MEMBREDEL BISNIS PARA KARTEL

          Polemik minyak goreng (migor) satu harga masih juga belum kunjung usai. Dari pantauan media dan fakta di lapangan, banyak penjual migor yang masih enggan menurunkan harga seperti yang dihimbau oleh pemerintah dengan alasan menghabiskan stok lama.        Alasan tersebut termasuk logis, sebab stok lama dibeli dengan harga lama pula, kisaran Rp 16.000 per liter, sedangkan harga yang ditetapkan oleh pemerintah adalah Rp 14.000 per liter. Artinya, apabila penjual masih punya stok lama dan diminta menyesuaikan harga migor dengan himbauan dari pemerintah, penjual akan rugi sekitar Rp 2000 per liter.          Di sisi lain, masyarakat selaku konsumen juga tidak punya pilihan. Operasi pasar yang dijanjikan oleh pemerintah untuk membuat stabil harga migor juga dirasa kurang merata dan belum menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

          Dari polemik migor tersebut, kita belajar bahwa sejatinya ada kartel yang menguasai beragam komoditas dan hajat orang banyak. Laporan Harian Tempo misalnya, mengutip bahwa produsen migor dikuasai oleh segelintir orang saja, namun dengan beragam brand atau merk.     Tanpa harus menyebut merk tersebut, kita pasti bisa berdecak, “duh dia lagi dia lagi.” Sehingga amat wajar apabila data dari Forbes menunjukkan bahwa 10 orang terkaya di Indoensia versi Desember 2021 lalu, masih didominasi oleh wajah-wajah lama. Taipan rokok, tambang, media juga pemilik perkebunan dan properti, masih menghiasi 10 daftar orang terkaya di Indonesia.     Bisnisnya begitu menggurita, dan sangat mungkin menciptakan gerbong-gerbong kartel baru. Terlebih apabila mereka mulai tertarik untuk bermitra secara strategis, seperti misalnya tunangan antara anak bos media A dan B. Bisnis media menjadi bersatu dalam bahtera rumah tangga, bermetamorfosis menjadi bisnis keluarga.

Baca Juga :  Supporter Nekat, Korbannya Klub

          Sehingga, migor sejatinya hanya satu komoditas sembako yang terdampak bisnis para kartel tersebut. Jika diurai, akan lebih panjang lagi daftarnya. Misalnya, bisnis ayam. Mulai dari benih hingga ayam dijual dalam produk olahan atau ayam potong segar, ada kartelnya.

          Media juga sama, pemiliknya dari hulu ke hilir, menguasai dari media cetak hingga media elektronik. Maka tak heran, banyak yang bilang kita sedang masuk di era neolib. Liberalisasi gaya baru. Dengan cara yang legal. Dengan didukung beragam kemudahan.

          Masyarakat hanya bisa diam sambil mengelus dada, tanda tak punya kuasa, tak sanggup berbuat apa-apa. Maka, seyogyanya ada langkah bersama, untuk membredel bisnis para kartel dan membatasi perputaran uang (baca, kekayaan) hanya pada segelintir orang dan kelompok saja.

          Pertama, Pemerintah perlu turun tangan dengan langkah konkret. Stabilisasi harga (dalam kasus migor) bisa dilakukan dengan operasi pasar migor satu harga. Selanjutnya, dugaan permainan para kartel harus diusut tuntas melibatkan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan pihak terkait.

Baca Juga :  Harga MinyaK Goreng Makin Meroket

          Jangan sampai masyarakat menjadi korban terus menerus. Lonjakan kasus Omicron sudah cukup membuat masyarakat terkejut. Belum lagi, bila rem darurat ditarik, maka kebijakan lockdown dengan beragam istilahnya, semakin mempersulit kondisi perekonomian masyarakat (menengah ke bawah tentunya).

          Langkah konkret selanjutnya, pemerintah melalui Bulog (dan dinas terkait) seharusnya bersedia membeli stok migor dari penjual yang terlanjur menyimpan stok migor harga lama. Sehingga penjual bisa membeli migor dengan harga baru untuk dijual lagi dengan satu harga sesuai kebijakan pemerintah.

          Kedua, saatnya masyarakat beralih mencari produk substitusi. Migor, disadari atau tidak, merupakan salah satu penyumbang penyakit, terutama migor yang berasal dari kelapa sawit. Jika masyarakat diminta mengganti migor dari bahan baku lain seperti biji bunga matahari dan sejenisnya, tentu harganya lebih mahal.

          Maka produk substitusi yang bisa dilakukan oleh masyarakat adalah dengan tidak mengonsumsi makanan yang digoreng terlebih dahulu. Menu makanan dengan dikukus atau direbus bisa jadi substitusi yang lebih sehat, sehat bagi kondisi tubuh manusia juga sehat bagi kantong beserta dompetnya.

          Melonjaknya harga migor di Indonesia, sepertinya juga merupakan teguran dari Tuhan, supaya kita mulai terbiasa mengkonsumsi makanan yang sehat, tanpa perlu digoreng dan makan gorengan berlebihan.

          Ketiga, edukasi. Agar pemerintah dan masyarakat sama-sama sadar akan dampak negatif kartel dan produk yang mereka produksi, maka perlu edukasi. Edukasi bisa dilakukan oleh LSM atau NGO, yang tentunya kontra terhadap kartel dan produk mereka. Rendahnya literasi merupakan salah satu aspek penting yang juga mempengaruhi kondisi ekonomi dan kesejahteraan sebuah bangsa. Sehingga, sektor edukasi ini bisa disuarakan oleh para pegiat LSM/NGO yang ada.

Baca Juga :  Terus Bertambah, Ratusan Pasien Covid-19 Baru Penuhi RSUD dr Soetomo Surabaya

          Edukasi bisa dilakukan dengan cara beragam, misal webinar, penyajian data statistik, diskusi santai dan sejenisnya. Yang terpenting, tujuan tercapai, agar pemerintah dan masyarakat sadar dan melek literasi bahaya kartel dan produknya.

          Apabila Pemerintah dan masyarakat bisa saling kolaborasi menerapkan dua hal konkret tersebut, sepertinya harga mahal migor tidak akan terjadi lagi di Indonesia. Sebab, dalam teori ekonomi, hubungan antara supply and demand adalah hubungan kasuistis.

          Harga mahal karena memang kebutuhan tinggi. Jika masyarakat tidak tergantung pada makanan yang digoreng, permintaan akan turun. Mau dinaikkan setinggi apapun, maka migor juga tidak akan laku karena masyarakat sudah terbiasa dengan produk olahan tanpa digoreng.

          Semoga, kita bisa terbebas dari bisnis dan monopoli dari para kartel. Membredel bisnis para kartel tentu tidak bisa dilakukan dengan satu langkah saja, namun butuh kolaborasi dan dukungan dari semua pihak. Semoga, Indonesia bisa lebih sehat, tanpa terbelenggu oleh bisnis para kartel dan tergantung pada produk-produk mereka.(*)

artikel Pilihan