Mbrebes Mili

Pengalaman Mantan Wartawan Anita Dwi Retnowati, Sekeluarga ‘Lulus’ dari Positif Covid-19 (2)

NewMalangPosSetelah berburu rumah sakit untuk suaminya, Anita mendapati kenyataan bila dia dan Intan, sang putri, juga positif Covid.

Sambil terus menunggu kabar antrean rumah sakit bagi sang suami, Rachmad, Anita yang merupakan relawan Covid-19 di 2020 juga riwa-riwi berburu obat meskipun dia juga sudah resmi harus berjuang pula melawan virus Covid-19.

Tanggal 9 Juli, saya dan Intan swab antigen di RSI Unisma, hasil positif. Siang itu juga saya bertekad harus sudah dapat resep khususnya untuk Intan. Karena beberapa hari sebelumnya dia ngeluh alergi dinginnya (flu meler saat pagi) makin parah. Dan pada hari kami swab, kondisinya bertambah sakit kepala, meriang dan agak batuk.

Akhirnya saat itu juga saya daftar konsultasi ke dokter spesialis paru dokter Gatot Ismanoe di RSI Unisma. Dapat jadwal konsultasi sore lewat video call melalui asistennya. Sore itu juga resep dibuat dan seperti yang sudah saya duga, banyak obat yang tidak ada di apotek.

Oh ya, di sela nunggu hasil swab itu, tiba-tiba saya di telepon petugas dari RSL Ijen kalau suami saya bisa masuk. Saya langsung mbrebes mili mewek dalam hening karena tetangga saya harus inden 4 hari. Saya hanya sehari. Saat itu juga langsung pulang dan angkut suami ke RSL tanpa sempat bawa koper isi baju dan kelengkapan isolasi lainnya. Dan Intan saya tinggal di rumah sendirian.

Baca Juga :  Kecamatan Sukun Gelar Vaksin Berbasis Wilayah untuk 1.600 Warga

Setelah suami beres di RSL, saya kembali berburu obat dari satu apotek ke apotek lain lewat WA call tanya obat ini itu ada nggak. Ya, saya positif Covid dan masih klayaban berburu obat di parkiran salah satu apotek di Kota Malang saya nangis mewek nelongso. Kepada pegawai yang saya WA, saya mengaku kalau positif dan tidak bisa ambil obat, jadi minta tolong agar resep saya fotokan saja, uang saya transfer dan tolong obat di lempar ke jendela belakang mobil saya.

Dia menolak dan tidak mau kompromi karena harus minta resep asli/kertas. Padahal obat yang saya butuhkan ada semua. Dan tidak mungkin saya turun atau minta tolong tukang parkir.

Saya beneran tidak marah saat itu, pegawai apotek itu melindungi banyak orang dan keluarganya. Rekan rekannya dan pembeli yang sore itu antrenya mengular. Apalagi ini salah satu apotek terlengkap di Malang. Jangan sampai tutup. Saya hanya nangis mewek nelongso saja.

Setelah pamit dan dia minta maaf, saya pergi lagi dalam keadaan bingung mau kemana lagi. Lalu tiba tiba saya inget menyimpan nomor WA apotek Kimia Farma Jalan Sokarno Hatta. Allahu Akbar. Mbak pegawai jawab WA saya dengan cepat setelah saya fotokan resep obat.

“Ada obat yang kosong tapi ada merek lain sebagai pengganti bila mau,” jawab mbak-mbak pegawai apotik.

Baca Juga :  Berkurban untuk Diri Sendiri atau Orang Tua yang Sudah Meninggal

Saya hanya bilang manut pasrah.

Lalu info kalo saya positif Covid jadi gak bisa ke apotek. Mbaknya bilang oke tidak masalah.  Saya nangis lagi di Magrib yang nelongso itu. Setelah transfer uang, malamnya obat dianter ke rumah saya.

Hiks…… Akhirnya anakku dan aku selamettt sambil nunggu obat dianter, saya mulai packing koper baju suami untuk dikirim ke RSL dan kirim nasi merah. Karena benar-benar capek dan tahu diri kalo positif, saya pesen grab car dan chat ke driver kondisi saya dan tujuan antar. Saya bilang, koper sudah saya semprot desinfektan jadi aman diambil.

Akhirnya grab datang, tapi bilang minta maaf tidak mau antar koper karena takut. Baiklah pak. Saat itu sudah sekitar pukul 21.00. Saya sudah ga bisa mikir, selain khawatir suami yang kelaparan karena belum makan sejak siang. (Meski di sana diberi makanan tapi suami saya tidak makan nasi putih). Akhirnya saya ngebut nyetir berangkat sendiri ke RSL. Maapkan daku alam semesta…. dan saya lihat semua petugas RSL mulai dari satpam pembuka pager, mengenakan baju APD lengkap. Saya sedikit merasa lega.

Tanggal 10 setelah lapor ke RT kalo kami serumah positif, saya dan Intan isolasi di rumah.

Saya mulai flu meler parah, hidung mampet kalau malam dan pagi. Intan mulai sambat sakit tenggorokan dan mata pedes panas berair, kalo kena sinar lampu terasa perih. Lidah tidak pahit tapi gak napsu makan sama sekali dan anehnya perut terasa laparrrr bangettt.

Baca Juga :  Pesantren Anwarul Huda Generasi Ketiga Pondok Gading

Tanggal 12 juli, Siang hari saya di telpon dari nomor tidak dikenal, ternyata itu dokter dari RSL. Jantung saya langsung mak lap. Kak dokter bilang kalo suami saya saat itu dipasang oksigen dan harus pindah ke rumah sakit permanen dengan alat yang lebih lengkap dan mendukung.

Saya langsung panik gak karuan, sudah pasti dimana mana RS penuh. Meski pihak RSL akan mencarikan RS rujukan, tapi tidak bisa janji kapan akan dapat. Bisa antre beberapa hari bahkan kemungkinan terjelek tidak dapat. Gusti… meweklah saya diam diam biar Intan gak liat.

Dalam kekalutan yang luar biasa, saya lupa kalo kampus tempat suami saya ngajar punya rumah sakit sendiri RS Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Bahkan sebelum ketemu RSL, saya gak kepikiran. Saat itu di otak saya, semua RS dijawab penuh. Titik.

Lalu inget kalo rekan kerja suami saya Bu Frida Kusumastuti sempat tanya kondisi saya di messenger, dan beliau adalah anggota Satgas Covid UMM. Kepada bu Frida saya menceritakan kondisi suami, dan langsung membantu.

“Alhamdulillah malam itu suami diangkut ambulans dari RSL ke IGD isolasi RS UMM ditemani sopir dan satu perawat,” katanya.

Hiks… terima kasih bangettt buat dokter-dokter di sana dan rekan rekan suami di kampus dan RS. Salim. (jon)

artikel Pilihan