Mengakar Kuat

Prof Dr H. Maskuri Bakri - Rektor Universitas Islam Malang

NEW MALANG POS – Pendidikan pada dasarnya adalah memerdekakan manusia dari keterkungkungan, ketidakberdayaan, berubah lebih merdeka namun tetap humanis, profesional, beradap dan berkeadaban.

Serta menjunjung tinggi potensi yang dimiliki agar berkembang untuk memanusiakan manusia sehingga dapat mengantarkan posisinya lebih bermartabat, berbudaya dan berperadaban tinggi sehingga menjadi tangga kemajuan kehidupan manusia.

Dalam mengembangkan potensi, bakat dan minat yang dimiliki peserta didik secara optimal dan paripurna, tentunya tidak dapat dilakukan semata-mata melalui daring, tetapi harus dilakukan secara luring atau tatap muka langsung untuk membangun mentalitas anak, apalagi di era merdeka belajar, dengan mempertimbangkan potensi kearifan lokal, nasional maupun global. Pembelajaran yang dilakukan secara luring harus tetap mengindahkan protokol kesehatan agar semua elemen masyarakat tetap terlindungi dan sehat.

Penyelenggaraan pendidikan bila tidak mempertimbangkan potensi anak akan menyebabkan mereka tercerabut dari akar budayanya, karena mereka tidak mengenal budayanya dengan baik sehingga ia menjadi orang “asing” dalam lingkungan budayanya.

Baca Juga :  Derby Legenda, Rian D'Masiv Perkuat Arema Legend

Selain menjadi orang asing, yang lebih mengkhawatirkan adalah dia menjadi orang yang tidak menyukai budayanya.
Inilah yang menjadi kegelisahan pemerintah dan para pemerhati pendidikan ketika pendidikan hanya dilakukan melalui daring. Jauh dari interaksi sosial, kurang adanya kasih sayang guru, dan berbagai keterbatasan dalam proses pembelajaran. Sedangkan pendidikan sudah sewajarnya bila melakukan dengan cara revolusi mental, sehingga peserta didik selalu beradaptasi dengan dinamika dan perkembangan zaman, baik dari sisi kreatifitas dan inovasinya selalu adaptif-progresif.

Momentum Strategis
Budaya yang menyebabkan peserta didik tumbuh dan berkembang adalah budaya di lingkungan terdekat (Kampung, RT, RW, Desa) berkembang ke lingkungan yang lebih luas yaitu budaya nasional bangsanya dan budaya universal yang dianut oleh umat manusia (global), apalagi sekarang era revolusi 4.0.

Apabila peserta didik menjadi asing terhadap lingkaran-lingkaran budaya tersebut pada gilirannya ia tidak mengenal dengan baik budaya bangsanya dan dirinya sebagai anggota budaya bangsa. Oleh karenanya dengan merdeka belajar merupakan suatu momentum strategis agar peserta didik lebih familier terhadap lingkungan, belanja masalah dan menyelesaikan masalah itu dengan berbagai kearifan lokal yang dimiliki.

Baca Juga :  Dugaan Kekerasan Seksual SMA SPI Kota Batu, Pihak Sekolah Bantah Adanya Kekerasan Seksual

Dalam situasi demikian, maka dia sangat rentan terhadap pengaruh budaya luar dan bahkan cenderung untuk menerima budaya luar tanpa proses pertimbangan (valueing). Kecenderungan itu terjadi karena dia tidak memiliki norma dan nilai budaya nasional yang dapat digunakan sebagai dasar untuk melakukan pertimbangan dalam menentukan pilihan.

Maka dari itu peserta didik atau guru, serta orang tua perlu memegang prinsip “mempertahankan budaya lama yang baik, dan mengambil budaya baru yang lebih baik”, di sini akan terjadi akulturasi budaya sehingga menjadi menarik, anggun dan bermartabat.

Untuk itu, semakin kuat dasar pertimbangan yang dimiliki semakin kuat pula kecenderungannya untuk menjadi warga negara yang baik untuk memfilter budaya. Pada titik kulminasinya, norma dan nilai budaya akan menjadi norma dan nilai budaya bangsanya. Dengan demikian maka warga negara Indonesia akan memiliki wawasan, cara pandang, cara berpikir, cara bertindak dan menyelesaikan masalah yang sesuai dengan norma dan nilai ciri ke-Indonesianya.

Baca Juga :  REVOLUSI KENABIAN PADA MASYARAKAT DIGITAL

Hal ini sesuai dengan fungsi utama pendidikan yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu “mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.”

Oleh karena itu aturan dasar yang mengatur pendidikan nasional, telah memberikan landasan yang kokoh untuk mengembangkan keseluruhan potensi diri seseorang sebagai anggota masyarakat dan bangsa, dan sekaligus telah dijamin dalam UUD 1945.

Proses pengembangan nilai-nilai yang menjadi landasan dari karakter tersebut menghendaki suatu proses yang berkelanjutan (never ending process), dilakukan melalui berbagai materi pembelajaran yang ada dalam kurikulum kewarganegaraan, sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, bahasa Indonesia, IPS, IPA, matematika, agama, pendidikan jasmani dan olah raga, seni serta keterampilan.

artikel Pilihan