NANGGALA

NewMalangPos – Mohon maaf, saya awali tulisan ini dengan berandai-andai. Andai latihan menembakkan Torpedo yang dilakukan oleh KRI Nanggala 402 sukses di perairan utara Bali, Rabu (21/4) dinihari itu, mungkin beritanya tak seheboh, setragis dan sepilu ini.

Bahkan bisa jadi tidak menjadi berita utama, atau bahkan tidak diberitakan media karena kesuksesan latihan tempur itu menjadi rutinitas TNI AL. Dan karena sukses, mungkin tidak banyak yang bakal membahas kondisi fisik KRI Nanggala 402 yang usianya sudah puluhan tahun. Dan tentu tidak akan ada spekulasi-spekulasi lainnya terkait Nanggala 402.

Ya, kebiasaan kita, keberhasilan dan kesuksesan kadang sudah menjadi hal yang biasa dan lumrah. Kesuksesan yang tampak di permukaan bumi saja, kadang jarang mendapat apresiasi yang istimewa. Apalagi kesuksesan di dalam laut, yang dilakukan para prajurit yang bertugas di Kapal Selama KRI Nanggala 402. Mungkin dan bisa jadi semua akan biasa-biasa saja. Tidak terlalu istimewa karena ya memang latihan rutin. Itu semua bisa terjadi andai KRI Nanggala 402 kembali dengan kesuksesan latihan tempur.

Tapi yang terjadi ini sebaliknya. Di luar prediksi dan tak terbayangkan sebelumnya. Seperti tak ada angin taka da hujan tiba-tiba lampu mati. KRI Nanggala 402 dengan 53 ABK mengalami musibah. Para kusuma bangsa itu dinyatakan gugur pada, Minggu (25/4) setelah KRI Nanggala 402 tertangkap kamera terbelah menjadi tiga bagian di kedalaman 833 meter di bawah permukaan laut. Semua mata, perhatian, empati, simpati dan kepedihan rakyat Indonesia tertuju pada kejadian nahas yang tragis dan mengiris hati ini.

Baca Juga :  Kasus Tinggi, Sutiaji Tetap Tak Mau Berlakukan Jam Malam

Tidak ada yang bisa membayangkan, bagaimana kepedihan dan duka yang dialami keluarga korban patriot bangsa itu. Sejak dinyatakan hilang kontak, hidup keluarga korban itu mungkin seperti ‘berhenti.’ Jantung dan hati masyarakat pun ikut sesak. Betapa tidak, saat itu semua menanti dengan ketidakpastian. Apa sebenarnya yang terjadi dengan KRI Nanggala 402.

Bantuan terasa sangat lambat untuk bisa memberikan pertolongan. Seperti tidak ada yang bisa berbuat apa-apa, ketika kapal selam andalan berjuluk ‘Monster Bawah Laut’ itu akhirnya dinyatakan Subsunk dan on Eternal Patrol.

Kini kita hanya bisa mengenang Nanggala 402. Menanamkan filosofi nama Nanggala yang diambil dari nama senjata tokoh pewayangan Baladewa. Dikutip dari Buku Ensiklopedia Wayang Indonesia, Prabu Baladewa adalah salah satu tokoh wayang yang dikenal adil, tegas, jujur, tetapai pemarah dan mudah dihasut. Baladewa mengandung arti bala tentara dewa. Kata bala berarti kekuatan atau prajurit.

Senjata Nanggala berbentuk mata bajak yang dimiliki oleh Baladewa ini konon sangat kuat dan memiliki kemampuan yang super sakti. Konon, Nanggala mampu untuk membelah gunung serta mencairkan besi baja. Nanggala mempunyai kekuatan ilahi yang berasal dari kesaktian Baladewa. Konon Nanggala juga mampu untuk mengeluarkan kekuatan alam yang super besar yang bersumber dari Petir.

Baca Juga :  Selain Zona Merah Covid-19, MUI Jatim Izinkan Salat Id di Masjid dan Lapangan

Pusaka Nanggala lebih dikenal dibandingkan sang pemiliknya, Sang Baladewa karena kedahsyatannya. Karena ampuhnya, Nanggala tak boleh banyak diperlihatkan di depan orang lain. Nanggala dikisahkan bisa melelehkan gunung, membelah lautan, dan mengakhiri nasib matahari dalam sekali tebas.

Sebuah kisah menceritakan kehebatan Nanggala. Suatu sore, Baladewa keluar membawa Nanggala. Sontak ribuan dewa berkuda awak turun. Mereka menghadang langka Baladewa dan berkata. “Hai Baladewa. Jangan kau bawa-bawa pusaka itu keluar padepokanmu sembarangan. Simpan sampai nani Perang Bharatayuda pecah.”

Karena maknanya yang dalam dan kuat tersebut, TNI AL pun menyematkan nama Nanggala untuk kapal selam mereka, yaitu KRI Nanggala 402. Nama tersebut resmi diberikan pada tanggal 28 Agustus 1981. Seperti tercantum dalam Surat Keputusan Kasal Nomor Skep/2902/IX/1981 tertanggal 26 Agustus 1981 mengenai penetapan KRI Nanggala 402 sebagai kapal perang organik milik armada RI.

Kehebatan namanya juga tercermin pada 53 awak kapal selam yang gugur. Kita yang di daratan saja tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi para patriot bangsa itu berjuang selama 4 hari, di 833 meter bawah permukaan air laut. Saat kita berenang dan terperosok di kedalaman dua meter saja, kita sudah panik. Sementara para prajurit kesatria ini berada di dalam kapal selam, di dasar lautan, gelap dan blackout. Tanpa pertolongan apa-apa. Tabah Sampai Akhir.

Baca Juga :  Wanita Muda Ditemukan Tewas Tanpa Busana dengan Luka Tusuk

Kita wajib berterima kasih atas dedikasi, perjuangan dan pengorbanan mereka. Begitu juga dengan ketabahan para anggota keluarganya. Sungguh tak bisa dituliskan betapa sedih dan terpukulnya mereka. Betapa pupus harapan dan semangat mereka. Betapa tangis itu mungkin akan lama terhenti. Tapi kita disadarkan bahwa para prajurit itu adalah orang-orang hebat. Mereka juga punya keluarga-keluarga yang hebat dan istimewa.

Pantang menolak tugas, dan siap segala risiko dalam kondisi apapun adalah wujud pengabdian tertinggi mereka. Perjuangan mereka makin mantap dengan motto korps Kapal Selam TNI AL yang diemban, Wira Ananta Rudira, Tabah Sampai Akhir. Bahkan keluarga mereka pun meneguhkan kata-kata: Kupenuhi Janji, Tak Ada Air Mata.

“Dengan kesedihan yang mendalam, selaku Panglima TNI saya menyatakan bahwa 53 personel yang onboard KRI Nanggala-402 telah gugur. Prajurit-prajurit terbaik Hiu Kencana telah gugur saat menjalankan tugas di perairan utara Bali,” kata Marsekal TNI Hadi Tjahjanto jumpa pers di di Base Ops Lanud Ngurah Rai, Bali, Minggu (25/4) lalu.

Sungguh, ini pelajaran yang luar biasa yang bisa diteladani dan diambil hikmahnya oleh masyarakat Indonesia. Ketabahan dalam menjalankan tugas negara dan ketabahan keluarga para prajurit terbaik bangsa. Selamat jalan Para Patriot Bangsa menuju Surga-Nya.(*)