Menjala Ikan, Pria Situbondo Tewas Tersambar Petir di Depan Anak Istri

11
Ilustrasi (Foto file: Nur Hadi Wicaksono/detikcom)

Situbondo, NewMalangPos–  Sambaran petir memakan korban seorang pria di Situbondo. Korban adalah Jenjen (37), yang tersambar petir saat menjaring ikan di pantai Dusun Taman Desa Kalianget, Kecamatan Banyuglugur. Ironisnya, peristiwa itu terjadi di depan anak dan istri korban, yakni M Rivaldi dan Misti (35).

Akibat sambaran petir itu, korban mengalami luka bakar di leher depan sampai bagian bawah perut, luka memar di paha kiri, dan luka di leher belakang. Dalam keadaan kritis, korban sempat dilarikan ke RSUD Besuki. Namun, nyawa pria berprofesi petani ini tetap gagal diselamatkan.

“Kejadiannya tadi malam. Saat menjaring ikan itu, korban memang mengajak anak dan istrinya. Ada lagi satu orang tetangganya bernama Pak Selvi (38),” kata Koordinator Pusdalops BPBD Situbondo, Puriyono, dikutip dari detikcom, Minggu (21/3).

Keterangan yang diperoleh menyebutkan, insiden tewas tersambar petir dialami Jenjen sekitar pukul 18.30 WIB Sabtu (20/3) malam. Sebelum itu, Jenjen bersama anak dan istrinya, serta tetangganya, bertolak dari rumahnya di Dusun Curahguno Desa Lubawang Kecamatan Banyuglugur. Mereka langsung menuju tepi pantai Dusun Taman Desa Kalianget.

Tiba di lokasi, mereka langsung menebar jaring di tepian pantai. Dibantu istrinya, korban menebar jaring di posisi barat. Sementara Pak Silvi di sisi timur.

Tak lama, hujan mulai turun. Saat itulah, korban bermaksud mengangkat jaringnya. Namun, saat korban berjalan mendekati jaringnya, tiba-tiba petir menggelegar di lokasi. Korban yang terkena sambar pun langsung terkapar.

Melihat itu, Misti dan Pak Silvi segera mendekat sambil berteriak-teriak minta tolong. Tubuh korban yang mengalami luka bakar langsung diangkat untuk diteduhkan di rumah warga. Namun karena kondisinya terus memburuk, korban akhirnya dilarikan ke RSUD Besuki. Tetapi tetap saja nyawanya gagal diselamatkan.

“Semalam jasad korban langsung diserahkan ke pihak keluarga. Istri korban menolak dilakukan otopsi dan menerima kejadian itu sebagai musibah,” tandas Puriyono. (fat/dtk/ley/nmp)