Lindu Malang dalam Rekaman Sejarah

11
idea
Farizky Hisyam Mahasiswa Universitas Brawijaya

NewMalangPos – Waktu menunjukkan pukul 14.00 WIB ketika lindu menggoncang Malang pada, Sabtu (10/4) lalu. Tidak hanya memicu kepanikan warga Malang Raya, gempa bermagnitudo 6,7—yang akhirnya dimutakhirkan menjadi 6,1 dengan kedalaman 25 km—itu menyebabkan sejumlah kerusakan infrastruktur. Bahkan, terjadi gempa susulan pada Minggu pagi (11/4) pukul 06.54 dengan magnitudo 5,5.

Hingga hari Minggu (11/4) pukul 08.00 WIB BNPB mencatat korban meninggal dunia 8 orang, luka ringan 36, luka sedang-berat 3 orang. Dampak kerusakan tercatat di 15 dari 38 kota/kabupaten di Jawa Timur. Total kerusakan 1.189 unit bangunan dengan rincian 85 rusak berat, 250 rusak sedang, dan 854 rusak ringan. Di Malang, gempa ini dirasakan dengan intensitas 4-5 MMI. Oleh sebab itu, gempa kali ini dikategorikan sebagai gempa merusak.

Terdapat dua cara untuk menyatakan kekuatan gempa. Pertama, magnitudo gempa yang merupakan ukuran energi yang dilepaskan gempa berdasarkan rekaman instrumen. Kedua, intensitas gempa yang merupakan ukuran tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa berdasarkan keterangan warga yang merasakan getaran gempa secara langsung.

Intensitas gempa biasanya dinyatakan dengan Modified Mercalli Intensity (MMI) yang membagi skala ke dalam 12 tingkat berdasarkan kerusakan yang ditimbulkan gempa. Semakin besar nilainya, semakin dahsyat kerusakan yang ditimbulkan. Mulai dari gempa yang membangunkan orang dari tidurnya, perabot yang bergerak, retakan pada bangunan, hingga kerusakan total.

Ternyata, bukan kali ini saja gempa merusak menggoncang Malang Raya. Untuk menelusuri gempa-gempa yang terjadi sebelum itu, ahli gempa menggunakan catatan tertulis yang sudah ada sejak era kolonial untuk melacak kejadian gempa di masa lampau.

Dari buku “Indonesia’s Historical Earthquake” (Gempa Historis di Indonesia) tahun 2015, catatan gempa merusak di Malang terjadi pada tanggal 22 November 1818 dengan skala 4 MMI. Selanjutnya, gempa 10 Juni 1867 dengan skala 7 MMI menyebabkan kerusakan parah pada bangunan dengan konstruksi batu.

Dalam “Katalog Gempabumi Merusak”di Indonesia tahun 1821-2018 yang dihimpun BMKG (2019) tercatat sejumlah gempa merusak terjadi di Malang Raya. Pertama, pada 20 Oktober 1958 terjadi gempa magnitudo 6,7 dengan kedalaman 100 km (7-8 MMI). Dilaporkan bahwa rumah-rumah di Malang mengalami kerusakan parah. Rekahan muncul di berbagai tempat disertai longsor di wilayah pegunungan. Delapan korban meninggal dunia.

Kedua, gempa 19 Februari 1967 bermagnitudo 6,2 (8-9 MMI) dan kedalaman 80 km. Dideskripsikan bahwa wilayah Dampit mengalami kerusakan paling parah dengan 1.539 bangunan roboh, 14 korban jiwa, dan 72 korban terluka. Wilayah mengalami kerusakan parah lain adalah Gondang dengan 9 korban jiwa, 49 luka-luka, 119 rumah rata, 402 bangunan retak, dan 5 masjid roboh. Ketiga, gempa 28 September 1998 dengan magnitudo 6,2 (5-6 MMI) dan kedalaman 177 km. Korban meninggal 1 orang. Kerusakan berupa 38 rumah hancur dan 62 rumah rusak di Malang.

