Petirtaan Ngawonggo Tajinan, Wisata Alam dengan Sajian Tradisional

NMP

NEW MALANG POS, MALANG – Satu lagi destinasi wisata alam atau ekowisata yang dikombinasikan dengan sebuah situs peninggalan purbakala hadir di Kabupaten Malang. Tepatnya di Dusun Nanasan, Desa Ngawonggo Kecamatan Tajinan. Petirtaan Ngawonggo namanya, belum diresmikan namun sudah terlanjur viral di jagad medsos.

Situs Petirtaan atau pemandian suci ini ditemukan tahun 2017 silam dan sempat tak terawat. Hingga akhirnya tahun 2019 lalu warga sekitar mamanfaatkan lokasi sekitar situs untuk obyek wisata dengan mendirikan Tomboan, tempat singgah. Petirtaan Ngawonggo dan Tomboan ini dikelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kaswangga.

“Awalnya warga yang peduli bergotong royong membuat sarana prasarana yang ada, semua dengan anggaran swadaya, lalu mendirikan Pokdarwis untuk mengelola tempat ini daripada kosong dan tidak ada kegiatan, tapi ini juga belum diresmikan,” ungkap Rahmad Yasin, Ketua Pokdarwis Kaswangga saat ditemui New Malang Pos di Tomboan, Rabu (12/2) kemarin.

Diakuinya, Petirtaan Ngawonggo dan Tomboan ini mengusung konsep ekowisata yang benar-benar menjaga keasrian alam. Khususnya sekitar lokasi situs di tebing Sungai Kali Manten yang dipenuhi pohon bambu, pengunjung diatur dengan tata tertib yang cukup ketat. Diantaranya para tamu wajib berpakaian yang sopan dan bertutur kata santun.

Pengunjung dilarang membawa makanan dan minuman yang mengandung unsur hewani dan dalam kemasan. “Kita minimaliskan sampah dari pabrik, agar kita lebih ke alam, kita kurangi sampah. Konsepnya sederhana, kita ingin ekowisata yang sebenar-benarnya,” terang Yasin mengaku saat ini belum ada biaya tiket masuk ke lokasi wisata.

Bahkan untuk parkir motor maupun mobil, tidak ada ketentuan tarifnya. Lebih menariknya lagi di Tomboan menyediakan makan dan minum, serta jajanan yang bisa dinikmati oleh para pengunjung, juga tanpa ada tarifnya. Bahkan di papan tata tertib yang terpasang di pintu masuk Tomboan tertulis, pengunjung tidak diperkenankan bertanya mengenai harga.

 “Kita memang siapkan makanan, minuman rempah dan jajanan tradisional, sebagai bentuk budaya yang kita jaga.  Untuk saat ini memang tidak ada tarifnya, kita hanya siapkan kotak, untuk partisipasi pengunjung, karena kalau dibuat tiket, harus ada pertanggung jawabannya,”  jelas Yasin memastikan hingga saat ini Petirtaan Ngawonggo belum ditetapkan sebagai cagar budaya.

Untuk itu, dia berharap petirtaan yang diperkirakan sudah ada sejak abad ke-10 masehi pada masa Kerajaan Medang yang dipimpin oleh Mpu Sindok ini bisa segera mendapat pengesahan dari pemerintah sebagai cagar budaya. Termasuk perlu pembenahan akses jalan menuju lokasi situs yang menyeberangi sungai.

“Rencana akan ada perbaikan jalan, dibuat makadam, konsepnya memang alami, namun tetap ada pengembangan lagi agar tidak monoton. Untuk pengunjung, hari minggu sekitar 1.000 hingga 1.500, kalau hari biasa  sekitar  200 lebih. Untuk reservasi hanya melalui DM instagram @tomboan_ maksimal H-1,” terangnya.

Suasana alam di tepi sungai dan hawa sejuk khas pedesaan menjadi daya tarik tersendiri obyek wisata yang satu ini.  Apalagi dengan adanya sumber air di petirtaan, disebut-sebut memiliki khasiat bagi yang mempercayainya. “Karena sumber air ini kaya mineral, yang tentu baik untuk kesehatan, apalagi orang dulu tidak sembarangan untuk mencari sumber air,” yakin Yasin.

“Manarik tempatnya, biasanya kita datang ke café, disuguhi interior di dalamnya, kalau ini malah sebaliknya, kita di luar, seperti di hutan, kita disuguhi makanan tradisonal, seperti kembali ke zaman dulu, dengan fasilitasnya juga tradisonal, kita bisa menikmati alam, setelah banyak rutinitas,” ungkap Fifi, mahasiwa FISIP UB bersama dua rekannya di Tomboan.

Bagi yang ingin berkunjung ke Petirtaan Ngawonggo, bisa dari tiga jalur yang berbeda. Jika dari Kota Malang, Keluruhan Tlogowaru ke arah timur melewati kantor Kecamatan Tajinan hingga ke Ngawonggo. Jarak tempuh dari Stasiun Kota Malang sekitar 14km, dengan biaya Gojek Rp 42 ribu. Jalur kedua bisa dari Tumpang, ke arah selatan melewati pasar Tajinan menuju desa Ngawonggo.

Untuk pengunjung dari bandara Abd Saleh melewati Tumpang menempuh jarak sekitar 16 km dengan biaya Gocar Rp 102 ribu. Alternatif lain, pengunung bisa dari arah Turen, Wajak atau Bululawang. Melewati Desa Kidangbang ke arah utara, hingga menemui papan petunjuk lokasi Petirtaan Ngawonggo dan Tomboan. Jaraknya dari ekowisata Boonpring di Turen sekitar 11 km. (bua)