Mengubah Peradaban

Prof Dr H. Maskuri Bakri - Rektor Universitas Islam Malang

MALANG, NewMalangPos – Islam agama universal, tahun pun memiliki sendiri dari peristiwa historis dan sosiologis yang bermakna teologis, yakni tahun hijriah.

Peristiwa hijriah merupakan momentum lahirnya sebuah peradaban baru bagi dunia kemanusiaan, maka layak untuk diperingati bukan saja oleh umat Islam, melainkan juga bagi siapapun di dunia ini yang concern pada kemanusiaan.

          Momentum hijriah dapat dijadikan simbol monumental tumbuhnya sebuah era baru kemanusiaan yang betul-betul konstruktif, dari waktu ke waktu bahkan adaptif sepanjang kehidupan manusia. Hakikat tahun baru hijriah adalah tahun semangat perubahan, perluasan, kebersamaan, perbaikan, kemajuan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, di mana Nabi besar Muhammad SAW mengawali karier kemasyarakatannya di Madinah, mungkin belum menyaksikan masyarakat madani atau civil society seperti yang dikenal di era modern ini.

          Hal itu diakui ilmuwan Barat seperti Marshall GS Hodgson dalam karyanya “The venture of Islam, concience and history in a World Civilization, bahwa momentum hijriah adalah mengubah peradaban mistik dan khurafat menjadi masyarakat rasional dan profesional. Dari tradisi menghafal ke tradisi menulis dan membaca (iqra’), dari tradisi menonjolkan laki-laki dan mengabaikan perempuan ke era kesetaraan gender. Juga dari era perbudakan ke era pembebasan budak, dan dari era diktator para raja ke era masyarakat yang menghargai musyawarah dan demokrasi.

Momentum Perjuangan

          Dapat dipahami bahwa, penanggalan Islam dihubungkan dengan momentum perjuangan Nabi Muhammad SAW, bukannya kelahiran atau kematian Nabi, dan ini memiliki arti yang sangat penting. Penanggalan Hijriah sendiri menggunakan ukuran bulan, bukan matahari seperti kalender miladiyah atau Masehi. Penanggalan Masehi lebih tua daripada penanggalan Hijriah, karena penanggalan Masehi dihubungkan dengan kelahiran Nabi Isa atau Yesus Kritus berdasarkan keyakinan umat kristiani, dan di antara keduanya terpaut sekitar 581 tahun.

          Sejarah tentang kalender hijriah berawal ketika dunia Islam semakin meluas sampai keluar dari jazirah Arab, terutama pada zaman pemerintahan Khalifah Umar meluas sampai ke Mesir, Persia, dan berbagai wilayah di luar Arab. Setelah itu, Khalifah Umar bin Khatthab mengumpulkan para tokoh dan para sahabat di Madinah untuk menyepakati bersama tentang sistem penanggalan pemerintahan, terkait dengan rencana membuat kalender Islam.

          Dalam musyawarah itu muncul berbagai usul tentang momentum yang digunakan sebagai penanggalan Hijriah. Akhirnya yang disepakati para sahabat adalah hijrahnya Nabi Muhammad SAW., dari Makkah ke Madinah. Dari sini bermula penanggalan Islam dinamakan tahun Hijriah, sehingga pada tahun baru Hijriah sebagai momentum untuk penyegaran, peningkatan kualitas iman, dan ketaqwaan pada Allah SWT. Dalam salah satu hadits Nabi Muhammad SAW, “Perbaruilah keimanan kalian dengan membaca dua kalimat syahadat.”

Baca Juga :  Kerja Berat Herd Immunity

          Hadits ini meminta senantiasa memperbarui komitmen keislaman dalam setiap event penting. Misalnya hari raya keagamaan, nasional, personal (ulang tahun), dan bahkan hari kesyukuran saat mendapatkan kenikmatan apapun. Mengapa Rasulullah memerintahkan untuk senantiasa memperbarui keimanan?

