Omset Anjlok, Pengrajin Lampion Pilih Jadi Jukir

new malang pos
Imlek di masa pandemic Covid-19 membuat pengrajin lampion banting setir karena omzetnya anjlok. Syamsudin harus kembali menjadi Jukir untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. (NMP-IPUNG PURWANTO)

NewMalangPos, MALANG – Perayaan tahun baru Imlek tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tidak banyak pernak pernik pelengkap Imlek yang biasanya terpasang diberbagai perusahaan atau pusat perbelanjaan, seperti lampion, baju imlek, aksesoris imlek lainnya.

Imlek tahun ini masih dalam masa pandemic Covid-19. Penjualan pernak pernik imlek merosot tajam. Salah satunya terjadi pada terjadi pada salah satu pengrajin lampion, Cempaka Lampion yang berada di Jalan Juanda Gang 5 RT 08 RW 01 Kelurahan Jodipan Kota Malang. Usaha pembuatan lampion yang berdiri sejak 2007 ini juga mengalami penurunan akibat pandemi hingga 40 persen.

“Penurunan mulai 30 sampai 40 persen. Biasanya ribuan, 4 ribuan lah. Sekarang hanya 2 ribu lampion,” ungkap Owner Cempaka Lampion, Ahmad Syamsudin kepada New Malang Pos, kemarin.

Dijelaskannya, pandemi menimbulkan berbagai kebijakan pembatasan. Baik pembatasan di sekup nasional hingga di daerah. Akibatnya pesanan lampion milik Ahmad yang biasanya dikirim ke luar negeri juga tidak dapat dijual.

“Saya biasanya itu mengirimnya ke Italia. Itu yang pasti terbanyak, pesannya 3 ribu sampai 4 ribu lampion. Tahun ini tidak pesan, ” ungkapnya.

Akibat penurunan tersebut, otomatis omset Ahmad juga berkurang. Sementara ia masih ada karyawan yang menjadi tanggung jawabnya. Untuk mengerjakan ribuan pesanan lampion itu, Ahmad dibantu dengan 17 karyawannya yang merupakan tetangganya sendiri.

Ia juga mengaku beberapa kali tidak mendapat untung demi bisa membayar gaji karyawannya. Bahkan, ia sempat menggadaikan mobilnya hingga kini.

“Karyawan saya ada 17. Bagaimanapun harus terbayar ya. Saya harus berikan semua meskipun pesanan berkurang. Saya tidak dapat untung, saya bayarkan semua ke rewang saya. Hingga saya gadaikan mobil saya. Sampai saat ini belum bisa saya tebus,”  ungkapnya.

Tak patah semangat, Ahmad rela melakukan kerja sampingan selain membuat lampion. Ahmad kembali bekerja sebagai juru parkir seperti yang dilakukannya dahulu. Ahmad hanya bisa berharap pandemi dapat segera usai dan kembali normal seperti dahulu.

“Saya dulu juru parkir mas. Jadi saya kalau memenuhi kebutuhan hidup ya jadi jukir pas pandemi ini dan Alhamdulilah itu sudah mencukupi untuk makan,” tandasnya. (ian/aim)