BBKSDA Lepas Lutung Luna Maya

new malang pos
BBKSDA Jawa Timur melepas tujuh ekor Lutung Jawa di kawasan Tahura Raden Soerjo, Kamis (26/11)

NEW MALANG POS, KOTA BATU – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur melepas enam ekor Lutung Jawa di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, Kamis (26/11) kemarin. Salah satu lutung yang dilepas liarkan bernama Luna Maya. Sedangkan enam ekor Lutung Jawa lainnya yang bakal menemani Luna Maya ke habitatnya adalah Irma, Noni, Rodi, Cikal, Gamel dan Darmi.

Pelepas liaran Lutung Jawa ini merupakan agenda tahunan BBKSDA Jawa Timur di kawasan Tahura Raden Soerjo. Sebelum melepas tujuh Lutung Jawa, BKSDA Jatim sebelumnya telah melakukan karantina dan rehabilitasi terlebih dahulu selama 1,5 tahun di Javan Langur Center, Coban Talun, Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu.

Project Manager Javan Langur Center – The Aspinall Foundation Indonesia Program (TAF IP), Iwan Kurniawan mengatakan selain menjalani karantina dan rehabilitasi, primata yang dilepasliarkan sudah menjalani pemeriksaan kesehatan secara bertahap dan lengkap di Javan Langur Center.

“Pemeriksaan yang dilakukan bertujuan untuk memastikan Lutung Jawa terbebas dari penyakit berbahaya menular seperti TBC, hepatitis B, herpes simplex, SIV (Simian Immunodeficiency Virus), STLV (Simian T-lymphotropic virus) dan SRV (Simian Retro Virus),” ujar Iwan kepada awak media.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa sebelum tujuh primata yang dilepasliarkan telah dipasang microchip transponder dalam tubuhnya. Dengan begitu lutung-lutung tersebut akan termonitor secara intensif oleh tim monitoring TAF IP.

Iwan menyampaikan jika sejak tahun 2012 Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama The Aspinall Foundation Indonesia Program telah melakukan 19 kali pelepasliaran Lutung Jawa dengan total 102 ekor. Dengan pelepasan di dua tempat, yakni Tahura Raden Soerjo dan Hutan Lindung Malang Selatan.

“Untuk Lutung Jawa yang dilepas di Hutan Coban Talun (Tahura Raden Soerjo.red) sebanyak 41 ekor. Sedangkan yang dilepas di Hutan Lindung Malang Selatan sebanyak 61 ekor,” bebernya.

Ia manambahkan, dari tujuh Lutung yang dilepas berusia 2-7 tahun dan hanya satu Lutung yang berjenis kelamin laki-laki. Begitu juga dengan nama Lutung Jawa Luna Maya ditegaskannya bukan nama artis. Tapi nama itu sudah sejak awal melekat pada Lutung Jawa saat diserahkan oleh pemiliknya.

Sementara itu, Kepala Seksi Konservasi Wilayah VI BBKSDA Jawa Timur Mamat Ruhimat menambahkan bahwa dari hasil monitoring rutin pasca pelepasliaran, sejumlah Lutung Jawa mampu bertahan hidup dengan baik. Bahkan beberapa individu sudah berkembangbiak dan sebagian lagi bergabung dengan populasi liar di habitat barunya.

Pihaknya menghitung populasi (Lutung.red) awal di Hutan Coban Talun, Gunung Biru hingga Gunung Anjasmoro tahun 2010 – 2011 tidak lebih dari 100 ekor Lutung Jawa. Kemudian setelah dilakukan pelepasan sebanyak tujuh kali, TAF IP mencatat ada sekitar 155 ekor Lutung Jawa di bentang Hutan Coban Talun, Gunung Biru hingga Gunung Anjasmoro pada tahun 2020.

“Artinya ada Lutung mampu bertahan hidup dan berbaur dengan Lutung di alam liar. Sehingga populasi di kawasan tersebut bertambah. Utamanya di kawasan hutan di lereng timur Gunung Biru yang berada di wilayah kerja UPT Tahura Raden Soerjo,” bebernya.

Pada habitat di kawasan hutan hujan tropis pegunungan juga memiliki jenis dan bentuk vegetasi yang beragam. Diketahui untuk kawasan hutan alam yang membentang di sekitar Gunung Pusungrawung, Gunung Biru dan Gunung Anjasmoro merupakan kantung hutan alam yang merupakan salah satu habitat penting berbagai jenis satwa langka seperti Lutung Jawa, Kukang Jawa, Macan Tutul Jawa, Elang Jawa, Kijang, Musang Linsang dan masih banyak lagi.

Dari pendataan yang dilakukan tahun 2020, pihaknya mencatat setidaknya ada 53 jenis tumbuhan tingkat pohon dan 90 persen merupakan jenis tumbuhan pakan yang dikonsumsi Lutung Jawa. Jenis tumbuhan itu meliputi Engelhardia spicata, Macropanax dispermus, Elaeocarpus glaber, Quercus sundaicus dan Litsea noronhae.

“Selain itu, TAF IP juga menemukan sedikitnya ada 17 jenis mamalia berukuran sedang hingga besar di kawasan hutan ini. Sedangkan Lutung Jawa sendiri dianggap rentan karena populasinya yang terus menurun sejak beberapa waktu lalu. Sehingga hewan ini merupakan hewan yang dilindungi,” terangnya.

Diperkirakan lebih dari 30 persen selama 36 tahun kelangsungan hidup Lutung Jawa sangat tergantung dengan keutuhan hutan tropis baik di pegunungan hingga dataran rendah dan daerah pesisir. Ancaman utama yang berpotensi menyebabkan penurunan populasi Lutung Jawa di alam adalah hilangnya habitat akibat perubahan fungsi hutan.

Karena populasinya yang terus menurun, Lutung Jawa sudah dimasukan dalam salah satu satwa yang dilindungi negara. Status perlindungan tersebut didasarkan pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi. IUCN Red List of Threatened Species Versi 2019.1 tahun 2019 memasukkan Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) pada kategori Vulnerable atau rentan kepunahan. (eri/jon)