Menghindar pun Saya Pasti Disuntik

50
new malang pos
Fotografer New Malang Pos Muhammad Firman saat menjalani vaksinasi pertama di Kota Batu. (NMP- Kerisdianto)

Rumah Kita

Jurnalis New Malang Pos (NMP) Kerisdianto dan fotografer Muhammad Firman mengawali vaksinasi Covid-19 di Kota Batu. Mereka menunaikan kewajibannya sebagai warga negara memerangi pandemi Virus Korona. Dua kru NMP yang bertugas meng-cover berita di kota wisata itu punya cerita masing-masing ketika harus berhadapan dengan jarum suntik. Kerisdianto misalnya, penyintas Covid-19, sedangkan Firman punya trauma jarum suntik.

NewMalangPos – “Apa tidak ada vaksin yang berbentuk permen atau cair? Kenapa harus suntik,” begitulah kelakar pertama yang saya (Muhammad Firman) tulis di media sosial milik saya sendiri. Itu muncul ketika Presiden Joko Widodo akan mewajibkan semua warga Indonesia wajib disuntik vaksin Covid-19. Sejujurnya, saya punya traumatis sendiri soal suntik saat saya masih menginjak pendidikan jenjang Sekolah Dasar (SD).

Saya tidak berpikir bahwa saya akan disuntik vaksin lagi. Setelah bertahun-tahun saya menghindari hal yang berbau suntik. Bahkan ketika liputan yang berbau suntik saya harus memejamkan mata ketika memotretnya.

Kembali lagi ke soal diwajibkan warga Indonesia untuk disuntik vaksin Covid-19, saya sempat berpikir menjadi salah satu yang menolak vaksinasi. Karena alasan utamanya adalah takut. Bukan kontroversi soal jenis vaksin yang digunakan. Melihat Presiden Jokowi ketika suntikan perdana vaksin Sinovac pun menambah ketakutan saya. Karena ketika saya lihat, tepat saat dokter yang menyuntikkan vaksin ke presiden gemetaran.

“Aduh kalau nyuntiknya seperti itu ya medeni (menakutkan),” ujar saya dalam hati. Pun dengan melihat itu membuat saya semakin takut. Tapi lambat laun ketika memotret vaksinasi di Kota Batu, saya merasakan biasa saja. Ya ada sedikit rasa takut.

25 Februari 2021 saya akhirnya memberanikan diri untuk disuntik vaksin. Padahal di hari itu saya tidak ada rencana sama sekali untuk ikut program vaksinasi tahap dua di Kota Batu yang memang ada alokasi untuk jurnalis. Saya hanya berpikir, “Saya menghindarpun nantinya ya akan ditetap disuntik”. Dengan membulatkan tekad akhirnya pukul 11.00 saya berangkat ke Graha Pancasila untuk di suntik vaksin Covid-19.

Saya meminta Kerisdianto ikut menemani. Dan dia sudah divaksin dahulu pada pagi hari di hari yang sama. Saya melangkah ke Graha Pancasila untuk divaksin pun tangan sudah keringat dingin. Apalagi saat mendaftar. Jantung sudah berdebar-debar. Saya masih terbesit harapan di meja dua saat general check up, saya tidak lolos. Mungkin karena tensi tinggi atau apapun itu agar tidak lanjut vaksin.

Ternyata semuanya normal. Hasil screening penyakit bawaanpun tidak ada. Oke saya harus lanjut. Perasaan semakin tidak enak karena sudah takut tidak karuan. “Bu dokter jangan lihatkan suntiknya di depan saya ya dok,” itu pesan pertama saya ketika duduk di meja tiga untuk di suntik vaksin.

Dokter dan beberapa perawatnya hanya tertawa. Kaki saya sudah tidak bisa diam. Bergerak terus untuk menghilangkan grogi. Tangan sudah keringat dingin. Ketika perawat mengangkat lengan kaos kiri saya, langsung menutup mata. Saya tidak mau melihat suntik dihadapan saya dan tidak mau tahu prosesnya.

Dan ternyata sudah. Hanya terasa sedikit sekali sakit saat jarum suntik masuk ke lengan saya. Saya membuka mata dan melihat tangan gemetaran. Dan menunggu 30 menit untuk screening setelah vaksinasi.

Tangan sudah mulai nyeri. Sembari menunggu saya pun berbaur dengan teman jurnalis lainnya untuk ngobrol sambil menghilangkan rasa takut saya. 30 menit screening pascavaksinasi sudah selesai dan tidak ada keluhan yang berarti. Hanya nyeri di tangan.

Tidak berhenti di situ, sekitar 60 menit kemudian meninggalkan Graha Pancasila.  Rasa ngantuk yang hebat datang disertai kepala pusing. Saya berpikir mungkin saya capek tapi setelah saya tanya teman yang sama-sama divaksin tadi merasakan hal yang sama.

