Idea Mengembalikan Humanisme

Mengembalikan Humanisme

MALANG, NewMalangPos – Baru-baru ini, tindakan ‘tak berperikemanusiaan’ lagi-lagi dipertontonkan ke hadapan masyarakat luas di dunia maya. Unggahan video yang mempertontonkan oknum anggota TNI AU sedang menginjak kepala seorang pria di Merauke, yang tersebar di media sosial adalah tindakan ‘tak berperikemanusiaan’ yang dimaksud.

Adapun alasan oknum anggota tersebut melakukan tindakan yang tidak semena-mena itu berdasarkan berita yang dimuat di beberapa media (27/7) lalu, adalah ingin mengamankan pria tersebut lantaran diindikasikan sedang mabuk dan dilihat cek-cok dengan penjual bubur ayam.

Tetapi, berita tersebut menuai banyak komentar dari sejumlah netizen Indonesia. Netizen mengomentari berita tersebut tidak benar, karena pria itu hanya juru parkir yang difabel alias jukir difabel. Bahkan, sejumlah netizen mengatakan bahwa seantero Merauke pun mengenalnya sebagai jukir difabel. Sehingga netizen mencurigai kalau oknum petugas itu telah melakukan tindakan rasis karena tidak paham dengan bahasa isyarat yang digunakan oleh jukir difabel tersebut.

Karena itu, kejadian tersebut kemudian menjadi trending topik di media sosial utamanya Twitter. Dan oknum anggota tersebut akhirnya mendapat hujatan dari banyak netizen Indonesia. ‘Pecat’ menjadi kata hujatan yang trending dalam merespon tindakan ongkum anggota tersebut dalam kejadian yang ditampilkan melalui unggahan video itu.

Mengembalikan Humanisme

Terlepas mabuk atau tidaknya jukir difabel yang terkenal seantero Merauke itu. ‘Jukir difabel juga manusia’ ya, begini kata yang terlintas dalam pikiran saya setelah menyaksikan video tersebut. Mungkin, pikiran itu saya dapat dari pelajaran budi pekerti, tata krama alias pelajaran kemanusiaan yang tak henti-henti dicekoki ke dalam pikiran saya sejak mengenyam sekolah dasar, bahkan sejak usia belia hingga sekarang.

Hal itu memang pelajaran sederhana yang tanpa dipelajari, semua manusia akan memahaminya. Tapi, sebagai seorang mahasiswa yang bisa dibilang belum cukup matang pengalaman, pengetahuan saya tentang kemanusiaan tiba-tiba timbul ketika menyaksikan kejadian di unggahan video itu. Segala macam konsep pemikiran dari beberapa pemikir filsafat humanisme—utamanya humanisme religius—tiba-tiba mengilhami pikiran saya untuk mengatakan tindakan itu ‘tak berperikemanusiaan’ sama sekali.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, humanisme diartikan sebagai aliran yang bertujuan menghidupkan rasa perikemanusiaan dan mencita-citakan pergaulan hidup yang lebih baik. Menurut Franzs Magnis Suseno (2007), humanisme sedikitnya berarti martabat (dignity) dan nilai (value) yang dimiliki setiap manusia untuk meningkatkan kemampuan-kemampuan alamiah atau yang disebut sikap spiritual yang diarahkan kepada humanitarianisme.

Sejalan dengan konsep di atas, Mangun Harjana dalam bukunya Isme-Isme dari A sampai Z (1997), menurut humanisme manusia mempunyai kedudukan yangistimewa dan kemampuan lebih dari makhluk lain karena harkat, martabat, dan rohaninya.

Pun demikian Ali Shari’ati (1996), humanisme memandang manusia sebagai makhluk mulia. Adapun prinsip-prinsip yang disarankan humanisme adalah didasarkan atas pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok manusia yakni keselamatan.

Itu artinya, humanisme mengarah pada satu aspek yakni kemanusiaan. Sehingga humanisme dapat dipahami sebagai upaya meneguhkan sisi atau aspek kemanusiaan guna mewujudkan pergaulan hidup yang lebih baik (sejahtera) dalam kehidupan bermasyarakat dengan prinsip keselamatan.

