MENUTUP JALAN KE SURGA

4

Oleh: Abdul Wahid

Pengajar Program Pascasarjana Unisma, PP AP-HTN/HAN, dan penulis buku

NewMalangPos – Beberapa kasus terorisme yang mencuat belakangan ini, seolah menyampaikan pesan pada rakyat RI, bahwa negeri yang sedang didiaminya ini masih menampilkan wajah sebagai “republik hantu”, dan belum sebagai negeri yang berkeadaban, berkemanusiaan,  dan bernuansa kedamaian. Negeri ini masih didiami oleh manusia bersyahwat membunuh dan menghancurkan.

Bagaimana mungkin bisa menikmati suasana harmonis, damai, atau bebas dari ketakutan, kalau sewaktu-waktu ada bom yang siap mengubur, mencacah, atau mencabik-cabiknya? Bagaimana mungkin bisa mewujudkan atmosfir kenyamanan kalau tiba-tiba ada kekuatan teroris yang sudah atau sedang menyiapkan skenario sistemik, terancang cerdas,  dan terorganisir rapi yang bermaksud meledakannya?.

Pemerintah atau negara boleh saja meyakinkan negara atau bangsa lain, bahwa republik ini bisa dijadikan tempat istirahat yang nyaman, obyek berlibur, atau negara  dengan kekayaan wisata menarik, namun mereka pun berhak berapologi, kalau republik ini belum mempunyai standar pengamanan “tamu-tamu” atau duta-duta  mancanegara yang memadai.

Kita belum lupa dengan kasus, saat baru hendak dikunjungi rombongan tim sepakbola (Manchester United),  ledakan bom sudah menghujani ibu kota (Jakarta). Padahal di ibukota inilah pusat pengendalian kekuatan dan kekuasaan nasional berada, termasuk aparat kemananan (polisi dan TNI). Para kaum teroris atau radikalis seolah bisa memproduksi horor sesuai dengan disain yang diinginkannya.

Tarmidzi Taher dalam Teroris Ibarat Hantu (2006) mengingatkan, bahwa tidak mudah mengetahui berapa jumlah orang yang telah dibina oleh teroris. Proses kaderisasinya bergerak di bawah permukaan dan sangat rahasia. Pembinaan para kader teroris ini sangat sistematis dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Sebab proses brain washing itu memerlukan tahapan yang perlahan, sehingga tidak mengherankan jika hasil produk binaan itu, memiliki keberanian untuk melakukan bom bunuh diri. Hal ini hanya bisa terjadi jika seseorang telah mempunyai world view (pandangan dunia) yang ”berbeda.”

Itu menunjukkan bahwa kaderisasi terorisme terbilang sukses atau bergerak secara terorganisir. Mereka bisa membangun elemen militan yang tidak mudah diendus oleh aparat, pasalnya mereka bisa berpikir, bersikap, dan bertindak setelah berhasil membaca lobang-lobang (kekurangan) yang menjadi ”penyakit” di ranah masyarakat dan kekuasaan.

Semakin banyak kekurangan menjangkiti konstruksi kehidupan masyarakat dan negeri ini, maka semakin longgar ”ruang” bagi hantu teroris untuk menjalankan aksinya, termasuk membangun eskalasi jaringan dan kaderisasinya.

Mereka itu pun telah membangun jaringan kekuatannya dengan  doktrin truth claim atau atas nama amar makruf nahi munkar. Kita misalnya barangkali suatu ketika dikejutkan oleh kehadiran serombongan polisi yang mengobrak-abrik rumah kita, yang dianggap ada salah satu anggota keluarga yang menjadi kader teroris, padahal anak-anak kita masih berusia belasan tahun atau duduk di bangku SMP. Ini dilakukan aparat akibat kecanggihan atau kepintaran teroris dalam ”merekrut” bibit-bibit unggul, seperti anak-anak di bawah umur yang didoktrin tentang jalan ke surga.

 Mereka itu bukan tidak mungkin juga dijadikan ”pilot proyek” estabilitas, akseptabilitas, dan perluasan kinerja subyektifitasnya jalan ke surga yang di antaranya dibentuknya jadi mesin gerakan radikalitas yang oleh mereka makin tidak disadari kalau dirinya sebatas sebagai martil.

Itu maknanya, unsur penting tersebut layak dijadikan bahan refleksi oleh setiap subyek bangsa ini, bahwa gerakan terorisme  berunsurkan pada pembentukan opini atau penciptaan kondisi psikologis publik, yang  membuat publik dihinggapi oleh ketakutan akibat berbagai gerakan yang dilakukannya, termasuk kekuatan yang diandalkan membangun dan mewujudkan, serta menyebarkan gerakan, ideologi, atau doktrin-doktrin jalan ke surganya.

Thomas Santoso  (2002) menyebut, bahwa harus ada keyakinan dalam membedakan terorisme dengan balas dendam (revege). Unsur  penting  mengenai terorisme, yang membuatnya menjadi suatu strategi yang demikian kuat dalam situasi tertentu adalah efektivitasnya dalam menimbulkan ketakutan yang sangat menonjol meskipun terhadap mereka yang tidak secara langsung atau secara kebetulan menjadi obyek serangan teroris.

Bagi teroris atau kadernya yang terbentuk yang sedang jalankan aksinya, tentulah menilai atau meyakini kalau apa yang dilakukannya adalah sangat efektif untuk merebut dan menikmati jalan ke surga, meski dengan menyebarkan ketidakadaban dimana-mana.

Dalam kondisi seperti itu, langkah kaderisasi dalam ”rumah” terorisme tentang memahamkan dan meyakinkan melalui proses pengedukasian atau pembelajaran mengenai jalan surga jelas menentukan kemapanan organisasi. Sementara kemapanan organisasi atau jaringan terorisme tidak gampang hanya dilawan oleh aparat dan masyarakat yang tidak mempunyai modal yang memadai. Minimnya pemahaman tentang ideologi dan gerakan terorisme akan semakin membuat terorisme layaknya hantu yang tidak diketahui rimbanya.

Kondisi itulah yang seharusnya menjadi pekerjaan serius atau ”istimewa” setiap anggota masyarakat, pemerintah (negara), dan keluarga untuk bersama berusaha menutup penyebaran jalan ke surga. Artinya kalau ancaman teroris (layaknya hantu), tugas penanggulangan terorisme bukan hanya menjadi amanah utama aparat Polri dan TNI, tetapi juga melibatkan semua elemen strategis masyarakat (sekolah, pesantren, dan keluarga) dalam mencarikan ”vaksin” yang bisa menghambat doktrin itu. 

Guru agama di sekolah atau dosen di perguruan tinggi, orang tua di rumah, dan elemen sosial lainnya misalnya, berkewajiban menciptakan iklim edukatif dan dielakteka doktrin keagamaan yang berlangsung secara demokratis, progresif inklusif, dan humanistik, supaya mereka bisa meluaskan pandangan anak-anak didik dan anggota masyarakat, bahwa agama dan kebenaran tidaklah absah jika dipaksakan ditegakkan dengan radikalistik, praduga bersalah,  atau cara-cara ”menghakimi.”

Allah mengingatkan “harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhan serta lebih baik untuk menjadi harapan,” (QS. Al-Kahfi: 46).

Peringatan ini selayaknya kita jadikan pijakan edukatif secara serius (exstra ordinary), bahwa sebagai perhiasan, anak-anak kita  bisa gagal jadi perhiasan terbaik akibat diseret oleh hantu teroris  yang mencekokinya dengan doktrin ”harakiri” atau penghalalan kekerasan berkendaraan politisasi agama (jalan efektif ke surga).(*)