Gitaris, Penggemar Scorpion Hingga Guru Agama Aremania D’Kross

new malang pos Gus wahid
TERKENANG: Kepala Bapenda Kota Malang Ade Herawanto mengenang saat kebersamaan KH. Abdul Wahid Ghozali (Gus Wahid Arema) di salah satu acara di Pemkot Malang.

NEW MALANG POS, MALANG – KH Abdul Wahid Ghozali atau Gus Wahid memang sensasional. Sosok kiai yang humbel tanpa sekat dan dapat diterima semua generasi dan berbagai golongan.

Sabtu (4/7) pagi tadi, kiai yang terkenal dengan sebutan kiai Arema itu telah tiada, kembali keharibaan Allah SWT. Kepergiannya saat tengah mengaji bakda Subuh di pesantrennya, Assalam Singosari, Kabupaten Malang membawa duka yang mendalam bagi semua pihak.

Salah satunya Kepala Bapenda Kota Malang Ade Herawanto atau Sam Ade D’Kross yang punya kenangan mendalam tentang sosok Gus Wahid. Sam Ade ingat betul akan kenangannya bersama kiai kharismatik yang identik dengan Arema dan bahasa walikannya. Baik sebagai guru maupun sahabat dan teman diskusi bagi anak-anak di komunitas. Sebagai sesama penyuka seni, Sam Ade mengenal Gus Wahid sebagai gitaris band kampus pada zaman masih kuliah.

“Tentu yang paling kami ingat adalah saat itu Gus Wahid membawakan lagu-lagu Scorpions sperti when the smoke is going down, Always somewhere, dan lainnya. Bahkan pernah pada suatu saat D’kross nge- jam session sepanggung bersama beliau membawakan aransemen salawat Asyghil dan salawat Bani Hasyim yang dikemas dalam genre hard rock. Jika tidak salah saat tampil di lapangan Rampal dulu itu, ” kenang Ade.

Baginya, tak pernah terbesit seorang Gus kharismatik yang kini disegani dulunya lihai memainkan lagu dari band yang digawangi Klaus Maine dan jadi lineup utama JogjaROCKarta #4 tahun ini.

“Seingat saya, dulu beliau memang gitaris lagu slow rock di band beliau kuliah saat itu. Beliau pegang guitar rhythm kalau tidak salah,” tambahnya.

Selain musik, Gus yang waktunya habis untuk berjuang di jalan Allah itu juga pemerhati cabang olahraga tinju. “Dulu di zaman awal berdirinya komunitas D’kross  sekitar tahun 2005, kami mendirikan sasana tinju D’kross Boxing Camp. Gus Wahid salah satu penggemar tinju dan kadang  memberi saran-saran tentang seputar tinju, khususnya tinju amatir di D’kross boxing camp, tentu saja dengan style beliau yang kocak dan menyenangkan bagi adik-adik atlet,”  ujarnya.

“Dan beliau ini salah satu orang pertama yang mengucapkan selamat kepada kami saat petinju D’kross yaitu Hero Tito meraih gelar juara dunia versi World Professional Boxing Federation (WPBF) di Los Palos, Timor Leste, beberpa tahun lalu” tambahnya.

Simpelnya, Gus Wahid adalah seorang guru sekaligus sahabat terbaik bagi Aremania. Dari ilmu agama pun, Gus Wahid tak pernah pelit berbagi. Ia dikenal jadi guru agama bagi Aremania yang bisa membawa suasana riang  dan kenyamanan bagi mereka sehingga akhirnya tertarik menpelajari dan melaksanakan kewajiban-kewajiban sesuai syariat Islam.

“Karena hanya beliau satu-satunya ustad yang berkomunikasi intens dengan umat memakai bahasa walikan, bahasa khas Malangan, dan mudah masuk ke kalangan Aremania,” terangnya.

Sinergitas Gus Wahid dengan guru-guru D’kross-Aremania yang lain pun terjalin dengan indah. Sebut saja dengan almarhum Gus Luqman (KH Luqman Al-Karim), pengasuh Ponpes Baghrul Magfiroh – yang juga pernah ikut membidani kelahiran band D’kross.

juga kedekatanya dengan Gus Rohim (alm) dari Majelis Riyadlul Jannah serta  dengan pantuan arek-arek D’kross selama ini,   KH Moh Ali Hanafiah Akbar sesepuh Ponpes Thoriqot Qoidiriyah Naqsabandiah Suryalaya Indonesia timur.

“Dari sekian banyak guru-guru dari arek arek komunitas D’kross – Aremania, beliau ini memang paling kocak dan asik, meminjam  istilah  Aremania. Gus Wahid pintar mencairkan suasana,  sehingga para guru kami menjadi sangat harmonis dan saling melengkapi pada saat membimbing adik-adik di kegiatan ibadah rutin maupun insidentil, seperti contoh Arema Berdzikir yang digelar rutinan secara periodik,” tutup Sam Ade. Selamat jalan Gus Wahid, selamat berkumpul di surganya Allah SWT bersama para sholihin, aulia dan anbiya. (aim)