“Aduh kok efeknya seperti ini. Habis ini harus ikut program medsos kantor. Bisa apa enggak ini naik motor,” ucap saya ke seorang teman. Saya hampir memutuskan untuk tidak ikut Program Enak-Enak NMP yang selalu saya ikuti. Tetapi akhirnya saya paksa untuk ikut meski rasa ngantuk, tangan nyeri dan pusing terus terasa hingga saya datang di Rumah Kita NMP.

Keesokan harinya rasa pusing sudah hilang dan tinggal rasa nyeri tangan yang masih terasa. Dijadwalkan lagi tanggal 11 Maret untuk suntik vaksin dosis kedua. Semoga saya bisa melaluinya dengan kuat dan berharap vaksin Covid-19 ini adalah program vaksinasi terakhir yang saya ikuti. Jangan ada suntik lagi di hidup saya. Karena menakutkan.   

Saya, Kerisdianto masuk dalam bagian yang ikut vaksinasi tahap kedua. Itu karena profesi saya sebagai jurnalis di NMP.  Pekerjaan saya menuntut saya bertemu dengan berbagai latar belakang narasumber. Itu artinya saya rawan terpapar Covid-19.

Memang benar. Profesi yang harus bertemu dengan banyak orang secara langsung membuat saya harus ketat menerapkan prokes agar tidak terpapar Covid-19. Namun seiring berjalannya waktu hal yang tidak saya inginkan datang.

Ya, saya terkonfirmasi Covid-19 pada bulan November 2020 lalu. Saya masuk dalam kategori orang tanpa gejala (OTG). Sehingga ketika saya terpapar, saya tidak merasakan adanya gejala seperti batuk, pilek, hilang indera perasa atau penciuman.

Saat dinyatakan positif Covid-19 itulah saya melakukan isolasi mandiri (isoman). Kurang lebih 14 hari saya isoman di rumah. Selama isoman saya mengonsumsi makanan bergizi, buah-buahan, vitamin dan beberapa obat-obatan. Tak lupa menyemprot seluruh isi rumah dengan disinfektan secara rutin.

Memang benar dengan asupan tersebut selama 14 hari saya kembali melakukan swab. Hasilnya Alhamdulillah negatif Covid-19. Kemudian saya bisa bekerja kembali dengan menerapkan prokes pada awal Desember 2020.

Seiring berjalannya waktu. Pada Kamis (25/2) kemarin Dinas Kesehatan Kota Batu memfasilitasi jurnalis yang ngepos di Kota Batu ikut vaksinasi. Saya ikut kebijakan itu. 

Untuk diketahui, sesuai Permenkes bahwa penyintas Covid-19 yang telah dinyatakan sembuh lebih dari tiga bulan boleh mengikuti vaksinasi. Itu menyakinkan saya untuk ikut vaksin. Begitu juga dorongan dari istri dan keluarga saya agar kesempatan tersebut tak disia-siakan.

new malang pos
Wartewan New Malang Pos Kerisdianto usai menjalani vaksinasi. (NMP-M.Firman)

Pengalaman saya sendiri saat ikut vaksinasi tahap kedua awalnya merasa ada ketakutan dan kecemasan. Namun ketakutan tersebut luntur dengan melihat record tenaga Kesehatan (nakes) dan pejabat lainnya yang telah mengikuti vaksinasi terlebih dahulu di tahap pertama.

Bahkan di Kota Batu tak ada laporan dari mereka yang telah divaksin ke Komda Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Kota Batu karena adanya efek samping. Mayoritas laporan mereka yang divaksin merasakan nyeri, ngantuk dan lapar. Itu juga saya rasakan.

Saya merasakan nyeri saat disuntik, nyeri akan hilang dalam waktu 30 menit. Kemudian saya merasakan lapar. Sehari saat dilakukan vaksinasi saya makan sampai empat kali. Kemudian ngantuk. KIPI lainnya saya tidak merasakan.

Dari pengalaman itu, saya sebagai penyintas Covid-19 mengajak semua masyarakat ikut dalam vaksinasi. Pasalnya vaksin akan membuat kita kebal Covid-19. Saya yakin Pemerintah akan melakukan yang terbaik tidak akan menjerumuskan warganya.

Sebaliknya, bagi masyarakat yang belum mendapatkan kesempatan vaksinasi Covid-19 bisa menerapkan protokol kesehatan lengkap 5M. Memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Karena dengan menerapkan 5M adalah bagian dari vaksin Covid-19.

Mengikuti vaksinasi dan menerapkan prokes adalah cara kita untuk menjaga diri sendiri, keluarga, teman ataupun kolega yang dekat dengan kita. Jangan sampai karena ego membuat kita menyesal untuk selamanya karena  kehilangan orang-orang terdekat akibat ikut andil dalam menyebarkan Covid-19.  (eri/fir/van)