Legal dan Logis dalam Berinvestasi

Oleh: Rachma Bhakti Utami, M.AB., RTA®., RSA®

Dosen Praktisi Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya

Belakangan publik dikejutkan dengan merebaknya kasus investasi bodong yang menyangkut sejumlah broker (pialang) ilegal, salah satunya adalah Binomo. Binomo disebut ilegal karena tidak mendapatkan izin resmi dari regulator dan pengawas seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI).

Platform Binomo sendiri sangat populer di masyarakat karena iklan yang terus muncul di berbagai media serta melibatkan public figure. Beberapa selebritis yang diduga sebagai afiliator platform tersebut gencar mempromosikan aplikasi tersebut. Mereka yang agresif mencari korban seringkali membungkus aktivitas promosi gambling binary option dengan berbagai model tutorial gratis hingga berbayar untuk member VIP.

Menteri Perdagangan M Lutfi dalam rapat dengan Komisi VI DPR RI pada 31 Januari 2022 lalu sendiri secara tegas menyatakan bahwa binary option jelas berbahaya bagi masyarakat dan di dalamnya terdapat skema ponzi yang sangat merugikan konsumen.

M. Lutfi juga secara tegas mengatakan bahwa binary option adalah tindakan kriminal dan penegak hukum akan menangkap orang-orang di balik praktik gambling berkedok trading tersebut. Selain Binomo, terbaru terkait investasi bodong, terdapat satu kampung di Gorontalo yang hampir semua penduduknya (hampir 95 persen) tertipu modus jual beli valuta asing atau forex.

Investasi illegal dari Lembaga bernama FX Family ini padahal sudah masuk dalam kategori “kegiatan perdagangan berjangka atau forex tanpa izin” yang dikeluarkan oleh Satgas Waspada Investasi (SWI).

Baca Juga :  Tantangan Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19

Masih banyaknya masyarakat yang tergoda iming-iming investasi dengan return atau keuntungan yang tinggi ditengarai karena masih rendahnya tingkat literasi keuangan (financial literacy) di masyarakat. Financial literacy sendiri adalah pengetahuan, kemampuan, keahlian, serta keyakinan diri dalam mengelola keuangan dengan cara yang benar dan bertanggung jawab.

Banyaknya jasa keuangan maupun produk yang muncul dengan modus yang berbeda-beda mengakibatkan sulit menentukan mana investasi yang sah dan mana investasi bodong. Literasi finansial menjadi penting karena masih sedikit masyarakat Indonesia yang benar-benar mengetahui produk/ jasa keuangan yang ada, fitur-fitur, lembaga pengelola, serta risiko dari produk jasa keuangan tersebut.           Data dari OJK menyebutkan bahwa tingkat literasi keungan di Indonesia khususnya generasi muda masih rendah. Berdasarkan survei nasional pada tahun 2019, menunjukkan bahwa literasi keuangan penduduk 15-17 tahun adalah sebesar 16 persen. Yang lebih berbahaya, secara statistik, generasi muda lebih mudah terperdaya ajakan influencer.

Kondisi pandemi yang tak kunjung selesai turut memperumit permasalahan pengelolaan keuangan di masyarakat ini. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pandemi ini secara signifikan meningkatkan jumlah pengangguran di Indonesia. BPS mencatat jumlah pengangguran di Indonesia tembus 9,77 juta orang pada Agustus 2020. Angka itu naik 2,67 juta orang dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Meskipun pandemi Covid-19 memberikan tekanan pada perekonomian global, nyatanya masih ada berkah terselubung (a blessing in disguise) dengan mulai meningkatnya kesadaran masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat jumlah investor pasar modal mencapai 7,5 juta per Desember 2021.     Jumlah ini meningkat 92,7 persen dari posisi 2020 dimana saat itu investor pasar modal berjumlah 3,88 juta orang. Peningkatan jumlah investor ini didorong oleh semakin banyaknya platform digital yang memudahkan semua pihak untuk berinvestasi.

Baca Juga :  Tips di Transportasi Umum saat Corona Menular Lewat Udara

Sayangnya, masih banyak ditemui platform investasi yang ilegal. Masih banyak pula investasi bodong yang merugikan masyarakat. SWI mencatat setidaknya ada 390 kegiatan investasi ilegal dan 1.200 financial technology (fintech) bodong yang ditutup sepanjang Januari 2020 sampai Februari 2021. Sementara kerugian yang muncul dari investasi bodong ini mencapai Rp 114,9 triliun pada periode 2011-2020, tentu bukan jumlah yang sedikit.

Studi secara keilmuan, menyebutkan bahwa keinginan untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya ketika berinvestasi ini sedikit banyak dipengaruhi oleh faktor psikologi. Studi yang mempelajari bagaimana ilmu psikologi mempengaruhi ilmu keuangan adalah perilaku keuangan (behaviour finance). 

Shefrin (2000) mendefinisikan behaviour finance adalah studi yang mempelajari bagaimana fenomena psikologi mempengaruhi tingkah laku keuangannya. Kembali lagi bahwa diperlukan kendali perilaku bagi setiap individu, khususnya ketika ingin mulai masuk ke instrument investasi. Tidak hanya menggunakan faktor psikologi untuk menentukan instrument investasi, tiap individu harus mengukur estimasi, risiko dan prospek atas instrument investasi yang dipilih.

Dalam berinvestasi, generasi muda harus memperhatikan aspek 2L, yaitu Legal dan Logis. Arti legal di sini adalah, pastikan izin yang dimiliki lembaga investasi maupun manajer investasi yang mengelola portofolio investasi telah terdaftar dan jelas. Untuk menghimpun dana dari masyarakat terutama dalam skala yang sangat besar, perusahaan investasi perlu izin khusus dari pemerintah.          Apabila perusahaan investasi tidak terdaftar dan tidak memiliki izin dari OJK, sebaiknya hindari untuk berinvestasi di sana. Sementara jika perusahaan tersebut menawarkan investasi berjangka atau komoditi, maka sebaiknya calon investor mengecek izinnya di BAPPEBTI. Jika perusahaan investasi tersebut tidak terdaftar dan tidak memiliki izin, sebaiknya hindari pula untuk berinvestasi di perusahaan tersebut.

Baca Juga :  5 Cara Agar Makeup Tak Mudah Luntur

Berikutnya adalah aspek logis. Pastikan bahwa return investasi adalah wajar. Semakin tinggi return yang ditawarkan kepada calon investor, maka risiko dari investasi tersebut juga semakin tinggi. Apabila perusahaan investasi menawarkan return yang sangat tinggi, sebaiknya perlu diwaspadai jika ingin berinvestasi pada perusahaan investasi tersebut.

Kemampuan mengelola keuangan termasuk menentukan pilihan investasi memang bukan hal yang mudah. Diperlukan pengetahuan yang mendalam dan kemauan untuk terus belajar terkait investasi. Diperlukan juga informasi yang lengkap terkait dengan perusahaan-perusahaan penyedia jasa investasi maupun platform untuk berinvestasi.

Pemahaman terkait literasi keuangan yang baik juga diharapkan menjadi solusi dalam menyaring berbagai efek negatif dari perkembangan teknologi informasi dalam berinvestasi. Diharapkan masyarakat semakin sadar bagaimana cara mengelola keuangan, bisa memperoleh untung, alih-alih menjadi buntung.(*)

artikel Pilihan