Lebih Sreg Pelatih Asing

Kuat Mental Hadapi Tekanan Aremania, Arema FC Teringat Almarhum Suharno

NewMalangPos, MALANG – Arema FC kekeuh memilih pelatih asing sebagai suksesor Carlos Oliveira yang kontraknya berakhir 17 Februari ini. Mental menjadi alasan mengapa manajemen Singo Edan menginginkan head coach impor, sekalipun tidak sedikit pelatih lokal yang berkualitas.

Bahkan, secara taktikal beberapa diakui oleh General Manager Ruddy Widodo, lebih baik ketimbang pelatih asing. “Kenapa pelatih Arema FC harus asing? Ada beberapa yang lebih bagus lokal. Tapi secara mental, pelatih asing lebih unggul,” ujar dia.

Ia menegaskan, untuk urusan mental, pelatih lokal dia nilai masih kalah. Hal ini berdasarkan pengalaman sekitar sembilan tahun berada di manajemen Arema FC. Pria asal Madiun itu paham benar, bagaimana tipikal pelatih asing maupun lokal yang memimpin tim pujaan Aremania ini.

“Secara mental perlu diakui mental pelatih lokal masih di bawah pelatih asing. Kalau cara melatih, ilmunya pelatih asing dengan pelatih lokal, tidak jauh beda,” katanya.

Menurut dia, mental para pelatih lokal yang sudah pernah membesut Arema, khususnya saat mendapat tekanan dari Aremania tidak sekuat pelatih asing. Apalagi, keluarga tak luput mengalami tekanan suporter.

“Ini Arema, saya tahu bagaimana tekanan di klub ini. Beberapa pelatih lokal yang pernah melatih Arema dan memiliki kemampuan bagus, tapi tidak kuat di mental, terutama karena tekanan ke keluarga. Takutnya, jangankan kalah tiga kali beruntun, tidak pernah menang atau draw tiga kali saja, sudah down. Harus pelatih yang mentalnya kuat, mental baja,” urainya.

Sebaliknya, pelatih asing dia nilai memiliki keuntungan. Selain bahasanya yang tidak begitu paham, keluarga pelatih asing juga tidak selalu ikut ke Indonesia.

“Kalau pelatih asing bahasanya kan tidak sepaham lokal. Suporter mau bilang apa dia gak paham. Itu yang juga menjadi salah satu faktor,” jelasnya.

Dia menyebut, sejauh ini hanya ada satu sosok pelatih lokal yang membuat dia kagum mampu menghadapi tekanan. Sayangnya, sosok tersebut tak mungkin lagi melatih Arema FC.

Lantas, Arema FC juga sempat dipimpin Aji Santoso. Tetapi, pelatih asli Kepanjen ini juga mundur, ketika Liga 1 belum genap setengah musim di tahun 2017. Joko Susilo pun dianggap belum ‘strong’ untuk urusan mental. Musim 2018, bahkan ia diganti setelah melalui delapan pekan.

“Saya nilai, saat ini yang mentalnya baja, ya almarhum Coach Suharno. Dulu, coach RD (Rahmad Darmawan) saya nilai kualitasnya terbaik, mental juga bagus. Tapi, dari kontrak dua tahun, dia mundur setelah setahun karena tekanan yang luar biasa. Makanya, saya bilang, kalau kualitas taktikal pelatih lokal tidak kalah,” sebut Ruddy.

Ruddy menegaskan, selain memastikan sosok pelatih merupakan orang asing, Arema FC masih menginginkan gaya Amerika Latin untuk menukangi tim. Hal ini untuk melanjutkan pondasi tim yang sudah dibangun di era Mario Gomez dan Carlos Oliveira, yang berasal dari Argentina serta Brasil. (ley)