Spesialis Bentuk Komunitas Sosial

dr Ariani
dr. Ariani, M.Kes, Sp.A(K) Spesialis Bentuk Komunitas Sosial

Dr Ariani, M.Kes, SpAK aktif melakukan kegiatan sosial sejak enam tahun terakhir. Ia membentuk sejumlah komunitas.  Perempuan berhijab ini pertama kalinya mendirikan komunitas Walk Together and Love People with Down Syndrome (WORLDS).

Komunitas tersebut menaungi anak dengan down syndrome agar dapat diterima oleh orang tua maupun lingkungan sekitar. Berdirinya komunitas ini berawal dari keresahan dr Ariani melihat banyak orang tua tidak bisa menerima anaknya yang down syndrome. Hal ini membuat ia prihatin, tak jarang orang menutup-nutupi kondisi anaknya karena merasa malu.

“Saya memiliki banyak pasien sindrom down, sehingga kala itu berkeinginan untuk menyatukan mereka dalam sebuah komunitas agar semakin kuat,” ujarnya.

Baca Juga : Dari Malang untuk Indonesia

WORLDS sejak awal berdiri hingga sekarang memiliki ratusan anggota. Selain di Malang, tersebar di berbagai kota. Seperti Blitar, Kediri, Banyuwangi, Surabaya, Pasuruann, Sidoarjo dan lain sebagainya.

Awal mula membentuk komunitas ini, ia harus memutar otak agar para orang tua mau terbuka dan tidak menutup diri yang dapat berpengaruh terhadap perkembangan sang anak. Ariani tidak hanya mengajak bergabung namun juga memberikan pelatihan keterampilan setiap Sabtu. Pelatihan tersebut diberikan secara gratis, tujuannya agar anak dengan down syndrome juga memiliki keterampilan.

“Kegiatan pelatihan kerap saya promosikan ke Sekolah Luar Biasa (SLB), lama-lama lewat getok tular banyak yang datang. Saya bikin gratis supaya tidak terlalu banyak alasan untuk para orang tua menolak datang, karena saya tahu rata-rata banyak yang sosial ekonomi rendah,” jelasnya.

Dengan adanya pelatihan seni ternyata membuat anak-anak suka. Tak jarang mereka berani mengeksprsikan diri dengan berjoget ketika mendengarkan musik terutama lagu rancak. Para down syndrome juga diajak tampil di panggung, hal ini tentu mengubah respon orang tua menjadi lebih terbuka dan positif.

Kegiatan yang digagas itu membuat  Ariani mendapat penghargaan dalam ajang Idolanesia Award Indonesia 2018 dari Menteri pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI. Penghargaan tersebut diberikan kepada penyintas dan pemerhati autoimun serta penyakit langka inspiratif.

“Saya tidak ingin uang menjadi penghalang mereka, jadi semuanya gratis termasuk saat tampil di panggung,” papar Founder Malang Mom and Children Volunter (MOVE), yakni komunitas relawan untuk mengajari anak difabel.

Kesuksesan mendirikan komunitas WORLDS ini lantas membuatnya berpikir untuk memberdayakan orang tua yang mengantarkan anaknya di pelatihan keterampilan. Caranya mendirikan komunitas ABeKA Mom’s Craft.

Ketua Kerjasama dan Fasilitas Komkordik RSSA Malang ini merasa sangat bahagia melakukan semua kegiatan sosialnya tersebut. Menurutnya inilah salah satu passion, kebahagiaan sekaligus cara agar bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

“Anak-anak difabel inilah yang Insya Allah sudah dicatat sebagai penghuni surga. Orang yang menghina, meremehkan atau mengejeknya belum tentu punya tiket surga itu,” katanya. (Linda Epariyani/van)