Mengenal Karakter Siswa dari Breakout Room

Oleh: Nur Rofidah Diyanah

Guru SMP Islam Sabilillah Malang

Pembelajaran daring, kini sudah menjadi makanan sehari-hari seluruh siswa di dunia, mulai dari pendidikan taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Hal ini tidak bisa kita hindari mengingat angka penyebaran dan penularan virus Covid-19 yang masih tinggi. Perpanjangan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro di Kota Malang yang akan kembali diberlakukan mulai 23 Maret 2021 hingga dua minggu ke depan, tentu juga berdampak kepada perpanjangan kegiatan pembelajaran daring.

Tidak sedikit siswa maupun guru yang sudah merasa bosan dan kuwalahan dalam melakukan pembelajaran secara daring. Di samping kurang jelasnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan oleh guru, siswa juga merasa jenuh dengan metode pembelajaran yang bersifat penjelasan singkat dan dilanjutkan dengan penugasan.

Pembelajaran ceramah dan penugasan dalam pembelajaran daring, tentu memberikan dampak yang berbeda terhadap psikis dan mental siswa. Menurut Nadiem Makarim Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam wawancaranya yang dikutip portal online menyebutkan bahwa, “building antara dua manusia tidak bisa terjalin melalui zoom.”

Pada kenyatannya, tentu terdapat perbedaan atmosfer belajar yang terjadi pada pembelajaran daring dan luring. Siswa tidak dapat menerima transfer energi positif dari guru, di samping itu banyak godaan selama pembelajaran daring. Seperti game, You Tube, sosial media dan lain sebagainya yang mengganggu konsentrasi belajar siswa. Terlebih, pengaruh tersebut tidak dapat sepenuhnya diawasi oleh guru maupun orang tua.

Baca Juga :  Rasa Rindu

Pembelajaran secara daring juga mengurangi interaksi siswa dengan siswa yang lain, padahal seharusnya siswa dapat bermain, bertanya dan berdiskusi dengan teman sebayanya. Kini akses untuk menjangkau teman sebayanya sangat terbatas. Begitu pula interaksi antara guru dengan siswa juga terbatasi, misalnya interaksi langsung dengan siswa saat menjelaskan materi, memberikan pengarahan, memberikan umpan balik dan lain sebagainya. Hal ini juga menjadi latar bekalang menurunnya kulitas kegiatan belajar mengajar di masa pandemi ini.

Tentu bagi siswa yang kurang bijak dalam mengambil sikap akan terjadi penurunan di berbagai lini, salah satunya adalah karakter. Karakter siswa yang sedianya baik, ramah, rajin, periang, bersemangat, berkemauan tinggi untuk belajar kini mengalami degradasi.

Salah satu bukti nyata penurunan karakter siswa saat pembelajaran online adalah siswa mematikan kamera, mematikan mic, tidak berinterkasi dengan baik, tidak mengenal temannya dan lain sebagainya. Hal tersebut menjadi PR bagi orang tua, guru dan penentu kebijakan pembelajaran agar generasi milenial ini tetap mampu bersaing di masa depan.

Pembelajaran daring menjadi tantangan tersendiri bagi guru untuk tetap berinovasi agar siswa dapat tetap belajar dengan baik tanpa mengesampingkan karakter dalam berperilaku. Pembelajaran daring, secara tidak langsung juga memaksa guru untuk beradaptasi dengan teknologi secara cepat dengan pembelajaran berbasis teknologi.

Baca Juga :  MENAKAR HABITAT PEMUKIMAN RUSUN

Pembelajaran berbasis teknologi juga didukung oleh pihak pengembang teknologi yang selalu berinovasi memberikan fasilitas bagi penggunanya untuk mempermudah proses pembelajaran. Seperti halnya proses pembelajaran luring, guru dapat bertemu dengan seluruh siswa, dan melangsungkan kegiatan pembelajaran. Terdapat berbagai macam fasilitas dalam aplikasi yang mendukung proses pembelajaran, seperti share screen (berbagi layar), annotate (aplikasi menulis/ menggambar), emoticon, chat bahkan break out room.

Salah satu aplikasi yang jarang dipergunakan saat proses pembelajaran adalah break out room. Guru dapat menggunakan aplikasi break out room untuk mengenal karakter siswa lebih dalam. Siswa dapat dikelompokkan secara acak maupun terstruktur, sesuai dengan kebutuhan. Siswa akan mendapatkan pengarahan terlebih dahulu mengenai apa yang harus dilakukan dan apa yang akan didiskusikan, sembari guru menjelaskan fasilitas yang dapat digunakan oleh siswa.    Kemudian kegiatan dapat dilanjutkan dengan pengelompokan dan penunjukkan ketua kelompok, harapannya ketua kelompok dapat bertanggung jawab atas keberlangsungan diskusi. Selama proses diskusi, siswa tidak dapat berpindah pada kelompok lain, kecuali atas izin guru. Guru dapat dengan leluasa masuk dan keluar dari satu room ke room yang lain. Guru dapat memberikan tanggapan terhadap permasalahan yang sedang didiskusikan oleh kelompok. Siswa juga dapat melakukan pengajuan untuk pemanggilan guru jika mengalami kesulitan.

Baca Juga :  Reuni Aksi Oktober dan Ongkos Mahal Kebijakan

Proses diskusi merupakan saat yang baik bagi guru untuk mengenal karakter siswa. Guru akan lebih paham bagaimana siswa berinterkasi dan menanggapi suatu permasalahan yang didiskusikan. Pada waktu diskusi, guru dapat mengamati berbagai macam karakter asli siswa dalam bersosialisasi dengan teman sebayanya. Hal ini merupakan alternatif bagi guru untuk mendalam karakter siswa meski dalam pembelajaran daring.

Berbagai macam karakter siswa yang sering muncul pada saat diskusi adalah siswa yang mampu mengatur jalannya diskusi, dapat kita kategorikan sebagai siswa dengan jiwa kepemimpinan. Siswa yang selalu memberikan masukan atau usulan, dapat kita kategorikan sebagai siswa yang kritis. Adapula siswa yang tidak menyalakan kamera atau mic, adalah siswa yang perlu kita gali.

Kegiatan seperti ini tidak dapat hanya dilakukan satu kali saja, perlu dilakukan kegiatan break out room secara berkala agar guru dapat tahu dengan baik karakter siswa. Harapannya dengan guru semakin mengenal karakter siswa, guru mampu memberikan treatment yang tepat, sesuai dengan kebutuhan siswa.

Guru dapat memasangkan siswa yang ulet dan telaten dengan siswa yang merasa kesulitan belajar, ataupun guru dapat memberikan perlakuan khusus kepada siswa yang sulit berinteraksi sehingga pembelajaran dapat belangsung dengan baik.(*)