Sutiaji Segera Eksekusi Lahan Cuci Mobil Madyopuro

NEW MALANG POS, MALANG – Pembebasan sisa lahan di jalan kembar Jalan Ki Ageng Gribig di lahan cuci mobil dekat pintu keluar masuk pintu tol Malang di Madyopuro, mulai ada titik terang. Targetnya, akhir tahun sudah dapat dibebaskan dan dapat segera dibangun untuk pelebaran jalan.

Wali Kota Malang Drs H Sutiaji menegaskan lahan yang belum terbebas di kawasan pintu tol Malang di Kelurahan Madyopuro akan segera dibebaskan dalam waktu dekat. Nilai appraisal lahan dan nominal uang ganti untung kepada pemilik lahan sudah dipegang Suitiaji.

“Sudah keluar nilai appraisalnya. Sudah kami tawarkan pada pemilik lahan, dan mereka juga sudah memahami,” ungkap Sutiaji kepada New Malang Pos.

Ia menjelaskan, pihaknya masih menunggu administrasi pembebasan lahan tersebut. Lahan tersebut berada dibawah kewenangan pemerintah pusat. Sejak era Presiden Joko Widodo,  lahan yang hendak dijadikan kawasan tol masuk dalam proyek strategis.  Sehingga kewenangan untuk melakukan tindakan harus meminta izin terlebih dahulu pada pemerintah pusat.

“Kami sedang proses untuk meminta rekomendasi ke provinsi. Agar ada pendelegasian kewenangan,” tegas Sutiaji.

Saat ditanya kapankah kemudian eksekusi lahan bisa dilakukan? Sutiaji tidak menyebut secara gamblang. Ia hanya menegaskan, jika optimis sebelum akhir tahun  ini dapat diwujudkan.

Sebelumnya, lahan tempat usaha cuci mobil ini memang tidak dapat dibebaskan. Saat Tol Pandaan-Malang selesai pun lahan seluas 350 meter persegi itu masih berada di tengah jalur jalan kembar Ki Ageng Gribig. Pemilik awal bernama H Nur Soleh.

Pemilik lahan masih enggan memberikan lahan tersebut kepada pemerintah. Karena merasa memiliki selama bertahun-tahun. Menurut informasi yang didapat, sertifikat yang dimiliki atas nama Nur Soleh terbit pada 1999.

Pada tahun 2016 lalu Badan Pertanahan Nasional (BPN) sudah pernah mengukur luasan dan ruasan lahan bangunan itu. Hasilnya, bagian depan bangunan cuci mobil dan penjualan suku cadang kendaraan itu masuk dalam wilayah siteplan pembangunan jalan kembar.

Hasil pengukuran sempat menunjukkan terdapat bangunan fisik disana melebihi batas yang tertera pada sertifikat. Luasan lahan bangunan berdasarkan sertifikat sekitar 27 meter x 33 meter. 

Setelah diukur, ujung bagian depan panjang itu hanya mencapai bagian dalam rumah dan bangunan. Sementara bagian depan (yang kini menjorok hingga pada  bagian jalan kembar Jalan Ki Ageng Gribig) tidak masuk dalam sertifikat lahan yang dimiliki pemilik bangunan.

“Kalau untuk nominal berapa yang akan diberikan kita belum bisa kasi tahu. Nanti saja,” pungkas Sutiaji. (ica/aim)