          Karena manusia itu bukan malaikat, melainkan warga umat Islam yang tidak luput dari berbagai kekhilafan dan dosa. Dosa-dosa dan kejahatan, baik dilakukan di dalam keluarga maupun di ruang publik, mulai dosa kecil sampai dosa besar, sepantasnya  disesali dan memohon ampun kepada Allah di setiap waktu, dan tidak menunggu saat idul fitri tiba.

          Sebagai seorang yang menghambakan diri pada Allah SWT, ada tiga hal yang wajib dilakukan setiap kali memasuki pergantian tahun hijriah. Pertama, wajib bersyukur terhadap umur yang ditambahkan Allah SWT, betapa banyak saudara, keluarga dekat, bahkan sahabat seperjuangan yang tidak bisa menyaksikan pergantian tahun baru karena keburu dipanggil Allah SWT.

          Untuk itu sangat tidak tepat bila merayakan pergantian tahun baru dengan berfoya-foya, bergelimang kemewahan, dan gemerlapan, sisi lain masih banyak masyarakat yang menderita dan kelaparan. Sebaiknya justru lebih banyak muhasabah (introspeksi diri), terhadap perjalanan hidup hingga saat ini.     Sudah berapa banyak investasi kebaikan yang telah ditebarkan pada orang lain dan masyarakat umum, dibanding dengan sifat hasut, dengki, menyakiti orang, dan bahkan mengekang orang akan berbuat kebajikan untuk masyarakat, bangsa dan negara.        

          Kedua, harus memohon ampun kepada Allah SWT, terhadap segala dosa dan maksiat yang telah dilakukan di sepanjang tahun, baik terkait dengan hablun mina Allah, maupun hablun mina al nas. Ketiga,  wajib memohon bimbingan dan petunjuk Allah SWT, dan orang-orang yang mengerti baik-buruk, para alim, ulama’ yang lebih dekat pada Allah SWT, agar tahun baru dan tahun-tahun mendatang senantiasa dapat memperbaiki diri, baik hubungan sesama manusia, manusia dengan alam sekitar, dan manusia dengan Allah SWT, agar mendapatkan ridla, karunia dan perlindungan-Nya.

Baca Juga :  Gilang Desak Segera Datangkan Pemain Asing

          Pada masa mendatang diprediksi sebagai tahun power struggle, penuh kekerasan akibat semakin ketatnya persaingan kehidupan, baik bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, agama, seni, dan seterusnya. Harapan kepada masyarakat, khususnya umat Islam Indonesia, agar tahun baru diperingati dengan kematangan yang ditandai dengan kesadaran dan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual yang tinggi, meninggalkan pola hidup konsumerisme ke pola hidup penghematan. Apalagi sekarang dunia sedang dilanda pandemi Covid 19, dunia sedang opname dan beradaptasi dengan new normal, yang memaksa manusia untuk mengubah pola hidupnya.(*)

TEROKA

Tatanan Baru //

Oleh: Prof. Dr. H. Maskuri Bakri, M.Si

Rektor Universitas Islam Malang

          NEW MALANG POS Pandemi Covid 19, dalam konteks hijrah mengandung semangat perubahan, dan pola hidup baru untuk membangun rasa optimisme yang tinggi, agar bisa mengatasi pandemi covid 19, yaitu dengan cara memakai masker, cuci tangan, tidak berkerumun, hidup bersih, dan memahami arti pentingnya melindungi diri, teman, keluarga, dan masyarakat di mana saja berada. Semangat mengedukasi dan mengubah pola pikir, sikap dan prilaku masyarakat agar memahami arti pentingnya kesehatan, yang menjadi dasar pijakan tumbuh dan berkembangnya bidang pendidikan, budaya, ekonomi, sosial, politik, dan seterusnya, yang dikembangkan  dengan penuh kesabaran, kreatif, dan inovatif. Rasulullah SAW., dan para sahabatnya telah melawan rasa sedih dan takut dengan berhijrah, meski harus meninggalkan tanah kelahiran, sanak saudara, dan harta benda mereka. Nah  sekarang di era pandemi ini, hijrahnya tidak seperti yang dilakukan oleh Rasulullah, akan tetapi hijrah dari hidup yang kurang sehat menjadi sehat, proses pendidikan yang kurang normal menjadi normal, lambatnya pertumbuhan ekonomi dengan rekayasa teknologi untuk percepatan pertumbuhannya, terbatasnya intraksi sosial menjadi leluasa berintraksi, banyaknya kedholiman menjadi berkurangnya kedholiman, banyaknya kedengkian menjadi minimnya sikap dengki seseorang, tampaknya sikap apatis menjadi dinamis, dan lain sebagainya.

