Langgar Kebijakan Privasi di Amerika Serikat, TikTok Pilih Bayar Denda

NewMalangPos-TikTok dilaporkan telah setuju untuk membayar $ 92 juta atau setara dengan Rp 1,5 triliun untuk menyelesaikan gugatan yang menuduhnya menyalahgunakan kecerdasan buatan untuk melacak dan menyimpan data pengguna.

Sebuah asosiasi gugatan komunitas menuduhnya melanggar hukum dengan menggunakan perangkat lunak untuk mengenali fitur wajah dalam video pengguna dan algoritme untuk mengidentifikasi usia, jenis kelamin, dan etnis penggunanya. Komunitas itu juga menduga data pengguna yang diperoleh dari sistem kecerdasan buatan itu telah dikirim ke China untuk kemudian digunakan untuk melacak dan membuat profil pengguna untuk tujuan penargetan iklan.

Baca Juga :  Cegah Depresi dan Bunuh Diri, Jepang Tunjuk Menteri Kesepian

Namun, TikTok tetap membantah melakukan kesalahan meskipun mengatakan ingin menghindari kasus pengadilan.

Melansir dari bbc.com TikTok mengatakan bahwa pihaknya tidak ingin terlibat lebih jauh dengan masalah hukum dan memilih untuk tetap mengembangkan sistem ini, “Meskipun kami tidak setuju dengan pernyataan tersebut, daripada melalui proses pengadilan yang panjang, kami ingin memfokuskan upaya kami untuk membangun pengalaman yang aman dan menyenangkan bagi komunitas TikTok.”

Jika penyelesaian dan solusi ini disetujui oleh hakim federal, uang denda itu akan dibagi kepada para pengguna TikTok yang berdomisili di Amerika Serikat. Kasus ini disidangkan di Illinois, yang memiliki undang-undang ketat seputar penggunaan biometrik.

Baca Juga :  Trump Tandatangani UU Sanksi China, Tiongkok Bersumpah Balas

Ray Walsh, pakar privasi digital di penyedia jaringan pribadi virtual ProPrivacy memberikan pernyataan yang berkaitan dengan hal ini; “TikTok telah memilih untuk membayar penyelesaian besar-besaran dalam kasus privasi ini menunjukkan bahwa ia tahu itu tidak akan menang,” ungkapnya

“Jelas bahwa TikTok memiliki uang untuk melawan kasus ini, namun ia memilih untuk membayar dalam jumlah besar agar kasusnya cepat selesai dan hilang. Pemilik aplikasi China, ByteDance, jelas merasa lebih baik memotong kerugiannya, daripada mendapatkan lebih banyak tekanan buruk di masa mendatang.” (bbc/mg3/nda/nmp)