Terkait Penanganan Bayi Lahir di Kamar Mandi Dewan Panggil Dinkes

NEW MALANG POS, KOTA BATU-Tidak maksimalnya penanganan ibu hamil Fitra Rohmatika (26) warga Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu hingga melahirkan di kamar mandi mendapat tanggapan serius dari DPRD Kota Batu.  Rencananya Komisi C, DPRD Kota Batu, bakal memanggil Dinas Kesehatan Senin (10/8) pekan depan.

Hal itu diungkapkan Ketua DPRD Kota Batu, Asmadi bahwa Komisi C segera mendatangkan Dinas Kesehatan Kota Batu ke kantor dewan.

“Terkait peristiwa tersebut, Komisi C sudah menjadwalkan hearing pada Senin depan. Pemanggilannya terkait adanya warga yang melahirkan di kamar mandi itu,” ujar Asmadi kepada New Malang Pos, Selasa (4/8) kemarin.

Bahkan pihaknya telah menghubungi Kepala Dinkes Kota Batu, drg Kartika Trisulandari agar memperhatikan warga Sumbergondo sehingga tidak terjadi hal serupa dikemudian hari.

“Kami tidak akan mencari siapa yang salah. Tapi bagaimana membahas agar hal ini tidak terjadi lagi,” katanya.

Begitu juga dengan Anggota Komisi C, Didik Machmud menyikapi bahwa pelayanan kepada masyarakat tak hanya tenaga kesehatan. Apalagi, lanjut dia, Dinkes sebagai leading sektor dan bertugas dalam menangani kesehatan masyarakat Kota Batu. Sehingga tidak ada lagi Fitria Rohmatika berikutnya.

“Dinkes boleh saja berkilah dan boleh memproteksi diri dengan statemen apapun. Namun yang berlaku adalah fakta di lapangan,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil I DPRD Kota Batu, Nurcohman menerangkan jika kejadian tersebut benar adanya. Yakni penolakan berkali-kali dari bidan akibat rapid test reaktif. Maka pihaknya sangat menyangkan profesionalisme para tenaga medis dan tenaga kesehatan yang seharus dijunjung tinggi.

“Sisi lainnya lagi adalah kemanusiaan. Dinas Kesehatan sebagai leading sektor harus mengklarifikasi bagaimana sesungguhnya persoalannya. Supaya tidak menjadi blunder bagi pemerintah,” tegasnya.

Ia juga meminta agar masyarakat dihimbau untuk tidak mengkucilkan pasien positif Covid-19. Tapi harus memberi support moral, sosial dan sisi psikologisnya.

Apalagi, menurutnya, status dari yang bersangkutan baru reaktif rapid test dan tes selanjutnya di nyatakan non reaktif dan juga belum sampai positif PCR test. Sehingga Nurochman mempertanyakan kenapa harus ditolak dan hal itu yang harus diklarifikasi oleh Dinkes. (eri/jon)