MUI Sebut Vaksin AstraZeneca Mengandung Babi, AstraZeneca Indonesia Membantah

7
TETAP HALAL: LPPOM MUI telah mengumumkan bahwa vaksin Covid-19 AstraZaneca mengandung babi, namun tetap memperbolehkan penggunaan vaksin karena mendesak.

JAKARTA, Newmalangpos – Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) telah mengumumkan bahwa vaksin Covid-19 AstraZaneca adalah haram karena mengandung babi.


Hal itu ditetapkan melalui Fatwa MUI No. 14/2021 tentang Hukum Penggunaan Vaksin Covid-19 Produk AstraZeneca. Dikutip dari akun Twitter @MUIPusat, Minggu (21/3/2021), fatwa tersebut berlaku untuk vaksin AstraZeneca yang diproduksi di SK Bioscience Co.Ltd, Andong, Korea Selatan.

“Vaksin Covid-19 produk AstraZeneca hukumnya haram karena di dalam tahapan proses produksinya memanfaatkan tripsin yang berasal dari babi,” isi ketentuan hukum yang tertulis dalam fatwa tersebut.


Kendati haram, MUI tetap memperbolehkan penggunaan vaksin tersebut dengan beberapa alasan diantaranya ada kondisi kebutuhan yang mendesak (hajah syar’iyyah) yang menduduki kondisi darurat syar’iy. Alasan selanjutnya adalah adanya keterangan dari para ahli yang kompeten dan terpercaya akan adanya bahaya atau risiko fatal bagi manusia jika tidak segera dilakukan vaksinasi.


Pada saat yang sama, jumlah vaksin halal tidak mencukupi pemenuhan kebutuhan vaksinasi nasional guna mencapai herd immunity dan ada jaminan keamanan penggunaan oleh pemerintah bagi AstraZeneca serta pemerintah tidak memiliki keleluasaan memilih jenis vaksin.


Lebih lanjut, dalam fatwa tersebut, MUI memberikan sejumlah rekomendasi seperti pemerintah diminta memprioritaskan penggunaan vaksin yang halal semaksimal mungkin, khususnya bagi umat Muslim. Selain itu, pemerintah juga harus mengoptimalkan pengadaan vaksin yang tersertifikasi halal dan menjamin serta memastikan keamanan dari setiap vaksin yang digunakan di Tanah Air.


Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Mohammad Masudi menyatakan bahwa PP Muhammadiyah belum mengambil sikap resmi terkait temuan LPPOM MUI. Namun, dia mengakui bahwa sejauh ini Muhammadiyah selaras dengan sikap MUI bahwa vaksin tersebut tetap boleh digunakan karena asas kedaruratan sesuai kaidah ushul fikih dan maqashid syariah. “Prinsip kami sepanjang MUI dan Badan Pengawas Obat dan Makanan tidak ada persoalan, Muhammadiyah akan menyesuaikan,” kata Masudi dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Minggu (21/3/2021).


Masudi juga mengatakan akan mendorong BPOM segera mengeluarkan pernyataan resmi atas kajian LPPOM MUI. “Kami juga tidak punya alat untuk mengkaji vaksin itu, kami akan hormati keputusan MUI dan BPOM,” ujarnya.


Terpisah, AstraZeneca Indonesia menyatakan vaksin buatannya tidak mengandung babi dan hewan lain dalam proses pembuatannya. Pernyataan itu sekaligus membantah kabar yang menyebut vaksin AstraZeneca mengandung babi. “Semua tahapan proses produksi vaksin ini tidak menggunakan dan bersentuhan dengan produk turunan babi atau produk hewani lainnya,” demikian pernyataan AstraZeneca dalam keterangan tertulisnya.


Daalam pernyataan itu, vaksin AstraZeneca, disebut merupakan vaksin vektor virus yang tidak mengandung produk yang berasal dari hewan, sebagaimana yang telah dikonfirmasi Badan Otoritas Produk Obat dan Kesehatan Inggris.
Vaksin ini, menurut AstraZeneca, telah disetujui lebih dari 70 negara di seluruh dunia. Beberapa diantaranya Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Oman, Mesir, Aljazair dan Maroko.


Tak hanya itu, banyak Dewan Islam di seluruh dunia telah telah menyatakan sikap bahwa vaksin ini diperbolehkan untuk digunakan umat Muslim. “Vaksin COVID-19 AstraZeneca aman dan efektif dalam mencegah COVID-19. Uji klinis menemukan bahwa vaksin Covid-19 AstraZeneca 100 persen dapat melindungi dari penyakit yang parah, rawat inap dan kematian, lebih dari 22 hari setelah dosis pertama diberikan,” tambahnya.


Penelitian vaksinasi yang dilakukan AstraZeneca berdasarkan model penelitian dunia nyata (real world). Hasil penelitian itu menemukan bahwa satu dosis vaksin mengurangi risiko rawat inap hingga 94 persen di semua kelompok umur, termasuk bagi mereka yang berusia 80 tahun ke atas.


Vaksin ini juga disebut dapat mengurangi tingkat penularan penyakit hingga dua pertiga.
“Semua vaksin, termasuk Vaksin AstraZeneca, merupakan bagian penting dalam menanggulangi pandemi Covid agar dapat memulihkan keadaan di Indonesia agar dapat memulihkan perekonomian Indonesia secepatnya.” terangnya. (cnn/bis/udi)