Tiga Paslon Janji Tanpa Selebrasi Kemenangan

NewMalangPos– Tiga pasangan calon (paslon) Bupati-Wabup Malang janji tak menyiapkan perayaan atau selebrasi kemenangan. Sementara itu dari tiga paslon peserta Pilkada, hanya satu paslon yang punya hak memilih.

HM Sanusi-Didik Gatot Subroto merupakan paslon yang mencoblos. Pasangan yang diusung PDI Perjuangan berkoalisi dengan PPP, Partai Demokrat, Partai NasDem, Partai Gerindra, dan Partai Golkar ini memilih di TPS masing-masing.

Sanusi akan menyalurkan haknya pukul 08.00. Dia terdaftar di TPS 12 Desa Gondanglegi Kulon, Kecamatan Gondanglegi. “Abah (Sanusi) berangkat bersama umik dan putra bungsunya ke TPS,’’ kata Direktur Sanusi Center, Zulham Mubarok.

Zulham mengatakan, setelah menyalurkan hak suaranya, Sanusi dan anggota keluarganya pulang ke rumah. Mereka akan keluar sekitar pukul 11.00. “Ke posko pemenangan dan kantor DPC PDI Perjuangan untuk melihat prosesi penghitungan,’’kata dia.

Zulham mengatakan tidak mengelar selebrasi usai memenangkan Pilkada. “Paling sujud syukur saja,’’ ucapnya.

Sedangkan Didik Gatot Subroto coblos di TPS 14 Desa Tunjungtirto, Kecamatan Singosari pukul 08.00. “Sebelum ke TPS, saya sungkeman kepada orang tua di rumah. Kemudian bersama-sama ke TPS,’’ kata Didik. Ke TPS dia bersama istri dan dua anaknya. “Kebetulan dua anak saya juga sudah memiliki hak suara, sehingga kami berangkat bersama-sama,’’ sambungnya.

Setelah mencoblos, Didik pulang dulu ke rumahnya. Sekitar pulul 10.00 WIB bergeser ke Posko Pemenangan dan kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang untuk memantau proses penghitungan suara.

Apalagi ada proses hitung cepat yang dilakukan di Posko Pemenangan maupun di kantor DPC PDI Perjuangan. Data penghitungan cepat diperoleh dari para saksi yang bertugas di semua TPS.

Didik memastikan tak ada selebrasi kemenangan jika memenangkan Pilkada. “Fokus kami memenangkan Pilkada. Konsentrasi kami meraih dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya. Sehingga kami tidak berpikir selebrasi,’’ katanya.

Begitu juga paslon Hj Lathifah Shohib-Didik Budi Muljono. “Saya tidak mengagendakan selebrasi kemenangan karena saat ini dalam kondisi rakyat prihatin akibat masa pendemi,’’ kata Hj Lathifah Shohib.

Melalui pesan WhatsApp, Lathifah juga menuliskan jika ditakdirkan memenangkan Pilkada

akan melakukan kunjungan ke beberapa panti asuhan untuk berbagi. Lathifah mengaku ia tak memiliki hak suara dalam Pilkada Kabupaten Malang. Saat waktu pemungutan suara, ia tetap di rumah.

“Saya di rumah dengan rutinitas saya nderes (membaca) Alquran juga momong cucu,’’ katanya. Ia rencananya keluar rumah setelah dhuhur. Yakni berkunjung ke kantor DPC PKB yang menjadi posko pemenangan Lathifah Shohib – Didik Budi Muljono  untuk melihat proses penghitungan suara.

Sementara itu paslon Heri Cahyono-Gunadi Handoko juga demikian. Paslon jalur independen ini  tak mencoblos karena secara administrasi tak masuk daftar penduduk Kabupaten Malang.

Ketua Tim Kerja Malang Jejeg,  Sutopo Dewangga, memastikan tidak ada selebrasi jika memenangkan Pilkada. “Kami biasa saja, sama seperti saat kami diloloskan KPU menjadi peserta kontestasi Pilbup. Kami tidak ada selebrasi,’’ katanya.

Sutopo mengatakan, jika baik Heri maupun Gunadi tidak memiliki hak suara di Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Malang. Dan keduanya dikatakan Sutopo memilih berada di rumah masing-masing saat prosesi pemungutan suara. Baru keluar setelah pukul 12.00 untuk memantau proses penghitungan suara.

“Kalau rencananya kemarin Pak Heri akan ke Posko Pemenangan di Pakis, memantau penghitungan suara,” ungkapnya. Para pendukung Malang Jejeg akan memantau penghitungan suara di posko pemenangan masing-masing kecamatan.

Komisioner KPU Marhaendra Pramudya Mahardika mengatakan ada dua lembaga yang mendaftar ke KPU Kabupaten Malang melakukan penghitungan cepat. Yakni Jaringan Isu Publik (JIP) dan FISIP UMM.

Hasil penghitungan itu kemudian disampaikan petugas penghitung cepat ke lembaga masing-masing untuk kemudian di rilis. “Untuk aturan dan ketentuan rilis  hitung cepat ini ada. Yaitu penghitungan  harus ditulis bukan hasil resmi, dan jumlahnya bisa berubah,’’ kata Dika, sapaan akrab  Marhaendra Pramudya Mahardika.

Begitu juga pasangan calon atau tim pasangan calon yang menggelar hitung cepat. Jika merilis hasil hitung cepat wajib mencantumkan bahwa itu bukan hasil resmi.  (ira/ica/van)