Dalam 10 tahun terakhir, gempa merusak juga melanda Malang beberapa kali. Pada 8 Juli 2013 gempa magnitudo 5,9 (3 MMI) menyebabkan 11 unit rumah rusak berat, 18 unit rumah rusak sedang, 66 unit rumah rusak ringan di Kecamatan Dampit, Amplegading, Tirtoyudo, Gedangan, dan Sumbermanjing Wetan. Selanjutnya, pada 16 November 2016 dengan magnitudo 6,2  (3-4 MMI) dan kedalaman 69 km menyebabkan 6 unit rumah rusak berat, 33 unit rumah rusak ringan hingga sedang di Pagelaran dan Dampit.

Hampir semua gempa itu memiliki episenter di Malang Selatan hingga Samudera Hindia. Tidak mengherankan karena Jawa merupakan bagian dari lajur gempa Sirkum Alpen-Kaukasus-Himalaya yang mencakup 15 persen kejadian gempa di dunia (Kertapati, 2006).

Apabila dianalogikan, kulit Bumi tersusun oleh lapisan kaku yang dikenal sebagai lempeng. Lempeng ini “mengapung” di atas lapisan yang plastis dan panas, yaitu mantel. Lempeng-lempeng saling bergerak dan berinteraksi di sepanjang pertemuan lempeng.

Di sepanjang selatan Jawa terdapat pertemuan dua lempeng tektonik, yaitu Indo-Australia dan Eurasia. Setiap tahunnya, lempeng Indo-Australia “menggencet” lempeng Eurasia dengan kecepatan rata-rata 7 cm/tahun. Karena lempeng Indo-Australia lebih berat daripada lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia menyusup di bawah lempeng Eurasia, lalu menunjam dan menukik ke dalam mantel.

Di sepanjang pertemuan dua lempeng tersebut, batuan akan “tergencet” hingga akhirnya patah. Hal ini ibarat menekan ranting pohon hingga melengkung. Jika ranting terus ditekan, maka ranting akan patah. Ketika batuan di batas lempeng patah, energi akan dilepaskan dalam bentuk gelombang yang selanjutnya kita rasakan sebagai getaran gempa.

Gempa yang terbentuk di zona pertemuan lempeng seperti ini dikenal sebagai zona subduksi. Gempa subduksi dibagi menjadi dua, gempa megathrust dan Benioff. Berdasarkan analisis yang dilakukan BMKG, gempa Malang Selatan kemarin dikategorikan sebagai gempa Benioff. Itu artinya bukan merupakan gempa megathrust yang berpotensi memicu gempa dengan magnitudo lebih besar.

Selain gempa dari zona subduksi, ancaman gempa juga bersumber dari patahan di daratan. Sebagai contoh gempa magnitudo 3,9 di Malang yang terjadi pada 8 April 2017 merupakan gempa akibat patahan di daratan.

Paparan mengenai rentetan gempa merusak di Malang Raya membuka mata kita bahwa Malang merupakan daerah dengan aktivitas kegempaan yang cukup tinggi. Apabila di suatu tempat pernah terjadi beberapa kali gempa merusak, maka dapat dipastikan bahwa wilayah tersebut rawan terhadap gempa yang paling tidak berkekuatan sama dengan gempa yang pernah terjadi. Artinya, wilayah tersebut harus bersiap menghadapi kejadian gempa yang serupa atau lebih besar di masa mendatang (Noor, 2014).

Setelah itu, yang kita pikirkan bukan kapan gempa besar selanjutnya terjadi. Melainkan, seberapa siap kita menghadapi gempa-gempa berikutnya. Sebagai upaya pengurangan risiko bencana gempa, ada upaya mitigasi struktural dengan membangun bangunan tahan gempa dan secara nonstruktural dengan sosialisasi kesiapan dalam menghadapi gempa.

Harapannya, masyarakat tidak terkesan gagap sehingga panik ketika terjadi gempa yang justru dapat membahayakan. Patut direnungkan, sesungguhnya bukan gempa yang mematikan, melainkan struktur bangunan buruk yang membunuh.(*)