Modal Usaha dari Barang Bekas, Kini Karyanya Tersebar Luas

17
ELEGAN: Desy Pratiwi Putri tunjukkan hasil kerajinan Ethnic Crochet Accessories hasil karyanya.(NMP/IST)

Desy Pratiwi Putri Pengrajin Ethnic Crochet Accessories

NewMalangPosIngin berdikari. Begitulah motivasi Desy Pratiwi Putri memulai usaha kerajinan tangan yang dirintisnya. Kini karya tangannya dipakai sejumlah kepala daerah dan artis. Ia juga berdayakan ibu rumah tangga di sekitarnya.

Derap usaha Desy Pratiwi Putri dimulai tahun 2015. Dia memulai dengan merajut tas, syal hingga dompet berbahan dasar benang rajut. Desy pun mengerjakan sendirian di rumahnya di Jalan Minsuwarso Kota Batu.

“Pertama kali buka usaha saya bikin rajutan tas, syal, dompet dan pernak-pernik lainnya,” kata Desy kepada New Malang Pos. Awal mula memulai bisnis kerajinan, ternyata langsung disambut baik konsumen. Dia pun memberanikan diri tampil di publik. Salah satunya mengikuti pameran.

“Pertama kali ikut pameran di Malang. Dari situ aksesori saya laku lumayan banyak,” kenang perempuan kelahiran Surabaya, 1 Januari 1987 ini.

Padahal lanjut dia, kerajinan yang ia buat berbahan barang-barang bekas yang ada di rumahnya. Seperti perca kain batik dan benang-benang rajutan yang lama tak terpakai. Setelah ikut pameran, ia mendapat pemasukan yang dijadikan modal usaha.

“Dari sana saya bisa belanja bahan-bahan aksesori  yang lebih mewah seperti batu alam, mutiara air tawar, kulit, benang-benang rajutan yang unik-unik. Sehingga saya bisa membuat karya yang memiliki nilai lebih tinggi lagi,” papar ibu dua anak ini.

Seiring berjalannya waktu, kerajinan yang ia garap mulai dilirik pejabat hingga artis. Bahkan pesanan dari luar negeri juga jadi pasar baru. Desy mencatat beberapa produk miliknya telah dipakai Wali Kota Batu Dra Dewanti Rumpoko M.Si, Gubernur Jatim  Khofifah Indar Parawansa, Ketua Dekranasda Jatim Arumi Bachsin dan banyak pejabat serta artis yang tak bisa ia sebutkan namanya.

Karya tangan Desy memiliki daya tarik tersendiri. Mengingat kerajinan aksesori  banyak sekali pesaingnya. “Tapi produk silhouette crochet milik saya mempunyai ciri khas yang berbeda. Kerajinan karya saya berbahan dasar rajutan yang dikombinasi  bahan alam. Sehingga sangat unik dan etnik,” bangganya.

Salah satu sistem pemasaran karyanya melalui media sosial. Kemudian mencoba ke Shopee dan  Tokopedia. Serta ikut pameran-pameran mewakili Pemkot Batu atau berangkat sendiri ke beberapa kota.

Sekarang dalam pengerjaannya, ia dibantu beberapa ibu rumah tangga di sekitar rumahnya. Begitu juga bahan baku seperti benang rajut, rami, goni, kulit, batik, kayu, aneka batu alam, dan koin diambil dari beberapa tempat di Kota Batu, Malang, Surabaya, Jombang dan Mataram.

Sedangkan kapasitas produksi diungkapnya memang sangat terbatas agar limited edition karena handmade. Dalam satu bulan ia hanya menggarap 300 pcs.

“Kalau untuk pembuatannya satu kerajinan bisa dibuat dalam waktu dua jam. Itu kalau mengulang model. Kalau membuat model baru, bisa sampai setengah hari, karena harus membuat konsep dan desainnya dulu,” terang Desy.

Konsep dan desain selalu membuat karya dengan bahan baku yang memiliki warna cerah. Dengan begitu konsumen akan melirik dan tertarik. Tak salah memang jika karya miliknya tersebut tersebar di ratusan outlet. Serta mampu menembus pasar di Jepang dan Taiwan. (kerisdianto/van)