Bantu Petani Apel Terdampak Mata Ayam

new malang pos
Kepala Dinas Pertanian Batu Sugeng Pramono memberikan bantuan obat-obatan dan memasukan buah apel terserang mata ayam ke dalam kubangan agar tidak penyakit tidak menyebar. (NMP-M.Firman)

Dinas Pertanian Kota Batu

NewMalangPos, KOTA BATU – Dinas Pertanian Kota Batu gerak cepat dengan adanya keluhan petani apel yang terdampak busuk buah atau terkena mata ayam. Salah satu upaya yang dilakukan Dinas Pertanian Kota Batu dengan langsung terjun ke lokasi petani terdampak untuk dilakukan pencegahan dengan memberikan obat-obatan dan memanen apel yang terserang penyakit busuk buah.

Intervensi langsung tersebut dilakukan Dinas Pertanian pada Jumat (5/2) lalu di dua lokasi lahan milik petani yang tergabung dalam Kelompok Tani di Desa Bulukerto Kecamatan Bumiaji. Kepala Dinas Pertanian Batu Sugeng Pramono mengatakan bahwa apa yang dilakukan pihaknya adalah upaya untuk memutus persebaran penyakit busuk buah atau mata ayam yang menyerang pertanian apel.

“Apa yang kami lakukan adalah upaya langsung untuk membatu petani apel yang lahannya terserang penyakit busuk buah. Kami mencatat dari 2500 petani apel yang ada di Kota Batu yang terkena mata ayam ada di kisaran 10-15 persen. Agar tidak semakin menyebar kami melakukan penyemprotan pada lahan yang terdampak dengan kondisi mata ayam sedang. Kalau kondisinya berat, maka harus dipetik dan dimasukan dalam kubangan lalu dipendam,” ujar Sugeng kepada New Malang Pos.

Ia menerangkan lebih lanjut, bahwa upaya dengan mengubur apel agar jamur penyebab mata ayam tidak menyebar ke buah yang lainnya. Mengingat penularan penyakit mata ayam dikarenakan tiga faktor. Yakni percikan hujan, terbawa angin dan hama lalat buat sehingga harus dikubur. Karena jamur gloeosporium tidak akan menyebar saat dikubur dalam tanah.

Begitu juga dengan cara penyemprotan, menurutnya sangat efektif untuk mengusir jamur penyebab mata ayam. Namun penyemprotan harus dilakukan rutin dan serentak oleh petani. Apalagi di musim penghujan seperti ini.

“Jadi kami berhrap petani bisa melakukan penyemprotan secara serentak. Jika hanya beberapa petani saja, upaya untuk membendung serangan mata ayam tidak efektif. Kami hanya bisa membantu sekitar 50 persen petani yang terdaftar di Gapoktan. Mengingat sesuai aturan petani yang bisa dibantu pemerintah yang telah bergabung dengan Gapoktan,” terangnya.

Ia menambahkan, meski tidak semua tergabung dalam Gapoktan, pihaknya siap melakukan pendampingan pada petani di Kota Batu. Upaya yang dilakukan oleh Dispertan pada sejumlah petani apel itu agar ikon Kota Batu tetap bertahan. Selain itu untuk membantu memecahkan permasalahan petani dari hulu hingga hilir.

Sementara itu, Supiono salah satu petani apel asal Desa Bulukerto mengakui adanya kemerosotan produksi selama musim penghujan. Belum lagi ditambah dengan penyakit mata ayam yang telah menjangkiti pertanian apelnya sejak dua tahun belakangan. Meski begitu ia tetap gigih mempertahankan pertanian apelnya

“Memasuki musim penghujan memang selalu ada kerugian. Bahkan saya harus mengeluarkan banyak biaya untuk menjaga pohon apel tetap berbuah. Namun sulit untuk mendapat untung. Apalagi sekitar 10 persen diserang lahan terdampak mata ayam,” bebernya.

Ia menerangkan, setiap musim penghujan dan akibat mata ayam, dari 300 tanaman apel, ia hanya bisa panen tujuh kwintal. Sedangkan saat musim kemarau bisa mencapai tiga ton. Sehingga kerugiannya saat musim hujan tertutupi saat musim kemarau.

“Dengan adanya bantuan dan pendampingan Dinas Pertanian seperti penyemprotan dan penguburan apel terserang mata ayam, persebaran penyakit mata ayam hanya mencapai sekitar sepuluh persen dari lahan,” pungkasnya. (eri/jon)