52 Warga Brau di Lokasi Longsor Diajak Pindah

new malang pos
Shelter bencana Dusun Brau, Kecamatan Bumiaji

NewMalangPos – 52 warga RT 2, RW 10 Dusun Brau Desa Gunungsari, Bumiaji Kota Batu masih mengungsi sejak dievakuasi Selasa (2/2) malam. Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko meminta permukiman mereka direlokasi. Sebab selama ini tinggal di daerah rawan longsor yang membahayakan.

Permintaan Bude, sapaan akrab Wali Kota Dewanti Rumpoko itu disampaikan saat mengunjungi warga Dusun Brau yang mengungsi, Rabu (3/2). Seperti diberitakan sebelumnya, 52 warga yang terdiri dari 15 KK itu harus diungsikan karena tempat tinggal mereka rawan longsor. Terdapat 11 rumah yang berada di zona rawan.

Dewanti mengatakan secara geografis RT 2 RW 10 Dusun Brau, berada di tebing. Sudah begitu daerah tersebut merupakan kawasan tanah bergerak. Karena itulah relokasi merupakan solusi untuk warga.

Ia mewanti-wanti warga supaya jangan kembali ke rumah dulu. “Demi keselamatan, jangan ada yang tidur di rumah dulu. Direlakan rumah ditinggalkan dulu. Kondisinya  masih sangat berbahaya. Barang penting harus dibawah,” pinta Dewanti.

Lebih lanjut, Dewanti meminta agar sekarang yang dipikirkan warga yakni keselamatan. Apalagi kajian BPBD dan instansi terkait lainnya, lokasi tersebut sangat berbahaya dan tidak boleh ditempati. Terbukti selama dua hari alat deteksi bencana (EWS,red) terus berbunyi.

“Terkait rencana relokasi pemerintah akan usaha cari jalan keluar. Saya minta camat lurah mendata. Bagi warga yang punya lahan di tempat lain bisa ditinggali dan pemerintah yang akan bangunkan,” bebernya.

Namun bagi warga yang tidak punya lahan, akan dicarikan tanah kas desa (TKD) atau tanah bengkok desa untuk bangun rumah baru. Nantinya pembangunan bisa satu kawasan atau secara terpisah.

Orang pertama di Pemkot Batu ini menyampaikan bahwa sebelumnya pihaknya telah merencanakan relokasi 11 rumah itu.  Lokasinya masih di sekitar RT 2 RW 10 Dusun Brau. Namun karena lahan tersebut merupakan milik pribadi harus ada negoisasi terlebih dahulu. 

Ia berharap secepat mungkin proses persiapan hingga relokasi bisa tuntas.  “Warga sendiri sebanyak 15 KK Alhamdulillah sudah setuju semua. Karena warga hampir setiap tahun merasakan longsor membuat tak bisa tidur dan diancam bahaya bencana,” bebernya.

Kepala BPBD Kota Batu, Agung Sedayu menambahkan, telah melakukan langkah jangka pendek dan jangka panjang untuk penanganan daerah rawan longsor Brau.

“Jangka pendek, kami telah imbau agar warga pindah dulu sementara waktu. Bisa ke rumah keluarga, tetangga atau di tenda yang kami siapkan. Kemudian juga fasilitas umum, obat, makanan, dan juga penerangan saat malam hari dari PLN disiapkan,” bebernya.

Sedangkan penanganan jangka panjang, Pemkot Batu siapkan relokasi secara permanen. Upaya yang dilakukan cari lahan pengganti yang tidak jauh dari Brau. Anggarannya menggunakan pos anggaran Belanja Tak Terduga (BTT) dari APBD Kota Batu.

“Kalau anggaran seperti pembangunan rumah saat relokasi bisa diambilkan dari BTT. Sedangkan  pengadaan lahan tidak mungkin dari BTT. Ini yang akan kami bicarakan bersama instansi terkait, kecamatan dan desa,” terang Agung.

Kades Gunungsari Andi Susilo mengatakan, terkait relokasi pihaknya perlu melakukan proses verifikasi dahulu dari warga. Misalnya jumlah rumah yang dibangun hingga ketersediaan lahan.

Warga yang tak memiliki lahan sama sekali, pihaknya akan adopsi dari tanah desa atau dengan pengadaan lahan.  Opsi lainnya tukar guling lahan milik Perhutani dengan milik warga.

“Dengan opsi-opsi itu kita perlu kajian dan survei serta konsolidasi dengan pihak-pihak terkait. Kalo ada lahan desa pasti ada, tapi kan kita harus musyawarah desa terlebih dahulu. Harus ada aturannya dan syarat-syarat yang harus disesuaikan,” terangnya.

Ia menerangkan TKD milik Desa Gunungsari seluas 3 hektare. Namun lokasinya tidak berada di Dusun Brau. Sementara keinginan warga tetap di Brau dengan lokasi yang aman dari longsor.

Salah satu warga terdampak longsor Wulan Puspita setuju rencana relokasi. Namun dia mengajukan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi.  “Tetap di daerah Brau dan bisa tetap satu lokasi. Mengingat mata pencarian kami bertani dan beternak sapi perah,”  kata dia.

Perempuan yang telah tinggal 25 tahun di Brau ini mengungkapkan ketakutannya ketika nantinya direlokasi jauh dari Brau akan sulit mencari pekerjaan seperti sebelumnya. Mengingat selama ini mereka telah terbiasa dengan bertani dan beternak. (eri/van)