Maka dalam konteks permasalahan ini, tindakan oknum anggota yang menginjak kepala seorang jukir difabel itu adalah bentuk dari tindakan yang ‘tak berperikemanusiaan.’ Karena tindakan itu, sama sekali tidak mencerminkan martabat, nilai, dan manusia sebagai makhluk mulia atau istimewa. Terlebih, prinsip keselamatan untuk mewujudkan pergaulan hidup yang baik sedikit pun tak terlihat.

Untuk itu, kita perlu mengembalikan pandangan humanisme ini untuk menghapus jejak tindakan ‘tak berperikemanusiaan’ itu. Sehingga, kembalinya pandangan humanisme ini akan memperkokoh pijakan tindak-tanduk pergaulan kita dalam upaya menyempurnakan aspek kemanusiaan untuk mewujudkan pergaulan hidup yang lebih baik (sejahtera) dan berperikemanusiaan.

Semua Manusia itu Sama

Memandang kenyataan dengan prinsip dualitas adalah suatu perspektif yang juga relevan kita gunakan untuk melihat masalah tindakan yang ‘tak berperikemanusiaan’ itu. Karena prinsip dualitas acap kali dijadikan sebagai worldview atau suatu konsep yang menggambarkan cara pandang alias pandangan hidup manusia secara umum tanpa melihat bangsa atau agama.

Meminjam istilah ‘prinsip dualitas’ salah seorang cendikiawan muslim asal Palestina, Ismail Raji Al-Faruqi (1989) menyatakan prinsip dualitas adalah pandangan hidup manusia tentang dunia yang hanya memiliki dua kenyataan, yaitu Pencipta dan ciptaan.

Pencipta hanya ada satu yaitu Tuhan (Maha segalanya) dan ciptaannya adalah banyak. Adapun ciptaan berupa alam semesta yang berarti seluruh alam dan se-isinya, termasuk di dalamnya manusia.

Memperhatikan pengertian ciptaan dalam konsep prinsip dualitas, maka didapatkan kesimpulan bahwa semua manusia itu sama. Sama-sama ciptaan, bahkan dengan hewan sekalipun. Sehingga, pada hakikatnya tidak ada manusia yang bermartabat dan bernilai lebih di antara manusia yang lain. Karenanya, seluruh ciptaan hanya tunduk dan pasrah kepada kenyataan yang berbeda dari mereka yaitu Tuhan.

Sementara, yang membedakan antarciptaan hanyalah fungsi yang dimiliki. Seluruh ciptaan itu sama secara hakikat, tetapi berbeda secara fungsi. Alam, hewan, dan manusia itu sama secara hakikat, namun mereka berbeda secara fungsi alias memiliki fungsinya masing-masing.

Antarmanusia pun demikian, hanya dibedakan oleh fungsi yang dimiliki setiap mereka. Jukir memiliki fungsi mengamankan dan menjaga kendaraan yang ditinggal pemiliknya. Penjual bubur ayam memiliki fungsi membuat bubur ayam dan menjualnya, demikian seterusnya.

Begitulah prinsip dualitas yang dijadikan pandangan hidup manusia secara umum. Sangat tidak disarankan bagi manusia mengaku-ngaku memiliki martabat dan nilai lebih dari manusia lain, karena lagi-lagi semua manusia itu sama. Tapi soal fungsi, manusia sangat disarankan untuk menjadi manusia yang fungsional, entah itu menjadi jukir, jualan bubur ayam dan sebagainya.

Maka kenyataan atas kesamaan hakikat dan perbedaan fungsi yang dimiliki, kini wajib disadari oleh setiap manusia. Terlebih, menjadikan kenyataan itu sebagai pandangan hidup manusia secara umum. Sehingga, kesadaran atas kenyataan dan menjadikan pandangan hidup berdasarkan prinsip dualitas akan membawa manusia menuju pergaulan hidup yang lebih baik untuk menjadi manusia yang berperikemanusiaan.(*)

Exit mobile version