ONSENA LPI Sabilillah dan SDI Sabilillah Malang, Penguatan Wawasan Hadapi Asesmen Nasional

SAMBUTAN: Direktur LPI Sabilillah, Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd menyampaikan sambutan dan memotivasi para peserta Online Seminar Nasional

NEW MALANG POS, MALANG – Di usianya yang kini sudah mencapai 25 tahun, Lembaga Pendidikan Islam (Sabilillah) Malang dan SDI Sabilillah Malang terus menebar kebaikan. Kali ini melalui kegiatan Online Seminar Nasional (Onsena), LPI Sabilillah berbagi ilmu dan informasi kepada publik. Khususnya untuk lembaga pendidikan yang ada di seluruh Indonesia.

Jumat (22/10) kemarin, Seminar Nasional digelar melalui kanal zoom dan disiarkan secara live streaming melalui channel Sekolah Sabilillah. Peserta yang mengikuti acara tersebut lebih dari 650 orang. Berasal dari berbagai penjuru Tanah Air, mulai Aceh sampai Papua.

Direktur LPI Sabilillah, Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd mengatakan, Onsena merupakan satu kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Peringatan HUT ke-25 LPI Sabilillah dan SDI Sabilillah Malang. Satu tantangan bagi guru saat ini yaitu adanya Asesmen Nasional (AN) yang dicetuskan oleh Kemendikbudristek Republik Indonesia sebagai pengganti Ujian Nasional (UN).

PEMATERI: Dr. Rahmawati, ST, M.Ed memaparkan materinya tentang Asesmen Nasional dan implikasinya pada penguatan literasi membaca dan numerasi

Ada banyak hal yang perlu diketahui sekaligus untuk persiapan sekolah menghadapi AN. Karena itu, LPI Sabilillah memfasilitasi para pendidik dengan seminar yang bertema Pembelajaran Unggul Dalam Menguatkan Kompetensi Literasi Dan Numerasi Menghadapi Asesmen Nasional. “Seminar ini sebagai sikap kita terhadap diselenggarakannya Asesmen Nasional yang sudah dilaksanakan tahun ini,” katanya.

Baca Juga :  MI Nurul Huda 1 Kedungkandang Latihan Sedekah Melalui BUMM

Menurut Wakil Rektor IV Universitas Negeri Malang ini, semua satuan pendidikan perlu mempersiapkan diri untuk mengikuti AN. Hal tersebut penting karena ada beberapa tujuan yang perlu diketahui, baik oleh pemerintah maupun satuan pendidikan itu sendiri. 

Bagi sekolah atau satuan pendidikan, AN dilaksanakan untuk mengetahui kualitas sekolah. Dari data itu kemudian bisa menjadi pijakan untuk menaikkan kualitas pendidikan. Sementara secara nasional, melalui AN pemerintah bisa melakukan pemetaan sekolah. “Pemetaan ini dapat dijadikan ukuran untuk meningkatkan mutu dan kualitas,” ungkapnya.

Prof Ibrahim berharap Online Seminar Nasional melahirkan banyak gagasan yang dapat menjadi tambahan wawasan bagi peserta. Terlebih untuk AN sendiri masih banyak guru yang belum memahami secara menyeluruh. “Atas nama LPI Sabilillah kami mengucapkan terimakasih kepada para peserta.  Semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan,” ucapnya.

NARSUM: Prof. Dr. H. Abdur Rahman As’ari, M.Pd, M.A menjelaskan tentang konsep WISER dan 4Cs kepada peserta seminar nasional

Onsena LPI Sabilillah menghadirkan dua narasumber handal yang kompeten. Pertama Dr. Rahmawati, ST, M.Ed selaku Peneliti Pusat Asesmen dan Pembelajaran (Puspenjar) Kemendikbudristek Republik Indonesia. Kedua, Prof. Dr. H. Abdur Rahman As’ari, M.Pd, M.A., selaku Tim Pengembang Pendidikan Sabilillah Malang dan Guru Besar Universitas Negeri Malang (UM). Bertindak sebagai moderator, Idi Rathomy  Baisa, M.Pd selaku Kabag Kurikulum dan Kesiswaan LPI Sabilillah Malang.

Baca Juga :  UIN Kecolongan!

Dr. Rahmawati, ST, M.Ed menyampaikan materi tentang Asesmen Nasional dan implikasinya pada pembelajaran penguatan literasi membaca dan numerasi. Ia menjelaskan feedback dalam sebuah pembelajaran sangat efektif dalam peningkatan kompetensi. Umpan balik hasil penilaian merupakan faktor yang memberi dampak paling besar dalam peningkatan pencapaian siswa.

Rahmawati memaparkan beberapa metode sebagai perbandingan dalam pembelajaran. Dari hasil kajian dan riset yang dilakukannya, feedback to pupils merupakan yang paling efektif dan paling efisien. “Dengan memberikan umpan balik dalam sebuah penilaian, siswa dapat menangkap dan memahami secara runtut kelebihan dan kekurangannya,” terang Rahmawati.

Dengan feedback to pupils siswa juga mengerti cara memperbaiki kekurangan dari tugas yang mereka kerjakan. “Inilah the power of feedback, jadi bukan seberapa sering guru memberikan tugas, tetapi lebih kepada pemahaman siswa pada sebuah problem dan solusinya,” jelasnya.

Baca Juga :  Bekali Mahasiswa Leadership dan Entrepreneur

Selama pembelajaran daring sejak pandemi, kata Rahmawati, feedback hampir tidak pernah dilakukan oleh guru. Baik feedback pada karakter, pembiasaan maupun pada kognitif. “Percayalah, bahwa ini adalah peta analisis dari ribuan paper bahwa feedback tidak membutuhkan banyak biaya. Hanya modal keikhlasan, kerja keras dan ketekunan, yang membuat siswa menyadari bahwa guru memberikan perhatian pada mereka,” tuturnya.

Sementara itu, Prof. Dr. H. Abdur Rahman As’ari, M.Pd, M.A dalam materinya menjelaskan tentang konsep WISER dan 4Cs. Sebuah konsep yang dinilai strategis dalam melaksanakan proses pembelajaran di abad 21.

Prof As’ari, sapaan akrabnya, memaparkan WISER merupakan singkatan dari komponen Wondering Habits, Investigating Skill, Synthesizing Skills, Expressing Skills dan Reflecting Habits. Sedangkan 4Cs, adalah critical thinking skills, creative thinking skills, communication skill dan collaboration skill.  

“Kunci  penentu dari proses pembelajaran ini adalah questioning. Guru harus bisa mengajukan pertanyaan yang berarah pada penguatan WISER dan 4Cs sebagai orientasi dari Project Based Learning (PjBL),” tandasnya. (sir/imm)

artikel Pilihan