Merawat Optimisme, Melawan Kemustahilan

3
idea
Puguh Wiji Pamungkas Founder dan Owner RSU Wajak Husada

NewMalangPos – Hari itu tahun 1258 M atau 763 tahun yang lalu menjadi sejarah kelam bagi kejayaan umat Islam, setelah berkuasa hampir 6 abad dibawah dinasti Abbasiyah, secara tiba-tiba dibumi hanguskan oleh bangsa mongol dibawah kepemimpinan Hulaghu Khan.

Baghdad sebagai pusat peradaban Islam saat itu berubah menjadi kumbangan mayat yang berkelimpangan di jalan-jalan. Sungai tigris yang indah dan mempesona berubah menjadi hitam karena tinta dari ribuan manuskrip yang dilempar ke dalamnya. Perpustakaan, rumah sakit, masjid, madrasah, tempat pemandian dan rumah para bangsawan, toko dan rumah makan –semuanya dihancurkan.

Jatuhnya kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri khilafah Abbasiyah di sana, tetapi juga merupakan awal dari masa kemunduran politik dan peradaban Islam, karena Baghdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan itu ikut pula lenyap dibumihanguskan oleh pasukan Mongol yang dipimpin Hulaghu Khan tersebut.

Akan tetapi skenario Allah itu begitu indah, ditengah ujian yang menimpa umat Islam, Allah lahirkan Saifuddin Qutuz dari rahim penindasan dan pembumihangusan. Dia Saifuddin Qutuz adalah satu dari sekian banyak korban yang berhasil lolos dari pembantian saat itu. Lalu ia di perjual belikan sebagai budak, sampai pada akhirnya ia dibeli oleh Raja kerajaan Mamluk di Mesir. Disana Saifuddin Qutuz bergabung menjadi tentara dan bibit kecermelangannya mulai tampak.

Singkat cerita karena prestasi, wibawa dan kepiawaiannya, ia kemudian di daulat menjadi pemimpin di Mesir. Dalam prosesnya itu Saifuddin Qutuz memiliki tantangan besar untuk menstabilkan kondisi internal negara Mesir yang saat itu terpecah-pecah menjadi banyak golongan dan saling berseteru.

Sampailah pada 25 Ramadhan 658 H bersama kurang lebih 20.000 pasukan masyarakat Mesir yang sudah bersatu, Saifuddin Qutuz memimpin perang melawan pasukan Tatar Mongol di Ain Jalut. Dengan startegi dan persiapan yang memadai Saifuddin Qutuz berhasil mengalahkan pasukan Mongol, sekaligus peperangan di Ain Jalut ini menjadi penanda bahwa mitos pasukan Mongol tidak terkalahkan secara otomatis terbantahkan.

Saifuddin Qutuz adalah manusia yang di kirim oleh Allah untuk merobohkan kekuatan imperium Mongol, semangatnya yang membara untuk menghancurkan Mongol di ilhami oleh sebuah mimpi bertemu Rasulullah, kegigihannya dalam membangun kekuatan di Mesir adalah wujud dari ketulusan dan kecintaanya kepada keadilan dan kemakmuran manusia, kepiawaiannya dalam menghimpun kekuatan dan pasukan adalah wujud dari luasnya wawasan dan pengetahuan serta kecerdasannya dalam membuat keputusan, pemilihan Ain Jalut sebagai tempat untuk berperang adalah wujud dari luasnya wawasan akan kondisi geografis sebuah wilayah.

Begitulah kira-kira Saifuddin Qutuz, yang lahir dan besar dari ketidaknyamanan dan penderitaan, dari menjadi budak yang diperjual belikan sampai menjadi pemimpin negeri Mesir, dari seorang tentara budak menjadi seorang pemimpin perang yang mampu mengkonsolidasikan seluruh kekuatan untuk menghancurkan kekuasaan Mongol saat itu.

Adalah optimisme yang membuat Saifudin Qutuz seolah tidak mengenal lelah untuk mencapai puncak keyakinannya, puncak keyakinan bahwa keadilan dan kemakmuran akan hadir kembali di tengah-tengah bumi.

Optimisme yang lahir dari sebuah keyakinan yang kuat akan janji Allah, membuat Saifudin Qutuz terus berupaya menempa dan memantaskan diri sehingga ia menjadi orang yang memberi solusi dan menyatukan masyarakat Mesir yang terpecah dan terbelah, dan karena optimismenya itu 20.000 pasukan mukmin bisa mengalahkan kekuasan Mongol yang hampir separuh abad berkuasa dan menindas.

Melawan kemustahilan barangkali adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan betapa segala sesuatu yang imposible itu bisa saja terjadi, sesuatu yang berada diluar batas nalar manusia bisa saja terjadi dan suatu hal yang mustahil menurut logika sangat mungkin terjadi.

Bahwa manusia yang memiliki optimisme, dia adalah orang yang memiliki Faith (keimanan) yang mutlak, dia juga memiliki strong conviction (keyakinan yang kuat) akan apa yang ia kerjakan, dia juga menyakini akan sebuah tujuan yang BHA Goal (tujuan yang besar, berani dan imposible), dia juga senantiasa memiliki Passion (gairah) untuk menjalani kehidupan dan menuntaskan semua targetnya, dia adalah manusia yang memiliki Tenacity (kegigihan) yang tidak terbendung, dia juga memiliki Resilience (ketahan yang memadai) dan dia adalah manusia yang seluruh kehidupannya diwarnai dan dijalani dengan Perseverance (Ketekunan).

Hari ini tentu keadaanya sangat jauh berbeda dengan kondisi saat Saifudin Qutuz hidup, kesulitan yang kita hadapipun bisa jadi tidak sepelik yang dihadapi oleh Saifudin Qutuz dan tantangan yang kita hadapi boleh jadi sangat jauh kadar kesulitannya dibandingkan dengan tantangan yang yang dihadapi oleh Saifudin Qutuz, akan tetapi profil Saifudin Qutuz yang hidup 763 tahun yang lalu itu sangat layak untuk kita jadikan sebagai panutan dalam kehidupan kita saat ini. Profil yang mempresentasikan manusia yang senantiasa merawat optimismenya dan melawan setiap kemustahilan yang ada.

Di bulan Ramadhan yang penuh keberkahan ini adalah saatnya kita menanam pohon optimisme kita, pohon optimisme yang yang akan tumbuh subur ditengah-tengah lahan gembur Ramadhan, karena Allah adalah pemberi jalan keluar atas segala kesulitan, karena Allah adalah maha memudahkan atas segala kesulitan, karena Allah adalah pemberi rezeki dari arah yang tidak di sangka-sangka, karena Allah adalah sebaik-baik pemberi kepastian akan sebuah harapan dan karena Allah adalah sebaik-baik pemberi balasan atas segala kerja keras yang kita lakukan, oleh karenanya merawat optimisme dan melawan kemustahilan adalah kunci dari kesuksesan dan kemakmuran sebagaimana Saifudin Qutuz di zaman itu. (*)