MEMBANGUN MANUSIA DESA

NEW MALANG POS – Negara kita Indonesia diperkirakan akan mengalami bonus demografi pada tahun 2020 sampai dengan 2035. Hal ini di kuatkan dengan data yang di sampaikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Januari 2021 awal tahun ini.

Data itu menunjukkan sebuah gambaran bahwa dari 270,20 juta jiwa penduduk Indonesia 70,72 persen didominasi oleh usia produktif yang rentang usianya antara 15-64 tahun, dan hal ini sekaligus menggambarkan bahwa Indonesia sekarang berada pada masa bonus demografi.

Bonus demografi adalah sebuah kondisi dimana jumlah usia produktif di sebuah negara lebih banyak dibandingkan dengan segmen usia yang lainnya. Menurut data yang sama dari Badan Pusat Statistik, bahwa komposisi usia dan generasi yang mempresentasikan bonus demografi di Indonesia adalah 27,94 persen dari generasi Gen-Z dengan rentang usia 8-23 tahun, 25,87 persen dari generasi milenial dengan rentang usia 24-39 tahun dan 21,88 persen dari generasi Gen X dengan rentang usia 40-55 tahun.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), bahwa desa adalah Indonesia dan Indonesia adalah desa, bahwa SDM unggul Indonesia kuncinya ada di desa. Oleh karenanya menjadi sebuah hal yang penting dan menjadi keniscayaan bahwa membangun manusia desa, masyarakat yang ada di desa, para pemuda di desa yakni generasi Gen X, Gen Z dan Milenial desa untuk menjadi prioritas pemerintah dan semua elemen bangsa.

Baca Juga :  Lanal Malang Vaksinasi 1.000 Masyarakat

Hari ini ada kurang lebih 56 persen penduduk Indonesia yang tinggal di daerah perkotaan dan diprediksi akan terus mengalami peningkatan hingga 67 persen pada tahun 2025 atau hanya 33 persen saja orang yang tinggal di desa. Urbanisasi yang terjadi di Indonesia dipicu oleh beberapa faktor di antaranya kemiskinan, minimnya fasilitas di pedesaan, standar hidup yang rendah, dan terbatasnya lapangan pekerjaan, serta faktor penarik yang meliputi fasilitas kota memadai dan standar hidup yang tinggi.

Fenomena bonus demografi, urbanisasi, intensifikasi dana desa dan tantangan bangsa Indonesia ke depan menjadi sebuah pekerjaan rumah yang cukup serius untuk dipikirkan dan diselesaikan. Mengoptimalkan positioning dana desa sebagai salah satu resources untuk membangun masyarakat di desa adalah salah satu anak tangga menuju Indonesia maju dan berdaulat masyarakatnya.

McKinsey Global Institute merilis hasil penelitian menyoal keterampilan yang diperlukan oleh masyarakat hingga tahun 2030, keterampilan yang juga mutlak dimiliki oleh masyarakat desa. Menurutnya ada lima jenis keterampilan yang yang harus di miliki agar seseorang bisa survive dan mampu bertahan sampai tahun 2030.

Pertama, Keterampilan fisik dan manual. Menurut McKinsey performance masyarakat Indonesia dalam bekerja trendnya mengalami penurunan, bahkan menurutnya diprediksi sampai tahun 2030 turun hinga 11 persen. Jika ditarik dari data BPS yang memang mayoritas hari ini adalah Gen Z dan Milenial dimana segmen masyarakat ini memiliki karakteristik khusus dalam behaviournya, tidak heran jika trend penurunan performance itu akan benar-benar terjadi.

Baca Juga :  Wali Kota Malang Tunggu Hasil Swab, Sekda Dirawat

Oleh karenanya mutlak dibutuhkan pendidikan mental yang serius kepada masyarakat desa dan masyarakat Indonesia secara umum saat ini, bahwa bekerja dengan keras, memiliki ketekunan yang kuat dan semangat bekerja yang konstan dalam jangka waktu yang lama mutlak dibutuhkan.

Kedua, Keterampilan kognitif dasar. Kognitif dasar ini adalah mengenai kompetensi seseorang dalam melakukan konstruksi dalam berpikir dan melakukan inovasi. Jika saja masyarakat desa, para generasi milenial dan gen Z di desa memiliki konstruksi pikiran yang memadai dan mampu secara terus menerus untuk berinovasi, bisa dipastikan kualitas SDM di desa pun akan meningkat.

Ketiga, Keterampilan kognitif lanjut (tingkat tinggi). Di era VUCA seperti sekarang ini, dimana situasi cepat berubah, tidak bisa diprediksi dan kondisi sosial masyarakat semakin kompleks, sangat dibutuhkan kemampuan dan kompetensi masyarakat Indonesia untuk memiliki konstruksi berpikir secara tinggi dan adaptif terhadap perubahan yang sangat cepat.

Keempat, Keterampilan sosial dan emosional. Di era bonus demografi sekarang, menjadi sebuah tantangan tersendiri dalam menjaga attitude sosial kemasyarakatan. Kehidupan yang semakin tidak menentu dan cepat berubah mengakibatkan tingkat kepekaan sosial dan attitude sosial seseorang menjadi berkurang. Oleh karenanya keterampilan sosial dan manajemen emosional menjadi hal terpenting dalam membangun masyarakat Indonesia.

Kelima, Keterampilan teknologi, hari ini dimana orang menyebutnya sebagai distruption era, yakni sebuah fase zaman dimana semua tradisional digantikan dengan digital, menuntut kita untuk bisa dengan cepat melakukan adaptasi. Kecakapan teknologi akan membawa seseorang bisa meraih kesuksesaan saat ini. Banyak anak muda-anak muda start-up yang dengan mudahnya mengalami pertumbuhan diri dan dan bisnisnya secara eksponensial karena kecakapanya terhadap teknologi.

Baca Juga :  Fasilitasi Sanggar Belajar, FOZ Bantu Pasang Wifi

Tidak terlepas juga dalam konteks membangun manusia desa, kemajuan teknologi dan kompetensi digital wajib dimiliki oleh seluruh masyarakat desa. Kompetensi teknologi dan digital ini secara otomatis akan menaikkan martabat dan pendapatan masyarakat desa.

Sebagaimana desa Huaxi di Jiangsu China dimana masyarakatnya rata-rata memiliki tabungan Rp 3,3 miliar dan penghasilan penduduknya rata-rata Rp 237 juta, sebuah contoh desa yang mampu memanajemeni sumber daya alam dan sumber daya manusianya yang ada di desa, sehingga desa dan masyarakatnya bisa bertumbuh secara eksponensial.

Membangun manusia desa adalah berbicara tentang bagaimanakah pemerintah mampu menghadirkan dan menjawab semua permasalahan yang meyebabkan masyarakat tidak lagi betah untuk tinggal di desa. Sebagaimana yang tersebut di atas, yakni mulai dari menyiapkan fasilitas yang memadai, infrastruktur yang mendukung, ketersediaan lapangan pekerjaan, adanya jaminan standar kualitas kehidupan dan meningkatkannya keterampilan dan kompetensi masyarakat desa.

Sehingga bisa dipastikan jika semua permasalahan di atas terjawab, bukan suatu hal yang mustahil akan semakin banyak orang betah tinggal di desa. Secara otomatis akan menaikkan kualitas dan masyarakat Indonesia, karena pada dasarnya membangun manusia desa adalah membangun Indonesia.(*)

artikel Pilihan