Makamkan Lebih dari 80 Jenazah, Sebulan Tidur di Kantor

new malang pos
Muhammad Yunus Relawan PMI Malang

NewMalangPos – RELAWAN PMI Kabupaten Malang, Muhammad Yunus selalu siaga. Apalagi selama pandemi Covid-19 dan musim bencana seperti sekarang. Ia punya jam terbang tinggi untuk urusan kemanusiaan. Berada di medan rentan terpapar Virus Korona, Yunus selalu ingat pentingnya protokol kesehatan (prokes) secara ketat.

Totalitas Muhammad Yunus tak perlu diragukan. Ia selalu siap menolong korban kecelakaan di gunung, sungai hingga laut. Entah dimana saja, siap berangkat. Baginya pantang menolak tugas. Termasuk memakamkan jenazah berbagai penyakit termasuk korban Covid-19.

Sejak Juni 2020 lalu sampai sekarang,  lebih dari 80 jenazah yang dimakamkan pemuda 30 tahun ini.

Terakhir Jumat (22/1) lalu, di wilayah Desa Genengan, Kecamatan  Pakisaji.  Yunus bersama tim melakukan pemakaman jenazah dengan standar prokes  pencegahan Virus Korona.

“Tidak semuanya positif Covid -19. Ada yang hasil swabnya saat meninggal belum keluar. Sehingga masuk kategori suspek. Pemakamannya menggunakan standar protokol kesehatan,’’ katanya.

Keterlibatan Yunus memakamkan jenazah dimulai saat PMI Kabupaten Malang mendapatkan informasi adanya pasien dengan diagnosa positif Covid-19 asal Kabupaten Malang meninggal dunia, Juni tahun lalu. Pihak PMI Kabupaten Malang melakukan koordinasi. Kemudian menjemput jenazah untuk kemudian dimakamkan.

Meskipun sudah mendapatkan pelatihan pemakaman jenazah Covid-19, tapi dia tidak memungkiri kerap masih dihinggapi was-was. Karena itulah wajib taat prokoes.

“Kami menggunakan APD lengkap saat itu. Mulai hazmat, penutup kepala masker double tiga, face shield, sarung tangan double dua, sepatu both.  Tapi ya karena baru pertama, jadi perasaannya ya campur aduk begitu,’’ katanya.

Saat itu komandan regu pemakaman jenazah Covid -19 Amirul Yasin terus memberikan semangat kepada dirinya. Yasin juga dikatakan Yunus selalu mengingatkan bahwa jika terapkan prokes secara ketat maka tidak tertular Covid-19.  Singkat cerita, dia dan tim pemakaman menjemput jenazah  dan membawanya ke pemakaman.

“Begitu sampai pemakaman, tim lain lebih dulu melakukan penyemprotan disinfektan ke ambulans  yang membawa jenazah. Selain itu, penyemprotan dilakukan di bagian dalam. Kami juga disemprot disinfektan, termasuk juga peti jenazah,’’ katanya.

Sepanjang perjalan menuju pemakaman, terutama menuju liang lahan penyemprotan disinfektan terus dilakukan. Hal inilah yang membuat Yunus yakin aman. “Saat memasukkan peti jenazah ke liang lahat ini kan kita bersentuhan langsung dengan peti ya. Rasa was-was pasti ada. Tapi saya pasrah, karena niat saya baik, membantu memakamkan jenazah,’’ tambah pria yang pernah terbang ke Palu menjadi relawan pasca gempa bumi tahun 2018 lalu.

Selesai pemakaman, Yunus dan tim pun kembali ke markas PMI Kabupaten Malang. Seluruh APD dibuka sesuai prosedur. APD yang sudah digunakan seluruh tim pemakaman dikumpulkan selanjutnya dibakar. Beberapa anggota tim memilih pulang setelah pemakaman. Namun Yunus tidak. Dia memilih menginap di markas PMI. Alasannya agar tak membawa pulang virus.

“Sejak pertama ikut pemakaman, sekitar satu bulan saya memilih tidak pulang ke rumah. Ya was-was, kalau membawa virus dan kemudian menularkan kepada orang tua serta keluarga yang lain,’’ urainya. Namun di waktu satu bulan berada di markas tersebut, Yunus juga beberapa kali diajak untuk melakukan pemakaman jenazah  menggunakan protokol kesehatan. Bedanya dengan yang pertama, di pemakaman kedua dan selanjutnya dia sudah lebih tenang dan pasrah.

Saat inipun demikian. Karena hampir selalu terlibat dalam pemakaman jenazah menggunakan protokol kesehatan, Yunus lebih banyak menghabiskan waktunya di markas PMI Kabupaten Malang di Jalan Raya Pakisaji. Selain memudahkan koordinasi, dan cepat saat sewaktu-waktu dibutuhkan, dia juga kawatir menjadi pembawa virus..

“Alhamdulillah, selama ini tidak pernah terpapar Covid-19. Kami rajin rapid test. Semua hasil milik saya non reaktif,’’ ungkap pria yang pernah masuk dalam tim DVI Polda Jatim untuk identifikasi jenazah korban pesawat Air Asia yang jatuh tahun 2014 lalu.

Yunus mengaku banyak kejadian yang tak terlupana. Salah satunya pemakaman jenazah di wilayah Kecamatan Lawang. Selain hujan deras, ada pihak keluarga yang ingin ikut memakamkan.

“Pemakaman itu waktunya bisa kapan saja. Bisa pagi, siang, sore, bahkan malam hari termasuk dinihari pun dapat dilakukan. Tapi yang di Lawang itu, selain hujan deras, ada salah satu anggota keluarga yang meninggal memaksa ikut memakamkan,’’ kata pria yang tinggal di Desa Pandansari, Kecamatan Poncokusumo ini.

Selain ikut pemakaman jenazah Covid-19, Yunus juga terlibat penanganan penanggulangan Covid-19. Bersama tim, ia kerap ikut penyemprotan disinfektan ke desa-desa di Kabupaten Malang.  Yunus melakukan semua tugasnya itu dengan ikhlas dan sukarela.  Dia mengaku, selama ini sangat bersemangat menjadi relawan, karena niat membantu orang lain.

Lantas apakah tidak lelah? Yunus tersenyum. Menurut dia, rasa lelah hilang saat usai membantu orang lain. “Kalau ditanya lelah ya pasti lelah. Tapi ya begitu, saya merasa lega saat sudah bisa membantu orang lain,’’ ucap pria yang mulai gabung sebagai relawan PMI ini sejak tahun 2010 lalu.

Yunus mengaku, kendati banyak menghabiskan waktunya sebagai relawan PMI, dia memiliki pekerjaan utama.  Yakni membuka usaha jual beli motor. Aktivitasnya sebagai relawan sama sekali tidak mengganggu usaha yang ditekuni. Karena saat sibuk beraktivitas sebagai relawan, ada anggota keluarganya yang lain membantu urusan pekerjaannya. “Tapi bukan jual beli motor yang besar seperti dealer lho. Hanya ada satu dua motor saja. Ya yang penting ada pekerjaan, dan dapat uang halal  untuk makan sehari-hari,’’ katanya. (ira ravika/van)