Menjadi ‘Guru Digital’

new malang pos
Eri Hendro Kusuma, S.Pd Guru SMPN Satu Atap Pesanggrahan 2 Batu

NewMalangPos – Saat ini masyarakat Indonesia telah benar-benar kehilangan jati dirinya sebagai pribadi yang sopan dan santun. Hal ini tergambar pada riset yang dirilis oleh  Microsoft mengenai Digital Civility Index (DCI) yang mengukur tentang tingkat kesopanan pengguna internet saat berkomunikasi di dunia maya. Data menunjukkan jika tingkat kesopanan netizen Indonesia berada pada ranking 29 dari 32 negara. Ini adalah sebuah potret yang cukup memprihatinkan kita sebagai bangsa yang selalu menjunjung tinggi budi pekerti.

Sebenarnya hasil dari riset tersebut tidaklah mengejutkan, melihat banyaknya postingan ataupun  komentar negatif dari netizen yang setiap hari berseliweran di layar smartphone. Dan herannya postingan-postingan yang terkesan negatif memang benar-benar menarik perhatian “mata” sekaligus “jari” dari para netizen, sehingga mengundang viewers maupun komentar sangat banyak.

Hal ini berbanding terbalik apabila postingan-postingan yang bersifat ilmiah yang melintas di layar smartphone langsung saja di scroll atau dilewati begitu saja. Kemudian jika dilihat dari jumlah pengikut di akun-akun media sosial, maka akun-akun yang dibalut dengan sedikit pornografi, atau tokoh yang sering melontarkan argumen kontroversial memiliki jauh lebih banyak pengikut dibandingkan dengan akun tokoh yang memiliki fokus pada karya-karya bersifat positif.

Bahkan tidak jarang pernyataan yang berdasarkan data dan kajian ilmiah harus terbantahkan oleh argumentasi “asal” bicara dan komentar-komentar pengikutnya. Sehingga hal yang benar dianggap menjadi hoaks dan begitu pula berlaku sebaliknya. Perlahan tantangan kehidupan yang semakin kompleks karena globalisasi dan kemajuan teknologi seperti saat ini telah menghilangkan batas-batas moral.

Baca Juga :  Sinergitas OTG Membangun Impian Anak

Fenomena ini jika dibiarkan begitu saja, dapat merubah budaya bangsa yang sebelumnya beridentitas sebagai pribadi yang sopan menjadi bangsa yang “songong” atau “ugal-ugalan.” Saat ini ukuran perilaku “baik”  mungkin sangat samar, karena orang mungkin lupa bahkan tidak tahu akan rambu-rambu dalam berperilaku kehidupan yang sesuai identitas budaya bangsa. Ini yang kemudian dapat menyebabkan otomatisasi dalam perilaku manusia yang berbudaya “songong.”

‘Guru Digital’

Dalam bukunya Satjipto Rahardjo yang berjudul hukum dan perilaku dikatakan bahwa hukum bergeser dari sebuah institusi moral menjadi suatu instrument dan teknologi. Peraturan juga mengalami perubahan jati diri penting yaitu tidak lagi menjadi sebuah peraturan moral akan tetapi lebih sebagai instrument untuk mewujudkan suatu kepentingan yang legal.

Pendapat Satjipto Raharjo tersebut  sangat relevan dengan fenomena dunia digital saat ini. Tak jarang “kata” dalam dunia maya berakibat menjadi “pidana” karena sebuah kepentingan belaka. Ini sebenarnya juga menunjukkan bahwa karakter santun dan toleran  juga telah berganti menjadi beringas, sehingga wajar jika riset menunjukkan data jika kita termasuk negara yang tidak sopan dalam komunikasi digital.   

Baca Juga :  Membangun Bonding Saat Daring

Pendidikan adalah kunci untuk mengembalikan identitas kita sebagai bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan. Saya meyakini bahwa ketidak sopanan digital ini hanyalah “demam”, sehingga diperlukan obat untuk menyembuhkannya. Bagi saya pendidikan adalah obat untuk menyembuhkan demam itu.

Sebanyak apapun pasal dalam undang-undang, jika itu tidak diimplementasikan dan dibiasakan dalam berperilaku maka tujuannya tidak akan tercapai. Sehingga perlu pendidikan digital yang berkarakter agar masyarakat terdidik dan terbiasa dan akhirnya membudaya nilai-nilai karakter ke-Indonesiaan dalam melaksanakan aktivitas digital.

Berbicara masalah pendidikan tidak melulu tentang sekolah formal, akan tetapi lebih luas lagi bahwa pendidikan itu juga ada pada tataran informal dan non formal. Terlebih hari ini pendidikan informal menjadi kunci bagaimana perilaku dalam dunia digital masyarakat.

Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Dunia digital saat ini menjadi lingkungan belajar yang mengakibatkan orang untuk belajar secara mandiri. Sehingga para “guru digital” harus bisa memberikan teladan yang baik kepada para muridnya.

Baca Juga :  TEROKA, Membangun Malang Raya

Siapa “guru digital”? Sesuai dengan falsafati Ki Hajar Dewantara bahwa setiap orang adalah guru, dan setiap tempat adalah sekolah, maka semua orang saat ini bisa menjadi guru digital itu. Utamnya “guru digital” yang memiliki pengaruh seperti para elit pemerintah, tokoh politik, pejabat publik, pegiat media sosial, selebgram dan youtuber harus bisa menerapkan prinsip-prinsip dasar menjadi seorang guru. Mulai dari Ing ngarsa sung tuladha (memberikan teladan atau contoh), ing madyo mangun karsa (membimbing), dan tut wuri handayani (memberikan motivasi).

Jika “guru digital” tersebut bikin gaduh dan provokatif karena kepentingannya masing-masing maka sudah dipastikan pengikutnya pun lebih gaduh dan provokatif bahkan disertai dengan hal-hal yang berbau anarkis. Ibarat peribahasa guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Sehingga para elite dan pegiat media sosial sudah semestinya mulai saat ini berbenah dengan memberikan postingan, tontonan, maupun konten yang mencerminkan jati diri bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi kesopanan dimanapun tempatnya termasuk dalam dunia digital seperti saat ini.

Kepribadian tidak bisa dibentuk dengan paksaan maupun melalui hukuman, melainkan melalui teladan dan bimbingan yang penuh kasih saying. Sehingga tidak ada lagi kata kebencian baik di dunia maya maupun di dunia nyata.(*)