Menumbuhkan Resiliensi Guru dalam Adaptasi Teknologi

MALANG, NewMalangPos – Pertama kali membaca informasi Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) terkait diluncurkannya program “Guru Belajar Seri Semangat Guru: Kemampuan Nonteknis dalam Adaptasi Teknologi pada tanggal 21 Juni 2021,  terbersit dalam pikiran penulis dorongan yang kuat untuk bergabung dalam portal tersebut.

Jika dibanding dengan generasi abad 21 (digital) kemampuan IT penulis yakin berada di bawahnya, mereka memiliki kemampuan di atas rata-rata dalam dunia IT dibanding  penulis yang kini sudah memasuki usia perak dalam  mengabdikan diri sebagai guru.

Niat bulat untuk meng’upgrade’ diri dengan mengikuti program tersebut. Program ini terbagi dalam beberapa tahap kegiatan yaitu training nonteknis, inspirasi, tips praktis, dan kolaborasi. Dengan Kurikulum Resilience: Tangguh & Teknologi, Critical Thinking: Berpikir Kritis & Teknologi, Creativity: Konten & Teknik Penceritaan, Communication: Komunikasi Efektif, Empowered Teacher: Penerapan Kelas Campuran, Collaboration: Kolaborasi & Dampak.

Kelebihan dari program ini  guru dapat mengatur secara fleksibel  waktu belajarnya secara mandiri,  mudah mempelajari konten yang sudah diuraikan dalam unit-unit belajar serta guru dapat memilih tantangan sesuai kemampuan dan dapat berkolaborasi dengan guru-guru lainnya.

Kali ini penulis mengikuti program pelatihan untuk meningkatkan kompetensi kemampuan nonteknis sebagai pendukung penggunaan teknologi dalam kegiatan belajar mengajar. Akselerasi teknologi dalam dunia pendidikan akan berdampak lebih besar jika diaplikasikan dengan cara berpikir kritis, komunikasi yang baik, kreativitas dan kolaborasi, atau yang juga dikenal dengan 4C (Critical Thinking, Communication, Creativity, Collaboration).

Baca Juga :  HERITAGE KOTA TUA

Di masa pandemi atmosfer membangun ‘branding’ adalah  tuntutan untuk menjadi cermin bagi diri dan peserta  didik  menjadi nilai tersendiri sebagai potret guru profesional.  Tuntutan harus merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, dan rencana tindak lanjut, serta pengembangan bahan dan materi ajar yang terbarukan harus ‘terupdate’.

Keterbaruan  media ajar guru menjadi sumber referensi dan parameter  peserta  didik dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini harus dilakukan  agar peserta didik tidak merasa ‘boring’ dengan materi yang kita ajarkan. Tidak mudah untuk menyajikan pembelajaran seideal itu namun kita harus berupaya sebagai bentuk tanggung jawab dan tantangan profesi guru yang kita emban.

Guru jangan terjebak dalam keterpurukan dalam menghadapi IT, mengapa ada orang yang bisa cepat bangkit dari keterpurukan, dan sebaliknya? Hal itu karena perbedaan cara dalam bereaksi terhadap kesulitan dipengaruhi oleh sumber daya psikologis yang dimiliki oleh seseorang. Salah satu sumber daya psikologi yang dapat mendorong seseorang untuk bangkit dari keterpurukan adalah resiliensi.

Menurut Grotberg (1999), resiliensi adalah seseorang dalam mengembangkan kemampuan diri untuk menghadapi, mengatasi, memperkuat, dan mentransformasikan pengalaman-pengalaman yang sulit menuju pencapaian adaptasi yang positif. Seseorang yang memiliki resiliensi yang baik dapat menjalani kehidupannya lebih bermakna, dapat melewati masa keterpurukan dengan cepat, percaya diri, tidak mudah putus asa, pandangan hidupnya akan lebih positif, dan memiliki hubungan yang baik dengan orang lain.