Oleh karenanya, esensi dan substansi hijrahnya Rasulullah Muhammad SAW., dan para sahabatnya sesungguhnya untuk mempertahankan aqidah tauhid dan kebenaran Islam. Bukan hanya hijrah fisik dari gangguan dan ancaman kaum kuffar makkah. Oleh karena itulah Rasulullah SAW., mengingatkan dan mewanti-wanti para muhajirin agar hatinya tidak berpaling dari Allah, agar tindakannya tidak menyelisihi aturan-aturan Allah, dan supaya menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai muara dari niat dan amal. Rasulullah bersabda: “…Barang siapa yang hijrahnya karena atau untuk urusan dunia atau perempuan yang akan dinikahi maka hijrahnya hanya untuk tujuan itu. Dan barang siapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya akan mendapatkan balasan dari Allah dan Rasuln-Nya.” (HR. Bukhori Muslim).

Baca Juga :  Kurang Sangar

Maka dari itu, marilah memaknai dan menyikapi tahun baru hijriyah yang beberapa hari lagi datang dengan benar, bermuhasabah diri untuk membuka lembaran-lembaran baru; Pertama, kepada para orang tua yang selama ini mendidik anaknya kurang benar, hijrahlah dengan mendidik dan mengajarkan mereka aqidah dan ibadah yang benar, ajarilah mereka akhlaq yang baik, mulia, beri keteladanan dalam hidup sehari-hari dengan baik; Kedua, kepada para guru yang selama ini sebatas mengajar  sebagai profesi untuk mencari uang, hijrahlah untuk menjadi pembimbing, fasilitator, mediator, pendidik, pengayom, pengarah dengan ikhlas mencari ridla Allah SWT, didiklah murid-muridmu dengan benar, jangan hanya mentransfer ilmu kepada mereka saja, tetapi perbaiki akhlaq, sopan-santun, beri pemahaman keislaman dan aqidah yang benar, tidak ekstrem kanan atau ekstrim kiri, tetapi dudukkanlah bahwa Islam itu “rahmatan lil’alamien”, bukan agama yang menakutkan apalagi kekerasan, karena anak adalah amanah Allah untukmu;

Ketiga, kepada para pejabat yang selama ini tidak melaksanakan amanah dengan benar; korupsi, lalai dan tidak menegakkan hukum dengan adil maka hijrahlah, bertaubatlah dan laksanakan amanah yang Allah berikan kepadamu dengan sebaik-baiknya sesuai dengan aturan dan ridla-Nya; Keempat, kepada para pemuda yang selama ini tenggelam dalam jurang kesia-siaan dan kemaksiatan, hijrahlah, manfaatkan waktumu untuk kebaikan, tinggalkan segala hal yang tidak bermanfaat, dekatkan dirimu kepada Allah dengan bertaubat dan memperbanyak amal kebaikan. Tutuplah auratmu dengan busana muslimah, jadikanlah Allah sebagai muara cintamu, tempatmu bersandar, dan Kelima, kepada semua,  yang selama ini banyak melakukan kesalahan, sering melanggar aturan Allah, sering melalaikan kewajiban, dan tidak memperdulikan saudara-saudara sesama muslim, dan sesama manusia. Mari hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, bertaubat, perbanyak kebaikan, kerja didasari karena Allah, dan meningkatkan kualitas amal ibadah kepada-Nya, dirikan salat dengan benar,  pahami Al-Qur’an dan sunnah Rasul, jadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai muara dan tujuan dari niat dan amal untuk meniti kehidupan yang lebih baik dan bermakna. (*)

Pilihan Pembaca