Makanan Dijadikan Hampers, Bantu Share Event Aman

10

Diskusi NMP ‘Creative Wedding in Pandemic Crisis’ (2)

NewMalangPos, MALANG- Penggunaan masker terutama bagi kalangan entertainer di saat mengisi acara pernikahan kerap menyisakan kendala. Terutama bagi penyanyi yang dibayar untuk menghibur tamu undangan, penggunaan masker saat menyanyi sering kali menghalangi suara hingga hasilnya tidak maksimal.

Kendala tersebut disampaikan Shawn Band saat menghadiri diskusi New Malang Pos Creative Wedding in Pandemic Crisis di THE 1O1 Malang OJ, Rabu (24/2) lalu. Menurutnya protokol kesehatan saat acara telah dijalankan dengan ketat. Namun khusus penyanyi sedikit kesulitan mengeluarkan suara saat menyanyi ketika dituntut wajib menggunakan masker.

“Memang ada beberapa masker yang kokoh dan kainnya tidak masuk ke dalam saat tarik nafas. Tetapi kalau untuk menghasilkan suara maksimal masih kesulitan,” ujar perwakilan Shawn Music, Feron Tosi.

Kendala tersebut juga dipertegas oleh perwakilan Jingga Orchestra Vinoqi bahwa penggunaan masker bagi penyanyi memang sedikit mempersulit. Bahkan berpengaruh terhadap suara penyanyi itu sendiri.

Menurutnya, industri wedding selama masa pandemi sudah kembali aktif sejak Juni 2020 meskipun masyarakat yang menggelar acara masih terbatas. Bahkan cenderung takut menggelar resepsi besar dengan mengundang banyak tamu. Sebagian besar mereka tidak takut adanya klaster baru pernikahan, ketakutan terbesar adalah takut dibubarkan.

“Menurut saya masyarakat di Malang tidak takut adanya klaster baru. Tapi takut di gerebek, takut izinnya tidak keluar, takut ketika acara sudah jalan ada kebijakan baru lalu harus dibubarkan,” kata Vinoqi.

Ia menegaskan, sejak industri wedding aktif pada Juni 2020 hingga sekarang tidak ada klaster baru event wedding, bahkan satu vendor terkena Covid-19 pun tidak ada. Karena semua menjalankan protokol kesehatan dan ingin tetap sehat serta aman dari paparan virus ini.

Untuk itu, pihaknya meminta kepada pemerintah agar tidak mempersulit masyarakat mengadakan acara. Termasuk bisa melonggarkan jam malam, karena dengan diberlakukannya jam malam tidak ada lagi acara. Kegiatan yang biasanya digelar besar, harus dialihkan ke acara sederhana, dampaknya berimbas ke banyak pihak.

“Sebenarnya efeknya bukan pada vendor atau entertainment saja. Tapi, efeknya kan ke orang-orang di belakangnya,” papar dia.

Dijelaskannya, dalam menggelar pernikahan tidak hanya melibatkan satu atau dua vendor tetapi banyak vendor. Sehingga apabila acara yang tadinya digelar besar menjadi sederhana, penggunaan vendor pun banyak berkurang.

“Padahal pasti kami semua juga ingin sehat, terbebas dari Covid-19. Kami meminta kepada media, agar tidak membuat pemberitaan yang justru menimbulkan kekhawatiran di masyarakat,” tegasnya.

Menurutnya, media memiliki peran dalam membantu para pelaku industri wedding melalui pemberitaan yang positif. Dengan begitu, masyarakat yakin bahwa menggelar acara pernikahan di masa pandemi diperbolehkan dan tetap aman dengan menerapkan protokol kesehatan.

“Kami juga menunjukkan ke masyarakat melalui media sosial. Caranya, setiap ada acara kami share ke media sosial supaya masyarakat tahu bahwa menggelar acara diperbolehkan. PR saat ini adalah bagaimana meyakinkan klien agar tidak takut membuat acara atau digrebek karena aturan yang sering berubah,” tegasnya.

Diskusi Creative Wedding in Pandemic Crisis sendiri diselenggarakan oleh New Malang Pos untuk bersinergi dengan para pelaku wedding, sehingga ada pergerakan ekonomi di Kota Malang. Diskusi ini mengajak para vendor pernikahan mulai wedding organizer, fotografi, dekorasi, MC, catering dan entertaint untuk bersama-sama bekerja sama membangkitkan kembali ekonomi Kota Malang. Juga diikuti oleh Kasat Binmas Polresta Malang Kota Kompol Barkah Jayadi dan Kasi Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Malang Diyah Setyati. (lin/ley)