Mahasiswa ITN Malang, Keluar Zona Nyaman, Regar Juara MMA

Yang jelas, kata Yuswati panggilan akrabnya, SMPK Frateran Celaket 21 telah siap menerapkan PTM yang aman dan nyaman bagi siswa. Sarana dan prosedur belajar di era new normal sudah disiapkan oleh sekolah. Bahkan dari sejak lama sebelum pelaksanaan PTM. Seperti alat ukur suhu thermogun sebanyak lima unit, wastafel dan sebagainya.

Ia juga mengungkapkan bahwa sekolah telah mendapatkan dukungan dari orang tua terkait pelaksanaan PTM Terbatas. “Rata-rata orang tua mendukung. Lebih dari 85 persen mereka ingin anaknya bisa belajar tatap muka,” terangnya.

Meskipun belum sepenuhnya orang tua siap, namun SMPK Frateran Celaket 21 telah mengambil keputusan yang terbaik. Demi pendidikan anak didiknya dengan cara tetap mematuhi protokol kesehatan. “Bagi yang belum siap, tetap kami fasilitasi dengan pembelajaran daring seperti biasa. Tanpa mengurangi mutu dan kualitas belajar anak-anak,” tandasnya. (imm/sir)