Potensi teknologi dimasa pandemi memiliki daya yang cukup kuat dalam untuk menunjang pembelajaran daring, potensi teknologi dalam meningkatkan pembelajaran. Memiliki ruang yang sangat potensial. Namun, perjalanan menjadi pembelajar untuk mencapai tingkat-tingkat manfaat teknologi tersebut cukup lama. Dalam marathon pembelajaran ini, kadang kita akan unggul kadang ketinggalan.

Baca Juga :  Sampah Visual di Sekitar Kita

Di sinilah motivasi merupakan kunci, guru perlu menjadi resilien. Manfaatkan setiap momen keunggulan guru sebagai energi untuk semakin melesat, dan menyadari bawah setiap momen ketinggalan adalah hal yang lumrah dan kita perlu mengatur energi untuk mengejar.

Dalam mengeolola resilensi semakin efektif jika kita mengerti seberapa jauh atau seberapa dekat kita dengan garis finish. Dalam marathon menunju elearning Dr. Ruben Puedentera merancang kerangka SAMR.

SAMR adalah suatu kerangka yang mengilustrasikan tingkat kematangan seseorang memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran. Tingkat kematangan ini terdiri dari (mulai dari tingkat pemula ke mahir): Substitution, Augmentation, Modification, dan Redefinition. Semakin matang kita dalam memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran, semakin besar peningkatan proses dan hasil yang terjadi dalam pembelajaran.

Bagaimana lagi cara guru menggunakan teknologi (hardware dan aplikasi) yang sudah dipelajari  untuk mengembangan pembelajaran? Setiap tingkat lanjut (Augmentation, Modification, dan Redefinition) menuntut guru untuk mengubah kegiatan dan/atau tujuan pembelajaran. Mengetahui ini (kegiatan dan tujuan pembelajaran) membantu guru menakar dengan lebih akurat berapa besar resiliensi yang diharapkan  untuk menerobos masing-masing tahapan tersebut.

Substitution (Teknologi (baru) digunakan untuk kegiatan pembelajaran yang sama persis dengan ketika teknologi tersebut belum diadopsi). Augmentation (Teknologi (baru) digunakan untuk kegiatan pembelajaran yang serupa dengan ketika teknologi tersebut belum diadopsi.

Baca Juga :  SERVANT LEADER ALA UMAR BIN ABDUL AZIZ

Namun demikian, teknologi sekarang sudah mulai digunakan agar kegiatan tersebut lebih) intensif. Modification (Teknologi (baru) digunakan untuk kegiatan pembelajaran yang sudah dimodifikasi cukup jauh dibanding versi sebelumnya.) Redefinition, (Teknologi baru digunakan) untuk kegiatan pembelajaran yang tidak mungkin bisa diselenggarakan tanpa teknologi baru tersebut.

Sebagai guru, terlebih di masa pandemi wajib hukumnya  bagi guru  menumbuhkan semangat adaptif terhadap teknologi. Dalam proyeksi yang paling dekat adalah bagaimana mempola peserta didik tidak kehilangan momentum belajar di masa pandemi. Dengan keterbatasan fisik, koordinasi dan komunikasi “Ruang Pembelajaran” harus tetap dibangun dengan menyenangkan dan ideal untuk menumbuhkan psilokogis yang jauh dari tuntutan maupun beban–beban berat yang selama pandemi menjadi fenomena bagi peserta didik.

Di masa pandemi harapan-harapan ini tentunya  hanya bisa dijawab dengan baik apabila guru memiliki semangat adaptif (kemampuan nonteknis (soft skill))  yang tinggi terhadap esensial  teknologi. Dengan teknologi membantu penerapan pola pembelajaran 4C, ruang kolaborasi  dan berbagai pola komunikasi secara konstruktif  dapat dibangun dengan seluas-luasnya antara guru, peserta didik  dan orang tua.

Semangat guru dalam mengadaptasikan diri terhadap teknologi akan berdampak besar pada pembelajaran. Guru: bangkitlah dari ketertinggalan teknologi karena akselerasi teknologi menjadi jawaban atas keberhasilan dalam kegiatan belajar mengajar saat ini. Semoga (*)

Pilihan Pembaca